Headlines
Loading...

Judul Buku: Aisyah, Ibu dan Guru Umat Muslim
Penulis: Abdul Hamid Thahmuz
Penerbit: Fathan Media Prima
Tahun Terbit: 2018
Tebal: 208 halaman
Peresensi: Maslina Pasaribu


SSCQMedia.Com—Pada bagian mukadimah, penulis mengungkapkan bahwa penulisan buku tentang sosok Sayyidah Aisyah bukanlah perkara mudah. Referensi yang membahas kehidupan beliau secara utuh terbilang langka dan tersebar. Oleh karena itu, penulis menempuh metode ilmiah yang ketat dengan mengikuti kaidah para ulama hadis, mengkaji kitab-kitab musnad, serta menelusuri riwayat yang terdapat dalam berbagai kitab induk hadis. 

Setelah menghimpun data dan meneliti riwayat sejarah kehidupan Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha, buku ini akhirnya dapat disajikan secara komprehensif.

Buku ini dibagi ke dalam empat bagian besar.

Bab pertama mengkaji kehidupan Aisyah sebelum tinggal di rumah Nabi Muhammad saw.

Bab kedua membahas kehidupan Aisyah setelah tinggal bersama Rasulullah saw.

Bab ketiga mengulas kehidupan Aisyah setelah wafatnya Rasulullah saw., termasuk relasinya dengan para khalifah pada masa Khulafaur Rasyidin.

Bab keempat merupakan bagian khusus yang menjelaskan kedudukan pribadi Sayyidah Aisyah yang tinggi, sisi keilmuannya, status sosialnya, serta perjuangannya dalam memoderasi peran perempuan dan mengangkat martabatnya dari praktik kezaliman pada masa jahiliah.

Buku ini tidak sekadar menyajikan biografi Aisyah, tetapi menghadirkan sosok beliau sebagai figur multidimensi, yakni sebagai istri Rasulullah, ilmuwan yang menjadi rujukan para sahabat setelah wafatnya Nabi, serta teladan bagi para ibu dan perempuan sepanjang zaman.

Ringkasan Isi

Pertama, kehidupan Aisyah setelah menikah dengan Rasulullah saw. Meski menikah pada usia yang masih belia, Aisyah menunjukkan karakter penuh tanggung jawab dalam menerima sisi manusiawi Rasulullah dalam kehidupan rumah tangga. Kecerdasannya membuat Aisyah mampu menyerap secara detail perilaku, ucapan, serta ketetapan hukum Rasulullah saw.

Kedua, konsep madrasah ula. Aisyah mendorong para ibu agar tidak membiarkan anak-anak mereka buta huruf. Beliau menekankan pentingnya mengajarkan Al-Qur’an, syair atau sastra, serta sejarah bangsa agar anak memiliki karakter yang kuat. Aisyah menghadirkan kurikulum kehidupan bagi para ibu yang mencakup aspek spiritual, intelektual, hingga kesehatan rumah tangga.

Ketiga, masa setelah wafatnya Rasulullah saw. Peran sosial dan politik Aisyah pada masa Khulafaur Rasyidin menunjukkan keberanian dalam bersikap, namun tetap berada dalam koridor ketakwaan dan prinsip syariat.

Keempat, ketegasan sikap Sayyidah Aisyah. Dalam buku ini dikutip pernyataan,
“Sayyidah Aisyah selalu menekankan bahwa pakaian perempuan hendaklah menutup dari pandangan laki-laki asing. Jika ia melihat pakaian yang tipis pada salah seorang perempuan, maka ia akan memarahi dan segera merobeknya.” (hlm. 70)

Analisis Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan buku ini antara lain, pertama, gaya bahasanya mengalir. Meski berbasis data sejarah yang kuat, penulis mampu menyajikan narasi secara luwes sehingga pembaca seakan membaca kisah penuh hikmah dan ilmu.

Kedua, buku ini menekankan pendidikan karakter dengan menonjolkan nilai kejujuran, kerja keras, dan tanggung jawab sosial.

Ketiga, buku ini menjadi sumber inspirasi bagi perempuan. Penulis berhasil mematahkan stigma bahwa perempuan dalam Islam dibatasi ruang gerak intelektualnya. Sayyidah Aisyah dihadirkan sebagai bukti bahwa perempuan mampu mencapai puncak keilmuan dan cita-cita.

Adapun kekurangannya terletak pada gaya bahasa yang merupakan hasil terjemahan dari teks Arab, sehingga pada beberapa bagian terdapat struktur kalimat yang kurang mudah dipahami.

Rekomendasi

Buku ini sangat direkomendasikan bagi pelajar, mahasiswa, masyarakat umum, serta para orang tua yang ingin meneladani figur perempuan yang cerdas, kritis, dan bertakwa.

Penutup

Melalui buku karya Abdul Hamid Thahmuz ini, semakin jelas bahwa Sayyidah Aisyah bukan hanya simbol kekuatan intelektual perempuan dalam Islam. Beliau menjadi cermin bagi muslimah modern bahwa kecerdasan dan ketaatan dapat berjalan beriringan.

Melalui sosok Sayyidah Aisyah, sejarah mencatat bahwa pena dan lisan seorang perempuan mampu menjadi benteng pertahanan akidah yang kokoh. Aisyah membuktikan bahwa menjadi istri yang penuh cinta tidak menghalangi seseorang untuk menjadi ulama besar yang disegani para pemimpin lelaki. 

Sibolga, 17 Januari 2026

[Ni/EKD]

Baca juga:

0 Comments: