Headlines
Loading...
Oleh. Arik Rahmawati

Moderasi beragama dianggap sebagai jalan keluar untuk menghadapi segala hal yang bisa memecah belah bangsa. Pemerintah terus melakukan berbagai upaya untuk menyadarkan masyarakat mulai dari adanya diklat, diskusi, seminar, membuat kurikulum, mencetak para instruktur, membuat rumah moderasi, dan lain-lain agar segera beralih ke pemahaman yang baru ini. 

Diindikasikan moderasi beragama ini dalam rangka melawan Islam radikal. Islam radikal adalah Islam yang tidak menerima nilai-nilai Barat termasuk demokrasi, sekuler, pluralisme serta liberalisme. 

Islam dipecah menjadi dua istilah dalam moderasi beragama ini. Kalau kamu tidak moderat berarti kamu radikal dan nantinya akan berkonsekuensi hukum. Pemerintah melakukan tafsir tunggal atas agama Islam. Benarkah demikian? Apakah Islam tidak sempurna sehingga perlu ditafsirkan ulang? 

Di tengah kasus Sambo yang belum selesai, kenaikan harga BBM, pemutusan hubungan kerja, merebaknya narkoba, oknum-oknum nakal di kepolisian, adanya ijazah palsu, harga-harga yang semakin meroket naik justru moderasi dianggap sebagai solusi. Lalu dimana relevansinya? Dimana kaitan antara masalah dan solusinya? 

Lalu apakah para koruptor itu dilabeli radikal? Apakah para pembunuh dan yang bersekongkol itu juga dilabeli radikal?  Apakah oknum-oknum nakal di kepolisian itu disebut garis keras? Atau mereka para pengedar sabu-sabu dan narkoba dijuluki aliran ekstrim? Atau mereka yang membohongi rakyat pernahkah mereka semua disebut teroris? Selama ini mereka para penjahat itu tak pernah disebut teroris. Jadi, istilah teroris itu adalah istilah politik yang tidak netral lagi. 

Sesungguhnya moderasi ini tak bisa dilepaskan dari kata moderat yang artinya pertengahan. Istilah moderat ini berasal dari dunia Barat. Waktu itu Eropa pernah mengalami masa kegelapan di mana para gerejawan yang menguasai pemerintahan, sementara para intelektual tidak menerima ajaran para gerejawan diterapkan dalam kehidupan bernegara. Sehingga diambillah jalan tengah. Jadi moderasi ini sangat terkait erat dengan sekulerisme yang juga sama-sama mengambil jalan tengah. 

Sedangkan di dalam Islam tidak mengenal istilah moderasi. Moderasi tak memiliki akar teologis maupun historis. Moderasi ini adalah paham yang menjadikan Islam sesuai dengan kehendak Barat. Islam yang ramah versi Barat, Islam yang toleran ala Barat dan Islam yang bisa mau bekerjasama dengan Barat. 

Lantas apa tolok ukurnya jika seseorang dikatakan moderat? Ada empat indikator seseorang dianggap sudah moderat.

1. Memiliki wawasan kebangsaan
2. Bersikap toleransi
3. Non kekerasan
4. Menerima adat

Telaah Kritis Indikator Moderasi Beragama. 

Yang pertama adalah wawasan kebangsaan. Yang menjadi pertanyaan adalah jika wawasan kebangsaan menjadi indikator seseorang moderat ataukah tidak tentunya para pejabat yang pertama kali dites wawasan kebangsaannya terlebih dahulu. Sudahkah mereka memiliki rasa nasionalis yang tinggi? Jika menjual aset bangsa, itu nasionalis apa tidak? Jika membunuh sesama anak bangsa, itu nasionalis apa tidak? Jangan sampai rakyat yang dikejar-kejar untuk dicap tidak nasionalis sedangkan pejabat melenggang. 

Yang kedua bersikap toleransi. Toleransi itu harus didasarkan pada syariat Islam yang artinya tidak mentolerir segala kemaksiatan yang ada. Bukan berarti toleran jika menerima L9BT. Karena toleran ala Barat beda dengan toleran ala Islam. 

Yang ketiga non kekerasan. Non kekerasan itu juga harus didasarkan syariat Islam. Bukan berarti jihad itu kekerasan. Jihad itu adalah syariat Islam. Kalau tolok ukur Barat yang pasti Jihad itu adalah haram. 

Yang keempat, menerima adat. Jika adat berbenturan dengan Islam maka dalam moderasi beragama, Islam harus dikalahkan dan adat harus dinomor satukan. Misal, jika dalam suatu daerah, miras menjadi budaya atau adat maka budaya ini tak boleh diberhentikan. Lain halnya di dalam Islam, bahwa adat harus dihapuskan jika berbenturan dengan syariat Islam. 

Nah, dari keempat indikator ini bisa dilihat bahwa moderasi beragama sangat bertentangan dengan Islam. Syarat ini menjadikan kaum muslimin tidak bisa menjalankan syariat Islam secara kaffah dalam bingkai daulah Kh!l4fah Islamiyah. Saat ini syariat Islam digunakan hanya sekedar ibadah ritual semata. 

Untuk itu sudah selayaknya kaum muslimin tidak mengikuti mereka yang mempropagandakan moderasi ini. Karena moderasi ini syarat dengan kepentingan Barat. Kaum muslimin harus melakukan upaya dakwah berjamaah sehingga umat akan bersatu melawan opini yang bertentangan dengan syariat Islam.

Baca juga:

0 Comments: