Oleh: Ni’mah Fadeli
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw. dan bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Ia bertanya kembali, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Kemudian ayahmu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
“Ibumu, ibumu, ibumu.” Demikianlah sabda Rasulullah saw. yang menunjukkan bahwa ibu memiliki kedudukan yang sangat mulia. Seorang anak wajib memuliakan orang tuanya, terutama ibu. Berbakti kepada ibu merupakan kewajiban yang harus dilakukan semaksimal mungkin dalam keadaan apa pun karena hal tersebut adalah perintah Allah Swt.
Pahala yang besar dan kedudukan yang mulia menjadikan setiap perempuan yang menyandang predikat ibu patut bersyukur tanpa henti kepada Sang Pencipta. Amanah mendidik anak bukanlah perkara mudah, terlebih di zaman penuh fitnah seperti saat ini.
Peran ibu dalam membentuk karakter anak agar menjadi hamba Allah yang seutuhnya menghadapi tantangan yang sangat besar. Berbagai pemikiran yang tampak seolah benar, padahal bertentangan dengan Islam, kini bertebaran di mana-mana.
Tantangan Ibu Zaman Now
Moderasi beragama yang memandang semua agama sama dan mengedepankan toleransi tanpa berpegang pada syariat Allah Swt. digaungkan di berbagai jenjang pendidikan. Isu kesetaraan gender yang menjauhkan perempuan dari fitrahnya pun semakin masif disebarkan. Belum lagi konsep HAM yang kerap dijadikan dasar kebebasan, padahal justru menjadi sumber berbagai persoalan manusia.
Beragam tantangan tersebut semakin mudah berkembang seiring kemajuan dunia digital. Serangan pemikiran datang bertubi-tubi dan tanpa disadari sangat mudah meracuni jiwa anak hanya melalui gawai. Pornografi, game bermuatan kekerasan, judi online, pinjaman online, konten pamer kekayaan, prank, dan berbagai konten lain menjadi bagian dari dunia digital yang dengan mudah diakses generasi saat ini.
Di sisi lain, sebagian ibu juga harus berjuang dalam kerasnya realitas mencari nafkah. Sistem kapitalisme tidak berpihak kepada rakyat kecil. Harga kebutuhan semakin mahal, biaya pendidikan dan kesehatan sulit dijangkau, sementara penghasilan kepala keluarga tidak mencukupi. Kondisi ini memaksa ibu menjalani peran ganda. Akibatnya, muncul dampak pada kondisi pribadi ibu, kedekatan dengan anak, hingga keharmonisan hubungan dengan suami.
Ibu dalam Islam
Beratnya tantangan ibu masa kini semakin menguatkan kerinduan akan penerapan Islam secara kaffah. Ibu tidak boleh lelah untuk berdoa dan terus belajar agar mampu memberikan pemahaman yang benar kepada anak. Ibu juga harus berusaha menjadi teladan agar anak tidak mudah terseret arus pergaulan yang menyesatkan.
Ibu tidak boleh buta politik dan hanya berkutat pada urusan domestik. Kesadaran politik yang benar akan membentuk pola pikir yang luas dan tidak sempit. Anak yang tumbuh dengan kesadaran politik akan menjadi pribadi yang peduli terhadap kondisi sekitar dan tidak diam ketika melihat kezaliman.
Ibu perlu menanamkan pemahaman bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah di muka bumi dan memiliki kewajiban beribadah kepada Allah Swt. Ibadah harus dipahami secara menyeluruh, tidak terbatas pada ritual semata, melainkan mencakup seluruh aktivitas kehidupan.
Membentuk anak yang bangga terhadap Islam merupakan keharusan bagi seorang ibu. Anak harus memahami bahwa dirinya wajib berpegang teguh pada syariat Allah Swt. meskipun lingkungan sekitar belum islami. Kesadaran ini akan menumbuhkan tanggung jawab dakwah dalam diri anak agar Islam menjadi fondasi di setiap sendi kehidupan.
Khatimah
Umat Islam adalah sebaik-baik umat dengan pegangan hidup yang sempurna, yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah. Oleh karena itu, sudah selayaknya Islam menjadi poros kehidupan. Syariat Islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, mulai dari hubungan dengan Allah Swt., hubungan dengan diri sendiri seperti urusan makanan dan pakaian, hingga hubungan sosial dan tata negara.
Penerapan Islam secara kaffah akan memudahkan para ibu menjalankan perannya secara maksimal dalam mencetak generasi penerus yang mampu membangun peradaban yang cemerlang.
Wallahualam bissawab. [US]
Baca juga:
0 Comments: