Oleh. Erna Kartika Dewi
(Kontributor SSCQMedia.Com)
Judul Buku: Mencari Surga di Telapak Kaki Ibu
Penulis: Abdul Wahid
Penerbit: Sabil
Tahun Terbit: 2015
Jumlah Halaman: 144 hlm
Peresensi: Erna Kartika Dewi
Membaca buku ini rasanya semakin membuat kecintaan kepada sosok "ibu" makin bertambah dan juga merasa bersyukur dan bangga menjadi seorang "ibu". Awal mula melihat buku ini di toko online dan seketika penasaran ingin memiliki. Sempat mencari-cari di toko buku Gramedia supaya bisa langsung dibaca tanpa harus menunggu pengiriman tapi ternyata tidak ada dan sulit sekali ditemukan. Setelah bergerilya cukup lama akhirnya bisa punya juga dan alhamdulillah bisa membacanya hingga selesai.
Buku Mencari Surga di Telapak Kaki Ibu karya Abdul Wahid adalah sebuah karya luar biasa yang mengajak kita semua sebagai pembaca menengok kembali hubungan paling dasar dalam kehidupan manusia yaitu hubungan antara anak dan ibu. Judulnya sendiri sudah mengandung pesan spiritual yang kuat, merujuk pada hadis Rasulullah saw. tentang kemuliaan ibu dan letak surga di bawah telapak kakinya.
Buku ini tidak sekadar menyampaikan dalil, tetapi mengajak kita merenung melalui kisah, nasihat, dan potret kehidupan sehari-hari yang dekat dengan realitas umat.
Sejak halaman awal, kita sebagai pembaca sudah diarahkan untuk menyadari bahwa sering kali manusia sibuk mencari kebahagiaan dan surga di tempat-tempat jauh, padahal kunci keberkahan hidup justru berada sangat dekat yakni pada rida seorang ibu.
Pembahasan buku dibuka dengan menggambarkan sosok ibu sebagai manusia paling tulus dalam mencintai. Ibu digambarkan bukan hanya sebagai perempuan yang melahirkan, tetapi sebagai pribadi yang mengorbankan jiwa, raga, waktu, dan perasaan tanpa pernah menuntut balasan. Kita semua diajak mengingat kembali masa kecil, masa ketika kita berada dalam pelukan ibu, doa-doa yang dipanjatkan dalam diam, dan pengorbanan yang sering luput dari perhatian anak-anaknya.
Selanjutnya, buku ini mulai menyinggung fakta dan realitas yang menyedihkan bahwa banyak anak yang tumbuh dewasa, berpendidikan tinggi, bahkan sukses secara materi, tetapi justru semakin jauh secara emosional dari ibunya.
Buku ini ditulis dengan bahasa yang sangat halus namun mengena, mengkritik sikap anak yang mudah membentak, mengabaikan panggilan ibu, atau merasa terganggu oleh nasihatnya. Semua disampaikan tanpa menghakimi, melainkan dengan ajakan untuk bercermin.
Di bagian tengah buku, berisi tentang pembahasan dengan nilai-nilai Islam. Ada ayat Al-Qur’an dan hadis Rasulullah saw. tentang kewajiban berbakti kepada orang tua, khususnya ibu.
Semua penjelasan disampaikan dengan bahasa sederhana sehingga mudah dipahami oleh pembaca awam. Pesan yang terus diulang adalah bahwa birrul walidain (berbakti kepada orang tua) bukan sekadar etika sosial, melainkan ibadah yang bernilai besar di sisi Allah.
Memasuki bagian selanjutnya, khususnya bagian pertengahan buku ini, emosi kita semakin diaduk-aduk karena mengangkat kisah-kisah nyata dan perumpamaan yang menyentuh hati, terutama tentang penyesalan anak-anak yang baru menyadari arti kehadiran ibunya setelah sang ibu tiada. Pada bagian ini, kita sebagai pembaca diajak merenung, betapa banyak kata maaf yang tak sempat terucap, betapa banyak pelukan yang tertunda, dan betapa sering doa ibu dianggap biasa padahal itulah sumber kekuatan hidup.
Penulis juga menekankan bahwa berbakti kepada ibu tidak selalu harus dengan hal besar. Senyum, tutur kata lembut, mendengarkan cerita ibu, membantu pekerjaan ringan, hingga mendoakan ibu dengan sungguh-sungguh adalah bentuk bakti yang sangat bernilai.
Buku ini seakan ingin mengatakan bahwa surga bukan dicapai dengan langkah yang rumit, melainkan dengan hati yang tunduk dan penuh hormat kepada ibu.
Dan pada bagian akhir buku ini, kita diajak dengan ajakan yang penuh kasih untuk jangan pernah menunda berbakti kepada ibu. Selama ibu masih hidup, masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri, meminta maaf, dan melayani dengan sepenuh hati.
Jika ibu telah tiada, pintu bakti masih terbuka melalui doa, sedekah atas namanya, dan menjaga nilai-nilai kebaikan yang diajarkan.
Yang paling menarik dari buku ini terletak pada kesederhanaan bahasanya dan kedalaman maknanya. Tidak menggunakan istilah berat atau narasi yang rumit, sehingga cocok dibaca oleh semua kalangan seperti remaja, orang tua, maupun pembaca umum. Gaya penulisannya begitu mengalir, menyentuh, dan sering kali membuat kita sebagai pembaca terdiam untuk merenung.
Selain itu, buku ini juga menggabungkan nilai spiritual Islam dengan realitas kehidupan sehari-hari. Pesannya tidak menggurui, tetapi mengajak dengan kelembutan, seperti nasihat seorang sahabat yang peduli.
Sebagai penutup dari keseluruhan isi buku, rasanya sebagai pembaca ingin sekali mengajak semua orang untuk membaca buku keren dan menarik ini.
Buku yang tidak seberapa tebal tetapi penuh makna.
Buku Mencari Surga di Telapak Kaki Ibu adalah buku yang mengingatkan kembali makna bakti yang sering terlupakan di tengah kesibukan hidup. Dari awal hingga akhir, buku ini menegaskan bahwa rida Allah sangat erat kaitannya dengan rida ibu. Buku ini bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk direnungkan dan diamalkan.
Bagi siapa pun yang ingin memperbaiki hubungan dengan ibunya, atau sekadar ingin menguatkan kembali kesadaran akan pentingnya berbakti, buku ini layak menjadi teman renungan. Karena mengajarkan bahwa surga bukan sesuatu yang jauh dan abstrak, melainkan bisa dimulai dari sikap sederhana kepada seorang ibu mulai hari ini, sebelum terlambat.
Bagian yang menjadi favorit di buku ini:
"Segala bentuk kebaikan yang diberikan oleh seorang anak kepada ibunya tidak akan pernah cukup apabila dibandingkan dengan kebaikan yang diperolehnya dari seorang ibu. Jika seorang anak mampu membeli segalanya dengan kekayaannya, maka ia tidak akan mampu membeli rasa sakit yang diderita ibunya sewaktu melahirkan." (Hal. 36).
Membaca buku ini berasa melihat surgaku yang ada di depan mata dan aku sedang berupaya untuk terus membahagiakannya semaksimal mungkin, semoga Allah senantiasa memudahkan dan mengabulkan jutaan doa yang kulangitkan untuk beliau. [An]
Baca juga:
0 Comments: