Headlines
Loading...

Oleh: Ummu Fahhala
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com — Tulisan ini merupakan persembahan sederhana yang lahir dari rasa syukur yang mendalam. Sebuah kisah nyata tentang seorang ibu, tentang hidup yang dijalaninya dengan penuh kesabaran, serta tentang cinta yang tidak pernah menuntut balasan.

Ibu saya bukan perempuan yang lahir dari kemewahan. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana, di lingkungan yang sejak dini mengajarkan bahwa hidup harus diperjuangkan. Sejak kecil, ia telah akrab dengan kerja keras. Setiap keinginan, sekecil apa pun, tidak serta-merta terpenuhi. Ia harus menumbuk padi menggunakan lesung terlebih dahulu. Bunyi lesung yang beradu dengan alu bukan sekadar suara kerja, melainkan irama pendidikan hidup. Di sanalah ia belajar bahwa setiap harapan harus diiringi usaha, dan setiap rezeki disambut dengan keringat.

Sejak usia belia, ibu belajar menahan lelah dan menunda keinginan. Ia belajar menerima hidup apa adanya, namun tetap berusaha sekuat tenaga agar hari esok lebih baik dari hari ini. Nilai-nilai itulah yang kemudian membentuk karakter kuat dalam dirinya. Karakter yang mungkin tidak tertulis di ijazah mana pun, tetapi terpatri dalam setiap langkah hidupnya.

Ketika ibu menikah dengan bapak, kehidupan kembali dimulai dari nol. Tidak ada modal besar dan tidak ada jalan pintas. Yang ada hanyalah tekad, kesetiaan, dan kesabaran. Pernikahan mereka melewati banyak musim. Musim sulit, musim lapang, musim penuh canda, juga musim penuh ujian. Usia pernikahan mereka kini telah melampaui usia emas. Alhamdulillah, hingga hari ini Allah Swt. masih menganugerahkan umur, kesehatan, dan kesempatan untuk terus bersama.

Dalam rumah tangga itu, ibu bukan hanya seorang istri, tetapi juga penopang. Ia melayani bapak sepenuh hati dengan perhatian yang tulus. Bukan semata-mata kewajiban, melainkan lahir dari cinta dan keikhlasan. Ia memahami bahwa pernikahan bukan tentang siapa yang paling banyak berkorban, melainkan bagaimana saling menguatkan.

Ketika anak-anaknya tumbuh dewasa dan berumah tangga, peran ibu tidak pernah berhenti. Ia tidak pernah berkata, “Tugasku sudah selesai.” Justru di usia yang tidak lagi muda, ibu tetap setia membantu anak-anaknya. Jika ada piring yang belum sempat dicuci karena anaknya harus segera berangkat kerja, ibu yang turun tangan. Jika ada rumah yang perlu dibersihkan saat anaknya kelelahan, ibu yang mengambil alih. Semua dilakukan tanpa keluhan dan tanpa perhitungan.

Doa ibu tidak pernah terputus. Mengalir untuk bapak, anak-anak, para menantu, dan cucu-cucunya. Dalam sujud-sujud panjangnya, nama-nama itu disebut satu per satu dengan harap agar Allah menjaga, melindungi, dan melimpahkan kebaikan. Mungkin kami tidak selalu mendengar doa itu, tetapi kami merasakan dampaknya. Ada ketenangan yang sulit dijelaskan dan kekuatan yang sering kali datang tanpa sebab yang kami pahami. Barangkali di sanalah rahasia doa seorang ibu.

Kebahagiaan ibu sesungguhnya sangat sederhana. Ia tidak menuntut hadiah mahal dan tidak meminta sanjungan. Wajahnya paling berseri ketika seluruh anaknya berkumpul. Ketika rumah kembali ramai oleh tawa, obrolan ringan, dan langkah-langkah kecil cucunya. Pada saat itulah, lelah yang ia simpan seolah luruh dengan sendirinya.

Ibu juga merupakan guru pertama bagi kami. Ia yang pertama kali mengenalkan huruf demi huruf Al-Qur’an dan membimbing kami mengaji di rumah dengan penuh kesabaran. Bacaan kami yang terbata-bata tidak pernah membuatnya marah. Ia membenarkan dengan lembut dan mengulang dengan telaten. Dari ibu, kami belajar bahwa ilmu bukan sekadar untuk dikuasai, melainkan untuk diamalkan dengan kerendahan hati.

Dalam setiap ujian hidup, ibu memilih bersabar. Bukan karena ia tidak lelah, tetapi karena ia yakin Allah tidak pernah salah dalam mengukur kemampuan hamba-Nya. Kesabaran itu bukan kepasrahan tanpa usaha, melainkan keteguhan hati untuk tetap berdiri meski diterpa badai.

Yang lebih mengagumkan, perhatian ibu tidak hanya tercurah kepada anak-anak kandungnya. Ia juga menyayangi para menantu dan cucu-cucunya. Ia ingin semua merasa diterima, dicintai, dan dihargai. Rumahnya menjadi tempat pulang, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional.

Tulisan ini bukan sekadar kisah. Ia adalah doa yang dituliskan dan rasa syukur yang diabadikan. Semoga setiap kata menjadi amal jariah, mengalirkan kebaikan bagi ibu dan bagi siapa pun yang membacanya. Semoga kisah hidup ibu mengajarkan bahwa kebesaran seseorang tidak selalu diukur dari seberapa tinggi ia berdiri, tetapi dari seberapa dalam ia menunduk untuk melayani dengan cinta.

Ibu, terima kasih atas hidup yang engkau perjuangkan dengan sabar. Terima kasih atas cinta yang engkau berikan tanpa syarat. Semoga Allah Swt. membalas setiap lelahmu dengan pahala, setiap doa dengan kebaikan, dan setiap pengorbanan dengan surga-Nya.

Ya Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, kami titipkan ibu kami dalam penjagaan-Mu. Ampuni setiap khilafnya, angkat derajatnya, lapangkan dadanya, serta kuatkan tubuh dan hatinya hingga akhir usia. Limpahkan kesehatan, ketenangan, dan kebahagiaan untuknya, sebagaimana ia telah melimpahkan cinta tanpa batas kepada kami. Satukan kami, anak-anaknya, dalam bakti dan kasih sayang. Jangan Engkau jadikan kami anak-anak yang lalai, tetapi anak-anak yang mampu membahagiakan hatinya. Kabulkan doa-doanya, jadikan setiap air mata dan kesabarannya bernilai pahala, dan kelak kumpulkan kami bersamanya di surga-Mu dalam naungan rahmat-Mu yang abadi. Amin. [Ni]


Baca juga:

0 Comments: