Maksiat, Kezaliman yang Melukai Diri Sendiri
Oleh: Annisa Yuliasih
(Kontributor SSCQMedia.Com)
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَظْلِمُ ٱلنَّاسَ شَيْـًٔا وَلَٰكِنَّ ٱلنَّاسَ أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
Artinya: Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikit pun, akan tetapi manusialah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri.
(QS. Yunus: 44)
Selama ini, kezaliman kerap dipahami sebatas perbuatan menyakiti orang lain, seperti merampas hak, menindas, atau berlaku curang. Padahal, Al-Qur’an berulang kali mengingatkan bahwa bentuk kezaliman yang paling sering dilakukan manusia justru adalah kezaliman terhadap diri sendiri. Kezaliman ini tidak selalu tampak oleh mata dan tidak selalu menjadi sorotan manusia, tetapi dampaknya paling dalam dan paling lama. Itulah kemaksiatan.
Allah Swt. dengan tegas menyatakan bahwa Dia tidak pernah menzalimi hamba-Nya sedikit pun. Justru manusialah yang menzalimi dirinya sendiri. Ketika seseorang memilih jalan maksiat, baik secara terang-terangan maupun tersembunyi, sejatinya ia sedang melukai dirinya sendiri, meskipun sering kali merasa sedang menikmati hidup.
Kemaksiatan disebut sebagai kezaliman karena melanggar hak paling mendasar, yaitu hak diri untuk selamat dan bahagia sesuai fitrah. Allah menciptakan manusia dengan akal, hati, dan ruh, lalu menurunkan aturan sebagai penjaga agar ketiganya tetap bersih dan sehat. Ketika seseorang melanggar aturan Allah, ia sejatinya bukan sedang menantang Allah, karena Allah tidak membutuhkan ketaatan manusia. Dengan melakukan maksiat, ia justru sedang merusak bangunan jiwanya sendiri.
Setiap dosa meninggalkan bekas. Mungkin tidak langsung terasa, tetapi perlahan ia mengeraskan hati, mengaburkan nurani, dan melemahkan kepekaan terhadap kebenaran. Kebiasaan berbohong, misalnya, tidak hanya merugikan orang lain, tetapi juga membuat pelakunya hidup dalam kecemasan dan kehilangan ketenangan. Demikian pula zina, riba, gibah, dan berbagai bentuk maksiat lainnya. Semuanya menjanjikan kenikmatan sesaat, namun menyisakan luka batin yang mendalam.
Inilah kezaliman yang sering tidak disadari. Manusia menukar ketenangan dengan kesenangan sementara. Padahal, Allah telah menyiapkan jalan hidup yang seimbang, jalan yang mungkin menuntut kesabaran, tetapi berujung pada ketenteraman. Ketika seseorang memilih jalan maksiat, seakan-akan ia menganggap dirinya lebih tahu apa yang terbaik bagi dirinya, padahal Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Lebih jauh, kemaksiatan merupakan kezaliman karena menghalangi diri dari kebaikan yang lebih besar. Dosa menjadi penghalang doa, penghambat keberkahan, dan penutup pintu hidayah. Betapa banyak orang mengeluhkan hidup yang terasa sempit, hati yang gelisah, dan doa yang seakan jauh, padahal tanpa disadari ia sedang memelihara maksiat dalam hidupnya. Bukan karena Allah enggan memberi, melainkan karena ia sendiri yang menutup pintu itu.
Ironisnya, kezaliman terhadap diri ini sering dibungkus dengan berbagai pembenaran, seperti anggapan bahwa banyak orang juga melakukannya, bahwa diri ini hanya manusia biasa, atau bahwa tobat masih bisa dilakukan nanti. Kalimat-kalimat tersebut terdengar ringan, tetapi sesungguhnya berbahaya. Tobat bukan jaminan masa depan, melainkan anugerah yang hanya Allah berikan kepada hamba yang Dia kehendaki. Menunda tobat berarti terus-menerus menzalimi diri sendiri.
Islam tidak datang hanya dengan peringatan, tetapi juga dengan harapan. Selama seseorang menyadari bahwa maksiat adalah bentuk kezaliman, pintu tobat masih terbuka. Kesadaran ini merupakan awal dari penyembuhan. Mengakui kesalahan bukan tanda kelemahan, melainkan tanda hidupnya hati.
Tobat yang sejati adalah bentuk keadilan terhadap diri sendiri. Ia mengembalikan jiwa kepada fitrahnya, membersihkan hati dari noda dosa, dan membuka kembali jalan menuju ketenangan. Allah Maha Pengampun dan Maha Adil. Setiap kebaikan akan kembali kepada pelakunya, begitu pula setiap keburukan.
Maka, ketika kita menjauhi maksiat, sejatinya kita sedang menyelamatkan diri sendiri dan berlaku adil terhadap jiwa yang Allah titipkan. Kelak, pendengaran, penglihatan, dan hati akan dimintai pertanggungjawaban (QS. Al-Isra: 36). Tidak ada satu pun dosa yang luput, dan tidak ada satu pun tobat yang sia-sia.
Kemaksiatan bukanlah kebebasan, melainkan belenggu. Ketaatan bukanlah beban, melainkan jalan pulang menuju diri yang utuh dan tenang. Wallahualam. [Ni]
Baca juga:
0 Comments: