Filisida Maternal: Tanda Bahaya yang Tak Bisa Diabaikan
Oleh: Yuly S. Hasna’, S.KM., M.Kes.
(Akademisi dan Pemerhati Kesehatan Ibu, Anak, dan Remaja)
SSCQMedia.Com—Anak adalah buah hati dan kesayangan orang tua. Setiap orang tua pasti sangat menyayangi anak-anaknya. Terlebih seorang ibu, mestinya memiliki rasa kasih sayang yang besar kepada anak-anaknya.
Ironisnya, yang terjadi saat ini justru sebaliknya. Sangat memprihatinkan, fakta yang baru saja terjadi pada September 2025, seorang ibu berinisial EN (34 tahun) ditemukan tewas gantung diri. Sebelum melakukan bunuh diri, EN meracuni kedua anaknya yang berusia 9 tahun dan 11 bulan di rumah kontrakannya di Kabupaten Bandung. Keluarga EN disinyalir terlilit pinjaman online (pinjol) dan judi online (judol) (Metrotvnews, 8/9/2025).
Fakta seperti ini bukanlah yang pertama kali terjadi. Inilah fenomena yang dinamakan filisida maternal, yaitu tindakan ibu membunuh anaknya sendiri.
Fenomena tragis ini sudah berulang kali terjadi di Indonesia. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat ada 60 kasus filisida pada 2024. Tahun 2025 pun kasus ini kembali terjadi. Tidak hanya di Jawa Barat, filisida maternal juga terjadi di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Agustus 2025. Dua anak, kakak beradik perempuan usia 6 tahun dan 3 tahun ditemukan meninggal dunia di Pantai Sigandu. Ibunya, VM (31 tahun), sebelumnya membawa anaknya ke tengah laut hingga tenggelam. VM terseret ombak hingga ke tepi pantai dan akhirnya ditemukan polisi bersembunyi di dalam toilet dalam kondisi linglung (Detik.com, 15/9/2025).
Penyebab Filisida Maternal
Filisida maternal adalah tragedi memilukan. Seorang ibu yang telah mengandung dan berjuang sekitar 9 bulan justru membunuh anaknya setelah lahir. Seorang ibu semestinya rela berkorban demi kebahagiaan anak. Maka, apa penyebab yang membuat seorang ibu sampai melakukan hal tersebut?
Penyebabnya pasti sangat berat, hingga membuat seorang ibu kehilangan akal sehat dan terganggu jiwanya.
Allah Swt. menganugerahkan naluri keibuan kepada setiap perempuan. Ibu secara fitrah akan selalu melindungi dan menjaga buah hatinya. Ketika ada kasus seorang ibu membunuh anaknya sendiri, tentu ada beban berat di luar batas kemampuannya yang menjadikan kasih sayang berubah menjadi tindakan tragis dan sadis.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) menyebut banyak faktor penyebab filisida maternal, di antaranya masalah ekonomi keluarga, gangguan mental orang tua, kurangnya pemahaman dalam pengasuhan anak, serta lemahnya dukungan keluarga dan lingkungan sekitar.
Sering kali penyebab filisida hanya dilihat dari sisi individu ibu atau persoalan keluarga. Padahal, ada faktor kompleks yang melatarbelakanginya: sosial, psikologis, dan ekonomi sebagai problem sistemik. Bila sistemnya sakit, maka orang yang hidup di dalamnya pun akan terdampak.
-
Faktor sosial: ibu merasa terisolasi akibat kurangnya dukungan keluarga dan masyarakat. Hubungan rumah tangga yang tidak harmonis, KDRT, perceraian, atau perselingkuhan membuat posisi ibu makin berat.
-
Faktor psikologis: kecemasan, depresi, baby blues, stres, hingga psikosis bisa membuat ibu putus asa dan berpikir salah bahwa mati lebih baik daripada terus menderita.
-
Faktor ekonomi: kebutuhan hidup yang tak terpenuhi, harga melambung tinggi, sulitnya pekerjaan dengan gaji layak, utang menumpuk, hingga jeratan judol, semakin menambah berat beban hidup.
Seharusnya beban tersebut tidak hanya dipikul ibu, melainkan juga suami dan negara.
Kapitalisme Membebani Peran Ibu
Dalam sistem kapitalisme, beban ibu dalam keluarga semakin berat. Ibu bukan hanya mengurus rumah tangga, tetapi juga dituntut ikut mencari nafkah. Sementara itu, harga kebutuhan pokok makin melambung, biaya pendidikan dan kesehatan mahal, dan rumah semakin tak terjangkau.
Seharusnya kebutuhan dasar manusia dijamin negara. Namun, ketika tanggung jawab itu dilepaskan, banyak ibu merasa letih, kehilangan arah, bahkan putus asa. Pada akhirnya, sebagian memilih jalan keliru dengan mengakhiri hidup, bahkan mengajak anak-anaknya.
Islam Memberi Solusi Sistemik dan Tuntas
Islam memandang perempuan dalam posisinya sebagai ibu dengan kedudukan mulia. Ibu adalah madrasah pertama, pencetak generasi tangguh dan Qurani. Agar bisa menjalankan perannya dengan baik, ibu harus didukung sistem yang baik.
Masalah filisida maternal tidak cukup diselesaikan dengan konseling psikologis semata. Sebab, masalah ini bukan hanya faktor individu, tetapi juga sistemik.
-
Nafkah dijamin suami
Allah Swt. berfirman:
“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara makruf.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 233)
Ayat ini menegaskan bahwa nafkah keluarga adalah kewajiban suami, bukan dibebankan kepada istri.
-
Perhatian khusus bagi ibu
Islam memberi keringanan pada ibu hamil dan menyusui, termasuk boleh tidak berpuasa agar kondisi fisik dan mentalnya tetap sehat. -
Negara menjamin kebutuhan dasar rakyat
Negara wajib menyediakan lapangan kerja, menjamin kebutuhan pokok, memberikan perlindungan sosial, serta menyediakan layanan kesehatan gratis, termasuk kesehatan mental.
Rasulullah ï·º bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya.”
(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Hadis ini menegaskan pentingnya tanggung jawab suami dalam menciptakan keluarga penuh kasih sayang.
Penutup
Dengan sistem Islam, ibu bisa fokus pada peran sebagai al-ummu wa robbatul bait (ibu dan pengatur rumah tangga) dengan penuh cinta dan kasih sayang. Islam menjamin kesejahteraan keluarga, sehingga ibu terhindar dari tekanan yang memicu putus asa.
Filisida maternal adalah problem sistemik. Solusi tuntasnya hanya dengan mengganti sistem kapitalisme yang rusak dengan sistem Islam. Dengan demikian, ibu bisa menjalankan perannya dengan optimal, penuh cinta, bahagia, dan jauh dari putus asa.
Wallahualam bissawab. [Ni]
Baca juga:
0 Comments: