Headlines
Loading...
Penjajah Baru Bernama Hegemoni Digital

Penjajah Baru Bernama Hegemoni Digital

Oleh: Verawati, S.Pd
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com—Hegemoni media digital merupakan proses ketika nilai-nilai dan cara berpikir tertentu yang disebarkan melalui media massa menjadi dominan dalam masyarakat. Kondisi ini kerap dipahami sebagai penguat sistem kapitalisme (Wikipedia). Artinya, media hari ini, baik televisi maupun media sosial, telah bertransformasi menjadi alat penjajahan baru bagi kapitalisme.

Media sejatinya tidak pernah bebas nilai. Melalui berbagai platform digital, media menjadi corong penyebaran nilai-nilai kapitalisme, sekularisme, individualisme, serta paham-paham lain yang bertentangan dengan Islam. Penjajahan ini tidak hadir dalam bentuk kekerasan fisik, melainkan melalui penguasaan cara berpikir dan gaya hidup manusia.

Hegemoni digital bekerja dengan sangat halus, bahkan sering kali disukai. Platform digital seolah menawarkan kebebasan, kenyamanan, dan layanan yang personal. Padahal, di ruang digital itulah manusia sedang dijajah. Algoritma bekerja membaca perilaku pengguna, mulai dari apa yang ditonton, dicari, hingga disukai. Dari data tersebut, sistem terus menyodorkan konten serupa, seakan mengetahui isi pikiran dan hati manusia. Baru membuka media sosial, iklan, tayangan hiburan, dan toko belanja langsung bermunculan.

Bayangkan ketika seseorang pernah mengakses konten pornografi, maka konten sejenis akan terus muncul dan menjeratnya dalam lingkaran kecanduan. Hal serupa terjadi pada game online dan judi daring. Kecanduan demi kecanduan pun tak terelakkan. Lalu, bagaimana jadinya jika kondisi ini menimpa generasi bangsa?

Hari ini, penjajahan tidak lagi dilakukan dengan senjata, melainkan melalui gawai yang kita genggam sendiri. Viral menjadi target banyak pihak, dan ketika sesuatu viral, massa pun ikut hanyut dalam arus. Pola hidup perlahan berubah. Jika dahulu bangun tidur diawali dengan wudu, kini banyak orang bangun tidur langsung membuka ponsel. Anak-anak sibuk bermain gawai, hidup di dunia maya, tetapi asing di dunia nyata.

Lebih menyedihkan lagi, banyak anak dan remaja mengalami kesulitan berinteraksi secara langsung. Mereka canggung berbicara, merasa kesepian, bahkan di ruang makan keluarga pun masing-masing sibuk dengan ponsel. Inilah dampak nyata hegemoni digital yang perlahan merusak relasi sosial dan spiritual manusia.

Sejatinya, media digital tidak bersifat netral. Setiap konten, baik hiburan, informasi, maupun platform, selalu membawa nilai dan ideologi tertentu. Fakta menunjukkan bahwa hanya segelintir elite kapitalis yang menguasai media. Kekuasaan tersebut digunakan untuk membentuk opini publik dan menentukan arah politik. Kandidat politik yang sering tampil di media memiliki peluang besar untuk menang. Inilah bukti kuat pengaruh media dalam mengendalikan masyarakat.

Bahaya terbesar dari hegemoni digital adalah dampaknya terhadap generasi. Kehidupan mereka mudah diarahkan oleh algoritma. Identitas Muslim dilemahkan melalui narasi yang mengarusutamakan sekularisme dan gaya hidup Barat. Hegemoni ini tampak dalam tiga bentuk. Pertama, hegemoni budaya melalui tren dan konten selebritas. Kedua, hegemoni perilaku melalui kebiasaan menggulir layar, belanja, dan hiburan. Ketiga, hegemoni spiritual yang melalaikan manusia dari akhirat.

Semua itu dibungkus seolah-olah sebagai hiburan yang netral, padahal sarat dengan nilai Barat dan menjauhkan umat dari Islam.

Generasi muda menjadi sasaran utama karena mereka merupakan pasar terbesar dunia digital. Mereka memiliki kemampuan teknologi, tetapi belum dibekali kemampuan berpikir kritis yang memadai oleh keluarga, sekolah, dan negara. Konten yang dikonsumsi secara terus-menerus akan menjadi tabungan informasi yang membentuk cara pandang hidup mereka.

Oleh karena itu, generasi muda membutuhkan benteng yang kokoh, yaitu keimanan. Keimanan harus dibangun melalui proses berpikir yang jernih dan mendalam agar mampu menahan derasnya arus digital. Pemuda juga harus tumbuh sebagai pribadi yang kritis dan menjadi agen perubahan.

Pemuda merupakan fase terkuat dalam kehidupan manusia. Masa depan bangsa sangat bergantung pada kondisi pemudanya hari ini. Jika pemuda rusak, bangsa pun akan lemah. Allah Swt. memperingatkan agar manusia tidak meninggalkan generasi yang lemah, sebagaimana firman-Nya dalam Surah An-Nisa ayat 9.

Langkah mendesak saat ini adalah menyelamatkan generasi dari jerat kecanduan digital, judi online, dan kejahatan siber. Teknologi memang tidak bisa dihindari, tetapi harus diarahkan. Benteng utamanya adalah keimanan yang melahirkan cara pandang Islam.

Dalam Islam, dunia adalah sarana ibadah. Media digital seharusnya dimanfaatkan untuk dakwah dan kebaikan, bukan dijadikan tujuan kebahagiaan. Kebahagiaan sejati adalah ketika setiap aktivitas bernilai ibadah dan mendapatkan rida Allah Swt.

Mengokohkan keimanan membutuhkan sinergi keluarga, masyarakat, dan kekuatan politik. Dakwah adalah jalan perubahan. Ketika pemuda, ulama, dan umat bersatu dalam barisan dakwah, bukan hal mustahil syariat Islam akan tegak secara menyeluruh dalam naungan Khilafah Islamiyah. [US]


Baca juga:

0 Comments: