Gagalnya Diplomasi Dunia: Mengapa Palestina Masih Terjajah?
Oleh: Yanti Fariidah
(Founder Rumah Pintar ZR Magelang)
SSCQMedia.Com — Jika kita membuka media sosial atau menonton berita di awal tahun 2026 ini, rasanya dada sesak melihat pemandangan yang itu-itu saja: reruntuhan, tangisan, dan suara ambulans di Palestina. Sudah lebih dari setahun dunia berjanji akan menghentikan genosida, tetapi faktanya harapan pembebasan justru semakin menjauh. Kita dipaksa menyaksikan bagaimana sebuah skenario besar seolah sedang dimainkan untuk menghapus Palestina dari peta dunia.
Janji-janji gencatan senjata yang selama ini didengungkan ternyata hanya menjadi “obat penenang” sementara. Di balik itu, tersimpan konspirasi yang jauh lebih gelap.
Lapangan yang Terus Dicaplok
Fakta yang tak terbantahkan, Israel tidak pernah benar-benar berniat berhenti. Alih-alih meredam serangan, mereka justru semakin brutal mencaplok tanah-tanah milik warga. Mengutip laporan Antara News pada 3 Januari 2026, dunia sempat bersuara melalui kecaman Chile atas langkah Israel yang meresmikan 19 permukiman baru di Tepi Barat. Ini bukan sekadar pembangunan rumah, melainkan upaya memutus jalur-jalur kehidupan warga Palestina agar mereka tidak lagi memiliki wilayah yang utuh.
Teror tidak hanya datang melalui kebijakan resmi, tetapi juga dari para pemukim ilegal. Berdasarkan pemberitaan CNN Indonesia pada 26 Desember 2025, para pemukim ilegal menyerang warga Tepi Barat hingga mencuri 150 ekor domba milik penduduk setempat.
Di saat dunia sibuk berunding di gedung-gedung mewah, warga Palestina harus berjuang sendirian mempertahankan nyawa dan harta mereka dari para penjarah. Bahkan, Israel mulai mencari dukungan di Afrika melalui pengakuan wilayah Somaliland, sebagaimana diberitakan Antara News pada 3 Januari 2026, yang langsung dikecam oleh OKI. Fakta-fakta ini menunjukkan satu hal: diplomasi internasional yang ada saat ini mandul.
Diplomasi Hanya Menjadi Kedok Konspirasi
Kita patut bertanya, mengapa diplomasi ini gagal? Sebab, solusi seperti “Dua Negara” atau “20 Poin Trump” sejatinya hanyalah konspirasi jahat untuk mengunci Palestina dalam ketidakberdayaan. Gencatan senjata yang sering digaungkan tidak lebih dari taktik untuk mengatur napas dan menyusun strategi serangan baru.
Zionis Israel menunjukkan arogansi yang luar biasa. Mereka merasa sebagai penguasa dunia yang tidak perlu patuh pada hukum apa pun. Mereka juga paham bahwa lembaga internasional seperti PBB tidak memiliki keberanian untuk menghentikan kejahatan mereka.
Kembali ke Jalur Syariat
Kita harus menyadari bahwa arogansi Zionis tidak akan pernah dibungkam dengan tinta di atas kertas. Mereka hanya memahami bahasa kekuatan. Dalam Islam, ketika sebuah negeri Muslim diserang dan dijajah, solusinya bukan berunding dengan penjajah, melainkan melakukan pembelaan fisik yang nyata. Adapun langkah-langkah tersebut meliputi:
Pertama, jihad.
Jihad merupakan satu-satunya bahasa yang mereka pahami. Selama ini umat diarahkan untuk percaya pada meja perundingan, padahal Allah SWT telah memerintahkan untuk melawan kezaliman secara nyata. Allah SWT berfirman:
“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi janganlah kamu melampaui batas...”
(QS. Al-Baqarah: 190)
Jihad bukan sekadar istilah, melainkan mekanisme pertahanan dalam Islam untuk menghentikan genosida dan mengusir penjajah dari tanah suci umat Islam. Tanpa kekuatan militer yang dikerahkan secara terorganisasi, penjajahan ini hanya akan menjadi drama tahunan tanpa akhir.
Kedua, Khil4fah sebagai institusi pelindung dan pemersatu umat.
Masalah utama Palestina adalah ketiadaan perisai (junnah) yang menyatukan kekuatan seluruh negeri Muslim. Saat ini, negeri-negeri Muslim terpecah oleh sekat nasionalisme, sehingga hanya mampu menyaksikan saudara-saudara mereka dibantai.
Islam mewajibkan adanya satu kepemimpinan politik global (Khil4fah) yang akan memobilisasi kekuatan untuk membebaskan Palestina. Rasulullah saw. bersabda:
“Sesungguhnya seorang imam (pemimpin atau khalifah) itu adalah perisai. Orang-orang akan berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.”
(HR. Muslim)
Tanpa perisai ini, umat Islam seperti anak yatim di kancah dunia: memiliki kekayaan alam dan jumlah penduduk yang besar, tetapi tidak memiliki kekuatan untuk melindungi diri sendiri.
Ketiga, memutus loyalitas (wala’) kepada penjajah.
Umat Islam harus berhenti menggantungkan harapan pada Amerika, PBB, atau sekutu-sekutu Israel lainnya. Menaruh harapan kepada mereka merupakan bentuk loyalitas yang keliru kepada pihak yang mendukung penghancuran Islam.
Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Syakhshiyah Islamiyah, memberikan loyalitas kepada kafir harbi yang memerangi Islam adalah haram. Allah SWT menegaskan:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpinmu. Mereka saling melindungi satu sama lain. Barang siapa di antara kamu menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka...”
(QS. Al-Ma’idah: 51)
Jalan Pulang ke Marwah Umat
Sudah saatnya umat berhenti mempercayai ilusi perdamaian yang ditawarkan penjajah dan sistem internasional yang penuh standar ganda. Diplomasi telah mati di Gaza. Kini waktunya umat kembali pada jati dirinya.
Pembebasan Palestina tidak dimulai dari lobi-lobi diplomatik, melainkan dari kesadaran umat untuk kembali menerapkan aturan Allah secara menyeluruh, menegakkan kembali institusi Khil4fah, dan menyatukan kekuatan di bawah satu komando jihad. Hanya dengan cara itulah kemuliaan Islam akan kembali dan tanah Palestina benar-benar merdeka secara mutlak.
[MA/En]
Baca juga:
0 Comments: