Fenomena Job Hugging Viral, Butuh Solusi Fundamental
Oleh: Eva Hana
(Pendidik Generasi)
SSCQMedia.Com — Job hugging menjadi fenomenal setelah banyak pekerja memilih bertahan di tempat lama daripada harus mengambil risiko pindah kerja di tengah situasi pasar kerja yang penuh ketidakpastian. Mereka khawatir sulit mendapatkan pekerjaan baru.
Padahal, dahulu orang cenderung senang melakukan job hopping, yaitu berpindah tempat kerja demi mengejar gaji lebih tinggi atau pengalaman yang lebih menarik dan menantang. Namun, sulitnya mendapatkan pekerjaan membuat pekerja muda memilih bertahan dengan pekerjaan yang ada, meski tidak disukai atau membuatnya menderita.
Fenomena job hugging ini viral setelah laporan Glassdoor Worklife Trends 2025 menunjukkan pasar kerja lesu dengan perekrutan lambat. Akibatnya, banyak pekerja terjebak dalam karier mereka. Menurut Glassdoor, hampir 2 dari 3 (65 persen) responden merasa “terjebak” dalam peran saat ini. Bahkan di bidang teknologi, angkanya mencapai 73 persen (tempo.co, 24/9/25).
Faktor Penyebab Munculnya Tren Job Hugging
Terdapat faktor penyebab munculnya tren job hugging di antaranya:
Pertama, kecenderungan memilih untuk bertahan karena tidak ada pilihan. Sulitnya mencari pekerjaan membuat seseorang lebih baik bertahan daripada kehilangan pekerjaan.
Kedua, stabilitas keuangan menjadi zona nyaman sehingga pekerja enggan mengambil risiko mencari peluang baru yang belum pasti.
Ketiga, ketimpangan jumlah tenaga kerja dengan lapangan kerja mendorong seseorang memilih mendekap pekerjaan yang dijalani. Fenomena job fair yang membludak di setiap daerah menjadi bukti terbatasnya ketersediaan lapangan pekerjaan.
Ditambah dengan berkembangnya digitalisasi, perusahaan atau industri cenderung melakukan efisiensi biaya dan restrukturisasi dengan mengandalkan mesin dan teknologi. Akibatnya, sejumlah pekerjaan tergantikan oleh otomatisasi, kecerdasan buatan (AI), dan robotika. Alhasil, kebutuhan tenaga kerja manusia makin berkurang.
Perlambatan ekonomi juga memperburuk situasi. Dengan suku bunga tinggi, perusahaan enggan berekspansi dan cenderung menahan perekrutan. Akibatnya, kinerja perusahaan menjadi tidak optimal.
Keempat, inflasi dan resesi menunjukkan situasi ekonomi global yang tidak pasti. Hal ini membuat pekerja lebih memilih bertahan di pekerjaan yang ada daripada mencari yang baru.
Kapitalisme dan Fenomena Job Hugging
Maraknya fenomena job hugging dapat dilihat sebagai persoalan kompleks yang terkait dengan sistem kapitalisme. Kapitalisme global telah nyata gagal menjamin pekerjaan bagi rakyat.
Sistem kapitalisme menciptakan kesenjangan ekonomi yang besar antara pekerja dan pemilik modal. Pekerja sulit meningkatkan taraf hidup karena diposisikan sebagai bagian dari mesin produksi. Alhasil, manusia mudah tereksploitasi dengan tuntutan kerja tinggi tetapi gaji rendah, bahkan jauh dari kesejahteraan.
Dalam kapitalisme, negara tidak terlibat langsung dalam penciptaan lapangan pekerjaan. Sebaliknya, pihak swasta mengambil alih kewajiban negara untuk menyediakan pekerjaan. Upah pun ditetapkan berdasarkan standar kebutuhan hidup minimum masyarakat. Akibatnya, keadilan dan kesejahteraan sulit dicapai.
Para pekerja juga harus bersaing demi mendapatkan pekerjaan yang tersedia di pasar. Jika berhasil mendapatkannya, mereka tetap bergantung pada perusahaan untuk penghasilan, sehingga kerap terjebak dalam tuntutan perusahaan. Ditambah lagi, risiko pengangguran selalu ada karena keberlangsungan pekerjaan bergantung pada situasi ekonomi. Akibatnya, pekerja rentan tereksploitasi tenaga, waktu, dan pikirannya demi mempertahankan bisnis pemilik modal.
Negara juga tidak memberikan jaminan terhadap kebutuhan dasar individu maupun publik, sehingga nasib pekerja jauh dari sejahtera. Sekalipun mahasiswa telah disiapkan adaptif dengan dunia kerja melalui kurikulum kampus, namun karena prinsip liberalisasi perdagangan, negara lepas tangan dalam memastikan warganya dapat bekerja. Dalam kondisi yang makin sulit, mahasiswa dituntut mampu berinovasi, menciptakan peluang kerja, dan siap menghadapi persaingan ketat. Jika tidak mampu, jangan berharap dapat meningkatkan taraf hidup. Padahal, menjamin ketersediaan lapangan kerja bagi rakyat adalah tanggung jawab negara.
Islam sebagai Solusi
Berbeda dengan kapitalisme, peran negara dalam Islam tertulis jelas dalam nash, yakni sebagai pengurus rakyat.
Rasulullah saw. bersabda:
"Imam itu adalah pemimpin dan dia diminta pertanggungjawaban atas orang yang ia pimpin." (HR. Bukhari dan Muslim).
Fenomena job hugging, risiko pengangguran, serta PHK massal tidak akan terjadi jika negara memahami syariat Islam dan menjalankan fungsinya sebagai pengurus rakyat. Negara wajib menetapkan kebijakan yang mencegah masalah tenaga kerja, di antaranya:
Pertama, sumber daya alam yang terkategori milik umum, termasuk tambang dikelola oleh negara. Islam melarang menyerahkan pengelolaan harta milik umum kepada individu atau swasta. Dengan aturan ini, negara dapat membangun industri sumber daya alam strategis yang memungkinkan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Penyediaan lapangan kerja dalam industri strategis juga akan mendorong masyarakat meningkatkan keterampilan dan kemampuannya.
Kedua, menerapkan syariat ihyaul mawat, yaitu menghidupkan tanah mati,yaitu tanah yang telah ditelantarkan pemiliknya kepada siapa saja yang dapat mengelolanya sehingga produktivitas masyarakat akan tumbuh dan berkembang.
Rasulullah saw. bersabda: "Barang siapa yang menghidupkan tanah mati (membuka lahan baru), tanah itu menjadi miliknya." (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan Abu Dawud).
Hadis ini menunjukkan bahwa usaha untuk memproduktifkan tanah akan membawa keberkahan dan tanah tersebut menjadi milik siapa yang berusaha.
Ketiga, memberi tanah produktif yang membutuhkan untuk bertani/berkebun (iqtha'). Kebijakan ini dapat mengatasi angka pengangguran dan membuat rakyat lebih produktif bekerja.
Keempat, negara mendorong individu bekerja, dengan memberikan modal berupa hibah atau pinjaman tanpa riba agar rakyat dapat memulai usahanya. Negara juga akan memberikan fasilitas berupa pelatihan dan keterampilan agar rakyat dapat bekerja pada beragam jenis industri dan pekerjaan.
Dengan mekanisme ini, jaminan pekerjaan dan kebutuhan hidup masyarakat mudah diwujudkan. Semua itu hanya bisa dilakukan ketika sistem Islam diterapkan secara menyeluruh dalam kehidupan.
Wallahualam bissawab. [An]
Baca juga:
0 Comments: