Oleh. Cucu
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Keadaan Gaza pada saat ini masih dalam kondisi mengenaskan, bahkan lebih parah. Tidak hanya orang dewasa, anak kecil pun menjadi sasaran Zion1s. Dalam sebuah wawancara oleh jurnalis Muhammad Abu Salamah, seorang wanita mengaku sudah lima hari tidak makan sehingga sulit berjalan karena tidak ada asupan makanan ke dalam tubuhnya. Wanita ini tinggal di Rumah Sakit Asifa sendirian karena orang tuanya menjadi korban perang. (BBC News Indonesia, 18 Januari 2025).
Walaupun kondisi Gaza semakin memburuk, Zion1s tetap melakukan serangan terhadap warga Gaza dengan ugal-ugalan. Serangan dilakukan di mana-mana, bahkan tempat ibadah pun mereka hancurkan. Ketika bantuan datang dari segala penjuru, semuanya tidak dapat diterima karena semua menjadi medan kematian.
Kesulitan warga sipil tidak hanya dalam pemenuhan bahan pokok, tetapi mereka juga dibombardir. Di antaranya, Gereja Keluarga Kudus, satu-satunya Gereja Katolik di Gaza, turut menjadi sasaran. Pemboman yang dilakukan telah menewaskan tiga orang dan melukai sepuluh lainnya. Sementara itu, dua puluh warga Palestina tewas dalam rencana usulan gencatan senjata antara Hamas dan Zion1s yang tidak mendapatkan solusi tuntas. (CNBC Indonesia TV, 17 Juli 2025).
Kita tidak bisa berharap pada negara di sekitar. Dunia internasional pun tidak mau menghentikan apalagi mengutuk kejahatan yang dilakukan Zion1s, meskipun jelas dapat dilabeli sebagai penjahat perang.
Kondisi Gaza adalah kenyataan pahit, buah dari penerapan sistem yang rusak, dimana penguasa tidak lagi melayani umat. Mereka sibuk dengan dirinya sendiri, padahal jutaan orang dari berbagai penjuru dunia telah turun ke jalan menyuarakan penghentian perang atas dasar nilai-nilai kemanusiaan yang sejatinya merupakan hak universal setiap manusia.
Saat ini sistem sekuler kapitalisme telah mengakar, di mana nilai-nilai kemanusiaan sudah tidak ada lagi. Mereka bahkan membenarkan genosida terhadap Muslim Gaza—sesama manusia yang seharusnya dilindungi dan dihormati. Dalam sistem kapitalis yang individualis, manusia menjadi tidak peduli pada yang lain hingga muncul kebencian di antara sesama ketika mereka hanya mementingkan kepentingan pribadi. Ketika kebencian menguasai hati manusia, empati, kasih sayang, dan rasa saling menghormati pun lenyap, menimbulkan kehancuran moral yang memperparah penderitaan jutaan orang yang tak berdosa.
Kondisi ini menggambarkan betapa rusaknya tatanan dunia saat ini yang dipimpin oleh ideologi kapitalisme. Sistem yang seharusnya melindungi dan memajukan kehidupan manusia justru menjadi sarana pemicu konflik, penindasan, dan kekerasan berkepanjangan. Umat manusia seharusnya benar-benar menyadari betapa sistem hidup yang berlaku saat ini telah menjatuhkan martabat manusia pada titik paling rendah hingga tidak lagi mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan yang hakiki, sehingga tidak pantas dijadikan dasar dalam mengatur kehidupan bersama.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-A‘raf ayat 179:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ ١٧٩
“Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan banyak dari kalangan jin dan manusia untuk (masuk neraka) Jahanam (karena kesesatan mereka). Mereka memiliki hati yang tidak mereka pergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah), memiliki mata yang tidak mereka pergunakan untuk melihat (ayat-ayat Allah), dan memiliki telinga yang tidak mereka pergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.”
Dengan gambaran tersebut jelaslah bahwa sistem dunia yang mengabaikan nilai-nilai ilahi dan kemanusiaan tidak pantas menjadi pedoman hidup umat manusia.
Islam hadir dengan nilai-nilai luhur yang sempurna atas perintah Allah, Zat Yang Mahamulia, yang mengatur kehidupan manusia secara menyeluruh dan berimbang. Islam mengajarkan bagaimana hidup bersama secara harmonis dan saling menghormati, bahkan dalam keberagaman keyakinan, selama tetap dalam koridor syariat.
Dengan begitu, Islam bukan hanya memberikan pedoman spiritual, tetapi juga aturan sosial yang mampu membangun masyarakat damai dan sejahtera, jauh dari kerusakan dan kekacauan yang ditimbulkan oleh sistem yang batil.
Sejarah panjang peradaban Islam telah membuktikan bagaimana Islam mampu mengatur kehidupan manusia yang beragam keyakinan dalam naungan sistem yang adil dan penuh rahmat. Keberhasilan ini tercermin dari terciptanya kedamaian, keadilan, dan kesejahteraan sosial melalui penerapan nilai-nilai Islam secara menyeluruh.
Oleh karena itu, umat Islam harus memiliki tekad kuat untuk mengembalikan kejayaan tersebut dengan mewujudkan kembali sistem kehidupan Islam yang berasaskan akidah Islam. Untuk itu, umat harus membangun kesadaran akan kemuliaan Islam sebagai jalan hidup sempurna, mulai dari pemahaman hakikat manusia sebagai makhluk lemah yang hidup di dunia fana.
Kesadaran ini mendorong ketaatan pada Allah dan keterikatan pada syariat-Nya sekaligus tanggung jawab kolektif menegakkan aturan Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Upaya ini harus dilakukan melalui jemaah dakwah ideologis yang solid dan terorganisasi untuk memimpin umat menemukan jati diri sebagai hamba Allah serta menjaga kemuliaan Allah dan Rasul-Nya.
Jemaah ini menuntun umat berjuang menegakkan syariat Islam secara kafah di bawah institusi Khil4fah. Dengan demikian, perjuangan membangun kesadaran umat terhadap pentingnya penerapan Islam ideologi adalah langkah strategis untuk mengembalikan kemuliaan Islam di bawah naungan Khil4fah. [MA]
Baca juga:
0 Comments: