Headlines
Loading...
Ruang Digital di Bawah Kapitalisme, Mesin Perusak Generasi

Ruang Digital di Bawah Kapitalisme, Mesin Perusak Generasi

Oleh: Istiana Ayu S. R.
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com—Remaja di era digital semakin dekat dengan gawai dan media sosial. Banyak di antara mereka menghabiskan waktu berjam-jam untuk scrolling, mengikuti tren, dan mengonsumsi berbagai konten tanpa menyadari dampaknya terhadap mental dan akhlak.

Data dari Kementerian PPPA menunjukkan bahwa 64 persen anak Indonesia pernah terpapar konten pornografi secara tidak sengaja (KPPA, 7 Juni 2024). Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi alarm keras bahwa benteng moral generasi sudah bocor parah.

Belum lagi maraknya judi online. Jumlah korbannya mencapai 4,7 juta pengguna dengan nilai transaksi mencapai 327 triliun rupiah (Kemenko Polhukam, 19 Agustus 2024). Bagaimana masa depan bangsa dapat diselamatkan jika anak-anak telah akrab dengan judi dan konten pornografi sejak usia sekolah?

Penelitian Social Media Use and Depressive Symptoms During Early Adolescence menunjukkan bahwa peningkatan penggunaan media sosial berkorelasi dengan meningkatnya gejala depresi pada remaja setahun berikutnya (JAMA Network, 21 Mei 2025).

Penelitian lain dari Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (25 Maret 2025) menemukan bahwa intensitas penggunaan media sosial yang tinggi dapat meningkatkan risiko stres, kecemasan, dan penurunan kesehatan mental remaja. Ini membuktikan bahwa kerusakan generasi akibat paparan konten digital bukan sekadar opini, tetapi ancaman nyata.

Fenomena ini semakin parah karena industri digital dikuasai sistem kapitalisme dan liberalisme. Kapitalisme menjadikan konten sebagai komoditas ekonomi yang harus menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya. Akibatnya, konten vulgar, hedonis, sensasional, dan kontroversial sengaja diproduksi karena memiliki nilai jual tinggi.

Liberalismelah yang mengampanyekan kebebasan tanpa batas sehingga normalisasi pornografi, pergaulan bebas, LGBTQ, dan gaya hidup bebas dianggap sebagai hak berekspresi. Kombinasi dua ideologi ini melemahkan identitas dan akhlak generasi. Mereka terdorong mengejar validasi, ketenaran, dan kesenangan instan, bukan kebaikan dan ketakwaan.

Islam telah memperingatkan bahaya kerusakan moral ini. Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...”
(QS. At Tahrim: 6)

Ayat ini menegaskan bahwa penjagaan generasi adalah kewajiban bersama, bukan sekadar tanggung jawab individu.

Solusi tidak cukup hanya dengan edukasi digital atau pengawasan gawai, karena persoalannya bukan teknis, tetapi sistemik. Islam kaffah hadir sebagai solusi total yang bukan hanya membentengi individu, tetapi juga mengatur media dan ruang digital.

Pertama, Islam membangun individu berkepribadian Islam (syakhshiyah islamiyah).

Akidah menjadi dasar berpikir dan berperilaku, bukan standar viral atau populer. Dengan iman dan akhlak yang kuat, remaja mampu menolak konten merusak meski berada di depan mata. Pendidikan Islam membiasakan ibadah, kesadaran murakabah, dan tanggung jawab sosial.

Kedua, Islam membangun masyarakat yang amar maruf nahi munkar.

Lingkungan sosial Islami mendorong kebaikan dan mencegah kemaksiatan. Konten positif, dakwah, dan literasi Islam diperkuat, sementara konten merusak dicegah. Masyarakat tidak bersikap acuh, tetapi saling menjaga dan mendukung perbaikan moral generasi.

Ketiga, Islam mengatur media dan informasi melalui aturan syariat.

Negara dalam sistem Islam wajib melindungi akhlak dan pemikiran rakyat. Industri digital tidak dibiarkan mengikuti logika pasar kapitalis. Konten pornografi, kekerasan, hedonisme, propaganda liberal, serta segala yang merusak moral wajib dicegah. Media diarahkan untuk edukasi, dakwah, dan pembentukan karakter umat.

Keempat, Islam menyediakan alternatif kehidupan dan budaya yang sehat.

Islam mendorong aktivitas produktif seperti ilmu, kreativitas, olahraga, riset, ukhuwah, dan kontribusi sosial. Generasi dibina untuk menjadi pemimpin peradaban, bukan sekadar konsumen hiburan.

Jika solusi hanya sebatas “kurangi screen time” atau “atur penggunaan gadget”, maka masalah tidak akan selesai. Akar kerusakan berasal dari sistem kapitalisme dan liberalisme yang merusak nilai dan moral. Solusi sejati adalah kembali kepada Islam secara kaffah agar kehidupan, media, pendidikan, dan budaya berdiri di atas ketakwaan, bukan profit dan kebebasan tanpa batas.

Islam akan menjadikan teknologi sebagai sarana dakwah dan kebaikan. Namun selama umat berjalan dalam sistem sekuler yang memproduksi konten merusak, generasi akan terus dilemahkan dan masa depan umat terancam. Sudah saatnya kita berjuang menyelamatkan generasi dengan menjadikan Islam sebagai satu-satunya jalan kehidupan. [Rn]

Baca juga:

0 Comments: