Oleh: Vitri Sabiya
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—QS Ar-Rahman ayat 13 adalah ayat yang berkesan bagiku.
فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan, wahai jin dan manusia?
Ayat ini diulang dalam QS. Ar-Rahman pada ayat 13, 16, 18, 21, 23, 25, 28, 30, 32, 34, 36, 38, 40, 42, 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, 59, 61, 63, 65, 67, 69, 71, 73, 75, dan 77.
Pengulangan ayat ini bukan tanpa makna. Allah mengingatkan manusia agar senantiasa bersyukur atas nikmat-Nya yang begitu banyak. Bagi saya pribadi, ayat ini menjadi pengingat yang sangat dalam tentang betapa luasnya karunia Allah yang sering kali luput kita sadari.
Kita masih diberi napas hingga detik ini. Mata masih bisa berkedip, padahal jika tidak, betapa perih dan sakitnya mata kita. Kaki masih bisa melangkah dan berjalan. Saya melihat sendiri kondisi ayah saya yang menderita stroke, hanya bisa terbaring, sementara saya masih diberi kemampuan untuk bergerak. Dari situ saya belajar bahwa selalu ada hikmah di balik setiap musibah, dan betapa besarnya nikmat yang patut kita syukuri.
Kita masih bisa makan dan tidur dengan nyaman. Bandingkan dengan saudara-saudara kita di Palestina, Sudan, dan negeri-negeri lain yang umat Islamnya masih terjajah. Mereka kelaparan, kedinginan, dan hidup dalam ketakutan. Sementara kita masih bisa menikmati makanan dan beristirahat di tempat tidur yang layak. Bukankah itu nikmat yang sangat besar?
Namun, sering kali manusia justru lebih banyak mengeluh. Kita masih bisa bekerja, tetapi mengeluh lelah, padahal di luar sana ada ribuan pengangguran yang sangat membutuhkan pekerjaan. Karena itu, perbanyaklah rasa syukur dengan memperbanyak ibadah kepada Allah sebagai bekal kita di akhirat kelak.
Biasakanlah melihat ke bawah, kepada saudara-saudara kita yang masih banyak kekurangan, bukan terus melihat ke atas kepada orang-orang yang lebih kaya. Keinginan manusia tidak akan pernah ada habisnya jika selalu membandingkan diri dengan mereka yang berada di atas. Padahal, kehidupan yang kita jalani saat ini pun sudah layak untuk disyukuri.
Makan tinggal memasak atau memakan apa yang ada di rumah. Pakaian tersimpan rapi di lemari dan bisa kita pilih kapan saja. Semua itu adalah nikmat. Syukurilah apa yang kita miliki dan apa yang kita peroleh. Akan lebih baik lagi jika harta yang kita punya digunakan untuk ibadah, seperti bersedekah dan berinfak.
Ingatlah bahwa harta yang diinfakkan di jalan Allah tidak akan berkurang, bahkan akan diganti berlipat ganda oleh Allah. Sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Baqarah ayat 261:
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
"Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai. Pada setiap tangkai terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan pahala bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui."
Masyaallah, betapa besar nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita. Mari perbanyak rasa syukur dengan memperbanyak ibadah, terutama berzikir, agar kita senantiasa mengingat Allah Swt. di mana pun kita berada. [Ni]
Sumedang, 16 Desember 2025
Baca juga:
0 Comments: