Headlines
Loading...
Mengembalikan Arah Aktivisme Gen-Z: Islam sebagai Arah Perubahan

Mengembalikan Arah Aktivisme Gen-Z: Islam sebagai Arah Perubahan

Oleh: H. Bonik Abdillah
(Aktivis Muslimah, Pegiat Literasi)

SSCQMedia.com—Generasi yang lahir di era teknologi tanpa batas bukanlah generasi yang tumbuh dalam kondisi mudah. Perubahan dunia yang sangat cepat serta pertaruhan nilai-nilai hidup melalui layar gawai setiap saat menjadikan Generasi Z tumbuh dalam ruang digital tanpa sekat. Mereka dikenal serba cepat, kritis, kreatif, inovatif, dan melek teknologi. Namun, di balik karakter fleksibel dan inovatif tersebut, Generasi Z justru menjadi generasi yang paling rentan mengalami krisis identitas, rapuh terhadap tekanan sosial, tantangan moral, budaya yang semakin liberal, narasi yang saling bertentangan, serta derasnya arus konten media sosial yang membingungkan arah hidup.

Survei global seperti Deloitte dan WHO mencatat bahwa Generasi Z merupakan kelompok dengan tingkat stres, depresi, dan kecemasan tertinggi. Paparan media sosial, tekanan pencitraan, serta ketidakpastian masa depan semakin memperburuk kondisi kesehatan mental mereka. Budaya liberal turut memengaruhi nilai moral, yang akhirnya diperlakukan layaknya menu pilihan, bukan sebagai standar kebenaran.

Survei APJII juga mengungkapkan bahwa Generasi Z, yang lahir pada rentang 1997 hingga 2012 dengan usia 12 hingga 27 tahun, merupakan kelompok paling dominan dalam penggunaan internet di Indonesia dengan kontribusi sebesar 25,54 persen dari total pengguna. Dominasi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan internet di Indonesia sangat dipengaruhi oleh generasi digital native, yaitu generasi yang tumbuh bersama teknologi (cloudcomputing.id, 12/08/2025).

Meski rentan mengalami disorientasi nilai, Generasi Z memiliki sisi positif yang besar. Mereka menunjukkan kepedulian tinggi terhadap isu Palestina, lingkungan hidup, kemiskinan, serta kesenjangan sosial. Hal ini menjadi potensi besar bagi perubahan. Banyak kampanye digital menjadi viral berkat peran mereka, mulai dari isu Palestina hingga isu hak asasi manusia di tingkat nasional.

Dari Tagar ke Peradaban: Tantangan Ideologis di Era Digital

Namun demikian, budaya instan, solusi cepat, dan narasi sederhana membentuk pola pikir reaktif, bukan solusi yang mendasar. Akibatnya, pemahaman terhadap isu ideologis menjadi dangkal. Aktivisme digital memang mampu membangun kesadaran publik, tetapi sering kali bersifat emosional, tidak berlandaskan konsep yang kokoh, cepat viral namun juga cepat hilang, serta tidak menyentuh akar persoalan sistemik, khususnya yang berkaitan dengan kapitalisme global. Bahkan, sebagian aktivisme berhenti pada popularitas tagar tanpa berlanjut pada aksi nyata perubahan peradaban.

Era digital menjadi alat bermata dua. Di satu sisi, ia mampu menumbuhkan kesadaran umat terhadap isu Palestina, kezaliman global, dan kritik terhadap kapitalisme. Namun di sisi lain, era digital juga menjadi sarana propaganda Barat untuk menyebarkan liberalisme dan menjauhkan pemuda dari Islam sebagai ideologi kehidupan.

Ketika digitalisasi menjadikan aktivisme sebagai arena pertarungan narasi, Generasi Z sangat membutuhkan arah ideologis yang jelas. Dalam Islam, pemuda adalah agen perubahan. Sejarah mencatat peran pemuda seperti Ali bin Abi Thalib, Mus’ab bin Umair, dan Asma’ binti Abu Bakar yang menjadi garda terdepan dakwah Islam. Mereka bergerak membawa risalah, bukan sekadar mengekspresikan keresahan sosial. Tanpa arah ideologis yang benar, aktivisme Generasi Z sangat mudah diarahkan oleh kepentingan kaum kufar.

Islam Mengembalikan Arah Aktivisme Generasi

Generasi Z hari ini berada di persimpangan jalan peradaban, antara mengikuti arus peradaban Barat yang sekuler atau bangkit sebagai agen perubahan menuju kemuliaan peradaban Islam. Sebagai generasi pelopor peradaban, mereka perlu dibekali pemahaman Islam sebagai ideologi. Melalui literasi ideologis berbasis Islam, pemuda diharapkan mampu memahami konsep kepemimpinan, sistem politik, ekonomi, dan sosial dalam Islam, serta menyadari perannya sebagai umat yang menjalankan amar makruf nahi mungkar. Dengan pemahaman ini, aktivisme menjadi terarah dan memiliki tujuan yang jelas.

Era digital harus dimanfaatkan secara optimal sebagai sarana dakwah dan perubahan. Penyebaran konten pemikiran Islam, pembongkaran propaganda liberal, pembangunan jejaring aktivis Islam lintas daerah, serta penghidupan diskusi publik tentang solusi Islam bagi persoalan bangsa merupakan bagian dari perjuangan. Aktivisme digital tidak boleh berhenti sebagai ajang ekspresi atau pencitraan, melainkan menjadi media perjuangan peradaban.

Islam memberikan jati diri yang kokoh bagi Generasi Z. Akidah menjadi standar berpikir, syariah sebagai standar perilaku, dan ukhuwah sebagai fondasi hubungan sosial. Dengan identitas Islam yang kuat, pemuda tidak mudah terombang-ambing dalam arus digital yang merusak.

Islam juga menegaskan bahwa perubahan tidak cukup dilakukan melalui kampanye moral semata. Perubahan menuntut kesadaran politik Islam, penyadaran masyarakat akan rusaknya sistem kapitalisme, serta ajakan untuk menegakkan syariah Islam secara kaffah. Inilah aktivisme peradaban yang menawarkan kerangka perubahan sistemik.

Khatimah

Era digital memang membuka peluang besar bagi Generasi Z untuk menjadi generasi paling berpengaruh dalam sejarah. Namun, tanpa arah ideologis yang benar, energi besar tersebut justru dapat dimanfaatkan oleh ideologi asing dan menjauhkan mereka dari Islam.

Islam sebagai ideologi memberikan kerangka berpikir yang jernih, membangun identitas yang kokoh, serta mengarahkan aktivisme menuju perubahan hakiki. Dengan demikian, pemuda dapat tampil sebagai pionir kebangkitan umat.

Oleh karena itu, tantangan era digital harus dijawab dengan aktivisme ideologis berbasis Islam, yaitu aktivisme yang tidak hanya viral, tetapi mampu menggerakkan umat menuju tegaknya kehidupan Islam secara menyeluruh.

Wallahu a’lam bish-shawab. [Rn]

Baca juga:

0 Comments: