Oleh. Isma Adiba
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com - Istilah brain rot tidak lagi sekadar slang dunia maya, melainkan menggambarkan kondisi serius yang mengancam kemampuan berpikir generasi muda, khususnya Generasi Z. Sejumlah temuan menunjukkan melemahnya daya analisis dan nalar kritis akibat paparan konten digital yang berlebihan. Dominasi video berdurasi pendek, hiburan instan, serta interaksi digital yang terus-menerus membentuk pola pikir serba cepat, tetapi dangkal. Akibatnya, generasi muda semakin sulit fokus, lemah dalam mengurai persoalan secara komprehensif, serta kehilangan kemampuan menyusun pemikiran yang sistematis. Kondisi ini mencerminkan proses degradasi kognitif yang dipicu oleh konsumsi digital tanpa kendali.
Hal tersebut diperkuat oleh pernyataan Kristiana Siste Kurniasanti, pakar Neurosains dari RS Cipto Mangunkusumo, yang menyebutkan bahwa terdapat hipoaktivitas otak yang menyebabkan penurunan fungsi atau disfungsi akibat penggunaan internet berlebihan, seperti media sosial (Kompas.com, 16 April 2025).
Algoritma Kapitalistik dan Produksi Pola Pikir Dangkal
Fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari sistem digital yang dibangun di atas logika kapitalisme sekuler. Algoritma dirancang untuk mengejar keuntungan maksimal, bukan untuk mencerdaskan manusia. Kecepatan informasi mengalahkan akurasi, sementara popularitas menggeser kedalaman makna dan ilmu.
Dalam situasi ini, generasi muda tidak lagi diposisikan sebagai penggerak peradaban, melainkan sekadar komoditas pasar. Atensi mereka dieksploitasi melalui klik dan data, sementara kapasitas intelektual serta potensi kepemimpinan justru melemah. Padahal, kemajuan umat hanya dapat dicapai oleh generasi yang memiliki daya pikir tajam, kritis, dan visi peradaban yang jelas.
Islam dan Teknologi: Relasi yang Terarah
Islam tidak memusuhi teknologi, tetapi menempatkannya di bawah kendali nilai dan hukum syariat. Dalam pandangan Islam, teknologi adalah alat untuk mewujudkan kemaslahatan, bukan penguasa atas manusia.
Sejarah peradaban Islam, khususnya pada masa Abbasiyah, menunjukkan bagaimana institusi seperti Baitul Hikmah menjadi pusat pengembangan ilmu dan teknologi yang tetap berpijak pada akidah. Negara berperan aktif memastikan bahwa kemajuan sains melahirkan generasi berilmu, beriman, dan bertanggung jawab, bukan generasi yang terputus dari tujuan hidupnya.
Strategi Pembinaan Generasi: Pendekatan Menyeluruh
Menghadapi krisis nalar ini, diperlukan solusi yang menyentuh seluruh lapisan kehidupan.
Level individu dan akidah
Pembinaan harus dimulai dari penanaman akidah sebagai landasan berpikir. Dengan standar keimanan yang kokoh, generasi muda mampu memilah informasi serta tidak mudah terombang-ambing oleh arus ideologi asing.
Level keluarga
Keluarga berfungsi sebagai benteng awal. Orang tua perlu memberikan teladan penggunaan teknologi yang sehat, menanamkan adab bermedia, serta membangun budaya dialog agar nilai tidak semata dibentuk oleh ruang digital.
Level pendidikan
Institusi pendidikan seharusnya menjadi ruang pembentukan nalar kritis. Pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada kebutuhan industri, tetapi harus mendorong analisis mendalam, tradisi literasi, dan keberanian berpikir.
Level masyarakat
Lingkungan sosial yang sehat perlu diwujudkan. Masjid dan komunitas pemuda harus dihidupkan sebagai pusat pembinaan tsaqafah Islam serta kontrol sosial melalui amar makruf nahi mungkar.
Level negara
Peran negara sebagai raa’in atau pengurus umat sangat menentukan. Negara wajib mengatur sistem pendidikan, mengawasi konten digital yang merusak, serta menciptakan iklim kondusif bagi lahirnya generasi berkepribadian Islam.
Menuju Kebangkitan Nalar Berbasis Ideologi
Melemahnya kemampuan berpikir kritis di era digital sejatinya mencerminkan krisis arah peradaban. Pembinaan generasi tidak cukup berhenti pada kecerdasan intelektual, tetapi harus diarahkan pada ideologi Islam yang lurus. Tanpa pijakan ideologis yang benar, kecerdasan hanya akan menjadi wacana tanpa daya ubah.
Sudah saatnya generasi muda muslim mengambil jarak dari euforia viralitas dan kembali menjadikan Islam sebagai tolok ukur berpikir dan bertindak. Dengan akidah yang kuat dan nalar yang jernih, mereka berpeluang besar memimpin perubahan dan mengantarkan umat menuju kembalinya kejayaan peradaban Islam. [An]
Baca juga:
0 Comments: