Headlines
Loading...
Generasi Muda dalam Ancaman Hedonisme Gaya Baru

Generasi Muda dalam Ancaman Hedonisme Gaya Baru

Oleh: Aqila Fahru
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com—Generasi muda Indonesia saat ini menghadapi ancaman hedonisme gaya baru yang lahir dari kombinasi tekanan ekonomi, penetrasi teknologi digital, serta dominasi nilai-nilai materialistik dalam kehidupan sosial.

Ancaman ini bekerja secara senyap, tetapi sistemik. Algoritma kapitalistik yang menguasai ruang digital menjadikan anak muda sebagai target pasar utama. Dengan memetakan perilaku pengguna, algoritma tersebut mampu menargetkan iklan secara presisi, termasuk iklan berbahaya seperti judi online dan pinjaman online.

Kondisi ini semakin mengkhawatirkan karena anak muda dengan keterbatasan ekonomi menjadi kelompok paling rentan. Mereka mudah tergoda oleh tawaran instan yang seolah-olah memberikan solusi cepat atas kebutuhan finansial maupun gaya hidup.

Data Otoritas Jasa Keuangan mencatat bahwa outstanding pinjaman online mencapai Rp75,44 triliun per Maret 2025, dengan kredit macet sebesar Rp1,65 triliun. Mayoritas peminjam berasal dari kelompok usia 19 hingga 34 tahun (finance.detik.com, 20/06/2025). Bahkan, laporan lain menunjukkan bahwa kredit macet generasi Z melonjak hingga 763 persen pada Juni 2025, terutama pada kelompok usia di bawah 19 tahun (bisnis.com, 26/11/2025).

Survei juga mengungkapkan bahwa 42 persen generasi Z menggunakan pinjaman online bukan untuk kebutuhan mendesak, melainkan untuk hiburan dan gaya hidup (idscore.id, 19/12/2025). Fakta-fakta ini menegaskan bahwa akar persoalan bukan semata ruang digital atau algoritma, melainkan himpitan ekonomi dalam sistem kapitalisme yang gagal menjamin kesejahteraan dan stabilitas generasi muda.

Dalam situasi ini, negara tampak belum mampu melindungi generasi muda secara efektif. Nilai-nilai sekuler dan materialistik yang mendominasi sistem pendidikan serta lingkungan sosial membuat anak muda tumbuh dengan standar hidup berbasis keuntungan materi, bukan halal dan haram.

Akibatnya, mereka rentan terhadap perilaku spekulatif, konsumtif, dan berisiko tinggi. Ruang digital yang dikuasai logika pasar semakin memperburuk keadaan karena algoritma bekerja mengikuti kebiasaan pengguna, bukan demi keselamatan mereka. Konten berbahaya justru semakin sering dimunculkan demi mengejar keuntungan tanpa batas, sehingga normalisasi perilaku berisiko kian menguat di kalangan anak muda.

Hedonisme gaya baru ini tidak lagi terbatas pada konsumsi barang mewah, tetapi juga tampak pada kebiasaan mencari kepuasan instan melalui pinjaman online, hiburan digital, bahkan perjudian online.

Islam menawarkan solusi yang lebih mendasar dan sistemik dalam menghadapi ancaman tersebut. Sistem ekonomi Islam menjamin kesejahteraan individu per individu sehingga generasi tidak terdorong mencari jalan pintas yang merusak. Pendidikan Islam membentuk kepribadian yang kokoh dengan menjadikan halal dan haram sebagai standar utama dalam setiap tindakan, bukan tekanan gaya hidup atau godaan materi.

Infrastruktur digital dalam negara yang menerapkan syariat dibangun di atas paradigma Islam. Dengan demikian, algoritma, konten, dan ekosistem digital diarahkan untuk menjaga akhlak serta melindungi masyarakat dari kriminalitas dan normalisasi maksiat.

Pada akhirnya, generasi Muslim perlu memahami identitasnya sebagai pembangun peradaban. Mereka harus memperkuat diri melalui pembinaan Islam dan terlibat aktif dalam aktivitas dakwah bersama kelompok dakwah Islam ideologis agar mampu melawan arus kapitalisme digital yang menjadikan manusia sekadar komoditas.

Dengan kesadaran ini, generasi muda tidak hanya mampu bertahan dari ancaman hedonisme gaya baru, tetapi juga berperan aktif membangun masyarakat berlandaskan nilai-nilai Islam. Mereka bukan lagi sekadar konsumen dalam sistem kapitalis, melainkan manusia yang dimuliakan dan berkontribusi nyata bagi peradaban. [US/Des]

Baca juga:

0 Comments: