Oleh: Iha Bunda Khansa
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com — Hampir dua tahun kaum muslim di Gaza, Palestina, mengalami pembantaian oleh penjajah Israel. Begitu banyak korban berjatuhan: anak-anak, perempuan, hingga orang dewasa. Mereka adalah para syuhada, calon penghuni surga.
Infrastruktur hampir seluruhnya hancur: rumah, gedung-gedung, sekolah, dan rumah sakit menjadi sasaran bom dan rudal. Dilaporkan bahwa Israel menggunakan sejumlah pesawat tanpa awak yang membawa bahan peledak dalam serangan untuk menghancurkan bangunan. (detik.com, 3/9/2025).
Nyawa seolah tak bermakna. Darah, air mata, jeritan ibu dan ayah yang ditinggalkan anaknya, dan kehilangan orang-orang tercinta menyisakan kesedihan mendalam. Banyak keluarga menuntut pertanggungjawaban atas tindakan keji tersebut.
Hingga kini mereka yang diberi kesempatan hidup tinggal di tempat pengungsian yang tidak layak. Muslim Gaza terus berjuang mempertahankan hidupnya. Sungguh, Allah menguji kesabaran kaum muslim di Gaza agar mereka terus bertahan dan mempertahankan akidah di tengah gempuran Zion1s laknatullah!
Aynal muslimin …?
Sungguh, pengusaha muslim tak mampu berbuat banyak, bahkan Arab begitu tunduk pada negara adidaya dan Zion1s. Media dibungkam bahkan para jurnalis syahid, padahal lewat mereka kebenaran tentang Gaza dapat terungkap.
Sulit membayangkan penderitaan yang dialami penduduk Gaza. Apa yang tersisa bagi mereka? Mereka kehilangan segalanya, tetapi jangan tanyakan iman mereka: di tengah penderitaan, keimanan mereka tetap kokoh.
Lihatlah bagaimana seorang anak berteriak menuntut pertolongan dari penguasa yang berdiam diri. Bahkan perbatasan Rafah, salah satu jalur masuk bantuan, seringkali sulit ditembus. Rakyat Gaza menderita: hidup di pengungsian yang tak layak, kelaparan, kekurangan gizi, dan perlahan anak-anak pun meninggal dunia akibat kondisi tersebut.
Aynal muslimin?
Di mana penguasa negeri-negeri muslim? Seharusnya negeri muslim jihad membela Palestina, mengangkat senjata melawan tentara Zion1s, tapi sungguh mereka telah menjadi boneka Barat. Mereka melindungi kepentingan penjajah bukan melindungi saudara muslim. Mereka lupa bahwa sesama saudara muslim bagaikan satu tubuh, yang terjadi mereka tunduk taat pada kepentingan penjajah, bahkan menghancurkan!
Kebiadaban penjajah Zion1s sudah kelewat batas, bahkan bertambah kegilaannya. Tempat pengungsian pun mereka bom, korban makin bertambah, rumah sakit pun tak mampu menampung korban. Mereka berbondong-bondong menjauh ke tempat yang aman!
Tapi ..., mereka tetap memburu dan melakukan genosida! Ya Allah ..., lindungi saudara -saudara muslim di Gaza Palestina. Hasbunallah wa ni'mal wakil ni'mal maula wa ni'man nashiir.
Gaza Terus Bergejolak
Beberapa hari lagi 7 Oktober 2025, dua tahun penjajahan entitas Zion1s. Belum ada tanda-tanda genosida berhenti, bahkan kini Zion1s makin menjadi! Warga kota Gaza kehilangan akses internet atau telepon rumah karena serangan Israel melumpuhkan jalur infrastruktur utama. Seperti dilansir Anadolu, hal ini memperburuk isolasi wilayah kantong tersebut saat genosida Israel sedang berlangsung (Tempo.co,18/9/2025). Akibat pemutusan saluran komunikasi di Gaza, makin sulit anggota keluarga untuk mengetahui keberadaan saudaranya.
Namun apa yang diperbuat penduduk Gaza? Apakah mereka lemah? Tidak. Keimanan mereka semakin kokoh; mereka bangkit, tetap semangat, dan tak berniat meninggalkan tanah mereka. Mereka merangkul Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, tetap mengajarkan anak-anak di keterbatasan, menanam biji-bijian, saling membantu sesama, merawat yang terluka, serta menjaga tanah mereka. Allahu Akbar!
Keteguhan iman dan ketabahan dalam menghadapi penjajahan membuat penjajah gelisah. Banyak tentara yang kelelahan dan tertekan; semoga keadilan ditegakkan dan Allah menimpakan azab bagi para penjajah.
Bantuan kemanusiaan dari berbagai negara banyak yang terhambat di pintu perbatasan Rafah. Aksi-aksi solidaritas, seperti konvoi dan upaya bantuan laut, menghadapi berbagai tantangan sehingga banyak di antaranya terpaksa kembali. Meski begitu, masih ada yang terus berupaya menerobos sampai ke Gaza.
Munculnya aktivis dan relawan kemanusiaan adalah reaksi wajar terhadap penderitaan ini. Namun simpati dan aksi kemanusiaan perlu dilengkapi dengan langkah yang lebih sistemis, yaitu akidah, persaudaraan muslim, tak kuasa melihat saudara sesamanya sakit, menderita, berlumuran darah, bahkan dibunuh!
Dalam riwayat Imam Bukhari dan Muslim disebutkan: “Tidak beriman salah seorang dari kalian sampai ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.”
Sayangnya, kecintaan antarsesama belum tercermin sepenuhnya dalam tindakan nyata. Cinta yang diawali oleh iman harus mendorong untuk kembali pada syariat Islam dan contoh Rasulullah saw.
Permasalahan Gaza bukan hanya soal kemanusiaan; akar konflik terkait pencaplokan tanah dan politik internasional yang kompleks. Solusi jangka panjang memerlukan komitmen dunia, penegakan hukum internasional, perlindungan hak asasi manusia, dan usaha bersama untuk menghentikan kekerasan.
Jika kita ingin berkontribusi, maka selain doa dan donasi, yang dapat dilakukan antara lain: memperkuat advokasi kemanusiaan, mendukung organisasi bantuan yang transparan, menyebarkan informasi yang akurat, dan menekan upaya diplomatik yang dapat membuka akses bantuan serta menghentikan tindakan yang melanggar hukum humaniter internasional.
Sekecil apa pun yang kita lakukan dalam perjuangan kemanusiaan akan menjadi hujjah di hari perhitungan, manakala penduduk Gaza yang syahid menuntut kita.
Ya Rabb, istikamahkan kami untuk terus menyampaikan kebenaran sampai ajal menjemput.
Ya Rabb, Engkau Maha Mengetahui, Maha Adil, janji-Mu benar; semoga peradaban Islam akan kembali. Aamiin, ya Allah.
Wallahu a‘lam bishshawab.
Cianjur, 29 September 2025 [MA]
Baca juga:
0 Comments: