Santri Sejati: Penguat Negeri, Pelopor Kebangkitan Hakiki
Oleh: Henis Ummu Safa
(Kontributor SSCQ Media)
SSCQMedia.com—Dulu, santri berjihad dengan bambu runcing melawan penjajah. Hari ini, jihad hanya dimaknai sebagai upaya melawan kebodohan dan kemiskinan melalui teknologi demi mewujudkan Indonesia Emas.
Fakta ini merujuk pada naskah khotbah Jumat resmi yang dirilis Kementerian Agama pada 15 Oktober 2026 dengan tema "Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas". Dalam naskah tersebut, Kemenag menegaskan bahwa jihad santri hari ini harus menemukan bentuk baru melalui penguasaan ilmu agama, pengetahuan, teknologi, dan karya nyata.
Jihad itu diwujudkan dengan melawan kebodohan melalui ilmu, kemiskinan melalui pemberdayaan, korupsi melalui integritas, perpecahan melalui persaudaraan, kerusakan lingkungan melalui upaya menjaga bumi, serta kezaliman melalui penegakan keadilan. Semua itu dilakukan untuk menjadikan pesantren sebagai pusat pengembangan sumber daya manusia (SDM), ketahanan pangan, ekonomi hijau, dan representasi Islam Indonesia yang damai di dunia (kemenag.go.id).
Narasi Kemenag tersebut tampak baik dan ideal. Namun, bisakah kebangkitan hakiki lahir jika kita masih berkutat pada persoalan teknis, sementara kehidupan masih berada dalam sistem yang rusak?
Saat ini, kita hidup dalam sistem kapitalisme-sekuler. Kapitalisme menjadikan keuntungan materi sebagai tujuan tertinggi, meskipun hal itu jelas bertentangan dengan ajaran agama.
Inilah yang melahirkan sistem sekuler, yaitu sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. Agama hanya ditempatkan di ruang privat, yakni di masjid dan hati masing-masing individu. Agama tidak boleh ikut mengatur bagaimana negara mengelola ekonomi, pendidikan, politik, dan hukum.
Maka, tidak mengherankan jika kita menyaksikan berbagai fakta berikut.
Kita ingin melawan kebodohan dengan ilmu, tetapi sistem sekuler justru menjauhkan ilmu agama dari kurikulum pendidikan negara. Generasi tumbuh tanpa benteng akidah yang kuat. Pendidikan sekuler gagal membentuk generasi berkepribadian luhur. Buktinya, kasus bullying, konsumsi minuman keras, tawuran, dan kekerasan seksual masih marak terjadi.
Kita ingin melawan kemiskinan dengan pemberdayaan, tetapi kapitalisme justru melanggengkan kemiskinan. Sumber daya alam (SDA) yang seharusnya dikelola negara untuk kepentingan rakyat malah diserahkan kepada korporasi atas nama investasi. Akibatnya, rakyat di negeri yang kaya sumber daya alam tetap hidup dalam kemiskinan dan harus mengantre untuk mendapatkan bantuan sosial.
Kita ingin melawan kerusakan lingkungan dengan menjaga bumi, tetapi sistem yang berorientasi pada keuntungan materi justru menjadi salah satu penyebab utama kerusakan lingkungan. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus berulang. Banjir dan longsor terjadi akibat hutan dibabat untuk kepentingan pertambangan dan perkebunan sawit. Bagi sistem ini, bumi hanyalah objek yang bisa dikeruk, bukan amanah yang harus dijaga.
Kita ingin melawan korupsi dengan integritas, tetapi sistem ini justru melahirkan korupsi sistemis. Jabatan dianggap sebagai ladang bisnis untuk mengembalikan modal kampanye, bahkan hukum pun bisa diperjualbelikan.
Kita ingin melawan perpecahan dengan persaudaraan, tetapi sistem hari ini justru memecah belah masyarakat demi memperebutkan kursi kekuasaan. Persaudaraan yang berlandaskan akidah digantikan dengan fanatisme kelompok.
Kita ingin melawan kezaliman dengan keadilan, tetapi bagaimana keadilan bisa tegak jika hukum yang diterapkan bukan hukum Allah? Akibatnya, hukum menjadi tajam ke bawah, tetapi tumpul ke atas.
Selanjutnya, kita diminta menjadikan pesantren sebagai pusat pengembangan SDM, ketahanan pangan, ekonomi hijau, dan representasi Islam yang damai. Ini merupakan beban berat. Faktanya, pesantren diminta mewujudkan ketahanan pangan ketika harga pupuk mahal dan lahan dikuasai korporasi. Pesantren juga diminta mengembangkan ekonomi hijau ketika hutan masih dibabat dan sungai dicemari limbah pabrik.
Sementara itu, wajah Islam yang damai yang dimaksud justru berpotensi dimaknai sebagai Islam yang jinak dan tunduk pada kapitalisme-sekuler, yakni Islam yang tidak boleh berbicara tentang sistem pemerintahan dan ekonomi Islam. Padahal, Islam yang membawa kedamaian sejati adalah Islam yang diterapkan secara kaffah sehingga rahmat-Nya dirasakan oleh seluruh alam.
Artinya, selama masih berada dalam sistem yang rusak ini, jihad kita hanya akan menjadi upaya tambal sulam. Kita sibuk mengobati luka, tetapi membiarkan pisau penyebab luka itu tetap menancap.
Karena itu, jihad santri tidak akan pernah benar-benar menguatkan negeri selama sistem kapitalisme-sekuler masih mencengkeram. Bagaimana negeri bisa kuat jika aturan Allah dipisahkan dari kehidupan?
Santri Pelopor Kebangkitan Islam
Santri sejati tidak hanya puas menjadi penguat negeri di dalam sistem yang rusak, tetapi juga harus menjadi pelopor kebangkitan Islam yang hakiki. Mereka harus berjuang mencabut kapitalisme-sekuler hingga ke akar-akarnya dan menggantinya dengan sistem Islam.
Kebangkitan hakiki bukan sekadar bangkit secara ekonomi atau teknologi, melainkan bangkit dengan kembali kepada jati diri sebagai hamba Allah yang menerapkan Islam secara kaffah.
Pertama, melawan kebodohan dengan ilmu Islam. Pendidikan Islam membentuk generasi yang cerdas sekaligus bertakwa karena kurikulumnya berasaskan akidah Islam, bukan sekularisme.
Kedua, melawan kemiskinan dengan sistem ekonomi Islam. Sumber daya alam milik umum dikelola negara untuk kesejahteraan rakyat. Baitulmal difungsikan secara sistemis agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi sehingga tidak ada lagi rakyat yang harus lelah mengantre bantuan sosial.
Ketiga, melawan kerusakan lingkungan dengan kesadaran sebagai pemegang amanah kekhalifahan. Negara harus tegas melarang korporasi merusak hutan dan mencemari sungai karena menjaga bumi merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah.
Keempat, melawan korupsi dengan sistem yang bersih dan ketakwaan. Korupsi dicegah melalui tata kelola pemerintahan yang bersih, tanpa biaya politik yang mahal, serta ditopang oleh sanksi tegas dan kesadaran akan pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Kelima, melawan perpecahan dengan ukhuwah Islamiyah. Persatuan hakiki hanya dapat terwujud jika ikatannya adalah akidah Islam, bukan fanatisme kelompok atau partai.
Keenam, melawan kezaliman dengan keadilan Islam. Keadilan sejati hanya lahir dari hukum yang bersumber dari Zat Yang Maha Adil, yaitu hukum Allah yang bersumber dari Al-Qur'an.
Ketujuh, menjadikan pesantren sebagai pelopor, bukan sekadar pelengkap. Jika Islam diterapkan secara kaffah, pesantren akan kembali menjadi pusat peradaban yang melahirkan ulama, mujtahid, dan pemimpin umat.
Inilah jihad santri yang sesungguhnya. Bukan sekadar menjadi penguat negeri di dalam sistem yang rusak, melainkan menjadi pelopor kebangkitan hakiki.
Tugas besar santri hari ini adalah berada di garda terdepan untuk mengembalikan Islam sebagai aturan kehidupan yang mengatur negara, ekonomi, pendidikan, hukum, dan seluruh aspek kehidupan.
Sebab, hanya ketika aturan Allah diterapkan secara kaffah, negeri ini benar-benar dapat menjadi kuat, adil, dan sejahtera sehingga rahmat-Nya dirasakan oleh seluruh alam. Sebagaimana firman Allah Swt.:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً
"Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan." (QS. Al-Baqarah: 208)
وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ
"Dan hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah." (QS. Al-Maidah: 49)
Saat itulah kebangkitan hakiki terwujud dan santri dapat menjadi barisan terdepan dalam kebangkitan Islam.
Wallahualam bissawab. [Ni/Wa]
Baca juga:
0 Comments: