Headlines
Loading...
Gen Z Ketar-ketir, Menikah atau Mapan Dulu?

Gen Z Ketar-ketir, Menikah atau Mapan Dulu?

Oleh: Hana Salsabila A. R.
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com "Umur sudah 25+, kok masih jomblo?"
Ucapan seperti ini mungkin terdengar sepele, tetapi bagi banyak Gen Z menjadi tekanan tersendiri. Hidup sudah serba sulit, memenuhi kebutuhan satu bulan saja sering kali ngos-ngosan, apalagi memikirkan menikah. Padahal kita juga manusia biasa yang memiliki naluri mencintai. Namun seperti kata banyak orang, menikah tidak cukup bermodal cinta. Realitas hari ini membuat pernikahan membutuhkan kesiapan materi, sementara kondisi ekonomi begitu berat sehingga kita tidak ingin menyusahkan keluarga.

Gen Z adalah generasi dengan gebrakan paling besar dalam sejarah modern. Terlahir di masa transisi besar-besaran, dari masa bermain lompat tali hingga kini bermain lompat tangga di Roblox. Di tengah perubahan itu, inflasi meroket, harga kebutuhan melambung, dan lapangan kerja semakin sempit. Media sosial pun sering menyajikan berita negatif tentang perceraian atau KDRT yang memperkuat stigma bahwa pernikahan itu menakutkan, dan hampir semuanya bermuara pada persoalan ekonomi.

Tidak heran jika banyak yang berkata bahwa harus mapan dulu sebelum menikah. Jawaban ini terasa realistis karena kita hidup dalam sistem kapitalisme yang menjadikan uang sebagai ukuran segalanya. Kapitalisme melahirkan ketamakan, kesenjangan sosial, dan stratifikasi antara oligarki serta buruh sistem. Malangnya, banyak Gen Z hidup sebagai buruh sistem yang lelah mengejar kebutuhan hidup dari remah keuntungan para pemilik modal.

Kapitalisme berjalan beriringan dengan sekulerisme yang memaksa kita bekerja keras mengejar dunia, namun mengabaikan kehidupan akhirat. Gen Z pun dibentuk menjadi generasi yang takut miskin dan sekaligus terdorong pada gaya hidup hedonis. Standar hidup pun melambung, termasuk standar pernikahan yang serba tinggi. Semuanya terfokus pada dunia semata sementara nilai akhirat semakin terpinggirkan.

Pada akhirnya hidup ini terasa begitu berat karena sistem tempat kita hidup memang sudah rusak sejak akar. Sistem ciptaan manusia yang terbatas akal dan dibalut nafsu kekuasaan hanya menghasilkan kerusakan. Karena itu, manusia seharusnya kembali pada sistem yang bersumber dari Pencipta yaitu Islam.

Dalam Islam, negara memiliki kewajiban menanggung kebutuhan rakyat sehingga tercipta kestabilan ekonomi. Negara menyediakan lapangan kerja, mengelola sumber daya alam dengan benar, dan hasilnya dikembalikan kepada rakyat untuk mengurangi kesenjangan. Islam juga mendidik mental muslim agar tidak mudah goyah oleh hedonisme atau materialisme. Seorang muslim memahami bahwa hidup di dunia hanyalah perjalanan menuju kehidupan akhirat. Selain itu, hukum ditegakkan dengan kuat sehingga masalah sosial seperti KDRT dan perceraian dapat diminimalkan.

Semua ini hanya dapat berjalan dalam bingkai negara yang menerapkan sistem Islam, bukan kapitalisme. Dengan penerapan syariat secara menyeluruh, Gen Z tidak akan takut menikah hanya karena takut miskin, belum mapan, atau khawatir menjadi korban KDRT. Sebab Islam memandang pernikahan sebagai syariat yang mulia dan sunnah yang harus dijaga serta difasilitasi.

Wallahualam. [Hz]

Baca juga:

0 Comments: