Bencana Sumatra: Kerusakan Ulah Tangan Manusia
Oleh: Aan Nurhasanah
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Tanah air Indonesia kembali berduka dengan adanya bencana longsor hingga banjir bandang yang menerjang sebagian wilayah Sumatra Barat, Sumatra Utara, Aceh, dan beberapa daerah lainnya. Laporan BNPB menyebutkan bahwa jumlah korban meninggal dunia akibat bencana tersebut di tiga provinsi itu bertambah menjadi 836 orang hingga Kamis sore, 4 Desember 2025. Sementara itu, jumlah korban hilang yang masih dalam proses pencarian mencapai 518 jiwa.
Namun, hingga kini pemerintah pusat masih belum menetapkan bencana banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat sebagai bencana nasional berstatus tanggap darurat. Pratikno, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, menyatakan bahwa meski belum ditetapkan sebagai bencana nasional, penanganannya telah dilakukan secara nasional dan seluruh kementerian serta lembaga telah diperintahkan Presiden Prabowo untuk mengerahkan sumber daya secara maksimal (CNN Indonesia, 4/12/2025).
Bukan Ujian Semata
Curah hujan yang tinggi memang menjadi salah satu penyebab banjir bandang dan tanah longsor. Namun, daya tampung serapan air di berbagai wilayah telah berkurang akibat eksploitasi alam yang dilakukan secara berlebihan oleh manusia yang rakus dan egois. Dengan kata lain, bencana ini bukan hanya ujian semata, tetapi juga akibat dari kerusakan lingkungan yang sejak lama dilegitimasi oleh berbagai kebijakan. Hutan yang seharusnya menjadi cadangan air kehilangan fungsi karena pohon-pohon besar ditebang secara brutal, sehingga tanah tidak mampu menyerap air secara maksimal.
Rakyat Menjadi Korban
Jika sudah terjadi bencana, siapakah yang menjadi korban? Sudah pasti rakyat. Selama ini rakyat hanya menyaksikan hutan dirusak oleh oligarki, dan lagi-lagi rakyat yang menanggung akibat sistem sekuler demokrasi kapitalisme.
Penguasa dan pengusaha kerap bekerja sama demi menjarah hak rakyat atas nama pembangunan. Mereka tidak peduli pada dampaknya, yang penting keuntungan diraih. Akhirnya masyarakatlah yang menderita, sementara para penguasa dan pengusaha menikmati hasilnya.
Inilah gambaran pemimpin yang lahir dari sistem yang rusak, yang pada akhirnya melahirkan kezaliman terhadap rakyat. Padahal dalam Islam, kepemimpinan adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Allah berfirman dalam surah Ar Rum ayat 41 yang artinya, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali ke jalan yang benar.”
Semoga bencana ini menyadarkan umat bahwa kerusakan yang terjadi merupakan akibat ulah manusia yang serakah dan tidak memiliki aturan yang benar dalam mengelola lingkungan. Semoga rakyat juga tersadar akan kebobrokan sistem yang ada saat ini, yang tidak bersumber dari wahyu Allah Swt.
Islam Menjaga Kelestarian Alam
Islam mengajarkan bahwa manusia bukan pemilik mutlak alam, tetapi khalifah yang bertugas memelihara dan menjaga ciptaan Allah. Artinya, manusia harus mengelola bumi dengan bijak, bukan merusaknya.
Islam melarang berbagai tindakan yang merusak lingkungan, seperti menebang pohon sembarangan, merusak tanah, mencemari air, dan membunuh hewan tanpa alasan yang benar. Memanfaatkan alam diperbolehkan selama tetap menjaga keseimbangan ekosistem.
Menjaga kebersihan air, udara, tanah, dan lingkungan adalah bagian dari ibadah. Islam bahkan melarang sikap boros dalam penggunaan sumber daya alam. Jika hutan rusak, bukan hanya rakyat yang terdampak, tetapi juga seluruh ekosistem di dalamnya.
Islam memiliki aturan yang jelas dalam pemanfaatan alam secara bertanggung jawab. Jika seluruh aspek kehidupan diatur oleh Islam, kesejahteraan rakyat akan terwujud. Berbeda dengan sistem buatan manusia yang lemah dan hanya mengejar manfaat serta keuntungan, yang akhirnya melahirkan penguasa zalim dan rakyat yang menjadi korban.
Ayo, kita mengkaji Islam secara menyeluruh agar semakin cinta kepada Islam dan berharap semua aturannya diterapkan dalam kehidupan. Wallahualam bissawab. [Ni]
Baca juga:
0 Comments: