Oleh. Ummu Faiha Hasna
(Pena Muslimah Cilacap)
SSCQMedia.Com—Dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, masyarakat lintas generasi berkumpul dalam acara bertema “Satu Risalah, Satu Umat, Satu Tujuan” yang berlangsung secara daring melalui situs satuju.one, pada Sabtu (27/9/2025).
Kegiatan ini tidak hanya sarat nuansa religius, tetapi juga menghadirkan refleksi mendalam tentang kondisi umat Islam hari ini. Selain penayangan video sejarah perkembangan Islam dan pembacaan puisi bertema Palestina, acara ini juga diwarnai dialog lintas generasi yang dikemas dalam bentuk talk show.
Dialog tersebut menghadirkan KH. Hafidz Abdurrahman (ulama), Ustaz Ismail Yusanto (cendekiawan Muslim), dan Bung Niko Pandawa (sejarawan muda).
Meneladani Rasulullah secara Kaffah
Di awal diskusi, KH. Hafidz Abdurrahman menyoroti kondisi umat Islam yang semakin jauh dari ittiba’ atau keteladanan kepada Rasulullah saw. Menurutnya, kehidupan umat Islam saat ini sudah jauh dari nilai-nilai Islam. Hal itu terlihat dari kecenderungan umat membatasi Islam hanya pada aspek ibadah ritual seperti salat dan zikir.
Padahal, Islam yang dibawa Rasulullah saw. bukan sekadar ajaran spiritual, melainkan juga akidah siyasiyyah yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Beliau mengingatkan sebagaimana firman Allah dalam QS. Ali Imran ayat 31, bahwa termasuk hak Rasulullah yang harus dipenuhi umatnya adalah mencintai beliau dengan memikirkan urusan kaum Muslimin.
Peran Pemuda dalam Dakwah
Sejarawan muda, Bung Niko Pandawa, mengajak generasi muda untuk meneladani semangat para pemuda di masa awal dakwah Islam. Ia mencontohkan sosok Ali bin Abi Thalib dan para sahabat muda lainnya yang menjadi inspirasi perubahan.
“Selama tiga belas tahun dakwah di Makkah, mayoritas pengikut Nabi adalah anak muda,” jelas Niko. Ia menambahkan, mayoritas penduduk Madinah yang pertama kali membaiat Rasulullah dalam Baiat Aqabah juga berasal dari kalangan muda.
“Mereka mengorbankan aktivitas dan masa muda untuk mendakwahkan Islam hingga Islam menyebar di Madinah. Maka, penting bagi generasi muda hari ini untuk menyadari potensinya dan meneladani perjuangan sahabat-sahabat Rasulullah saw.,” tandasnya.
Ketimpangan Ekonomi dan Solusi Islam
Sementara itu, Ustadz Ismail Yusanto menyoroti persoalan ekonomi yang menimpa umat, khususnya di Indonesia.
“Indonesia termasuk negara dengan kesenjangan ekonomi terparah di dunia, nomor empat. Pendapatan orang paling kaya sembilan belas kali lipat lebih besar daripada orang yang di bawahnya. Yang kaya makin kaya luar biasa, yang miskin makin miskin,” paparnya.
Menurut beliau, ketimpangan ini adalah produk kapitalisme yang mengagungkan pemilik modal. Negara justru menjadi aktor utama yang menyebabkan timpangnya distribusi kekayaan. Karena itu, pembahasan tentang ittiba’ kepada Nabi juga mencakup persoalan ekonomi.
Beliau menegaskan, Islam memiliki solusi yang komprehensif untuk mengatasi ketimpangan tersebut.
Teladan Rasulullah dalam Kepemimpinan
KH. Hafidz Abdurrahman mengingatkan bahwa Rasulullah saw. bukan hanya teladan dalam ibadah, tetapi juga dalam kepemimpinan.
“Ketika Baginda Nabi memimpin selama sepuluh tahun, seluruh Jazirah Arab—yang kini meliputi tujuh negara: Kuwait, Qatar, Oman, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Yaman—tunduk di bawah kepemimpinan beliau,” terangnya.
Menurut KH. Hafidz, keberhasilan Nabi saw. dalam memimpin menunjukkan bahwa sistem kepemimpinan beliau bisa dicontoh oleh manusia biasa. Rasulullah menegakkan hukum dengan adil, membangun ekonomi, militer, dan pendidikan berlandaskan Islam, serta mewariskan Daulah Islamiyah yang kemudian dilanjutkan dengan sistem khil4fah.
Namun, setelah khil4fah runtuh, umat Islam kehilangan izzah (kemuliaan). Genosida yang dilakukan Zion1s terhadap umat Islam di Palestina menjadi bukti nyata hilangnya kemuliaan itu.
Beliau menyayangkan para penguasa negeri-negeri muslim yang sudah terpecah menjadi negara bangsa hanya sibuk berpidato di forum-forum internasional tanpa aksi nyata. Padahal, jika umat Islam bersatu di bawah satu kepemimpinan, mereka akan memiliki kekuatan besar.
Misi Rasulullah: Petunjuk dan Agama yang Benar
Pidato politik Ustadz Rokhmat S. Labib menutup acara dengan mengingatkan kembali misi utama Nabi saw.
“Allah mengutus Rasul-Nya dengan dua hal, yakni bil huda (petunjuk) dan diinil haq (agama yang benar). Siang dan malam beliau tak pernah berhenti menyampaikan Islam,” ujarnya.
Menurutnya, sebagian besar masa hidup Rasulullah dihabiskan bukan hanya sebagai Nabi dan Rasul, tetapi juga sebagai kepala negara (rais daulah).
“Tiga belas abad umat Islam hidup sebagai ummah wahidah di bawah negara Islam yang satu,” lanjutnya.
Ustadz Rokhmat menegaskan bahwa tugas menyampaikan al-huda wa diinil haq telah melahirkan umat Islam sebagai ummah mutamayyizah, yakni umat yang berbeda dengan yang lain karena akidah dan syariat-Nya yang tak tertandingi.
Acara Maulid Nabi saw. tahun ini menjadi momen refleksi bahwa mencintai Nabi bukan hanya dengan ibadah ritual, tetapi dengan meneladani beliau secara menyeluruh—dalam kepemimpinan, perjuangan, dan dakwah menegakkan kembali Islam secara sempurna. [MA]
Baca juga:
0 Comments: