Headlines
Loading...
Bebaskan Palestina dengan Dakwah dan Khilafah

Bebaskan Palestina dengan Dakwah dan Khilafah

Oleh: Ummi Fatih
(Kontributor SSCQ Media)

SSCQMedia.com—Penjajahan Israel terhadap Palestina tidak hanya merenggut nyawa penduduk secara langsung. Ada berbagai strategi yang turut memperburuk kehidupan masyarakat Palestina dan membuat mereka semakin terdesak di tanah kelahirannya sendiri.

Salah satunya adalah penghancuran lahan perkebunan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat. Strategi ini berpotensi memperburuk kondisi ekonomi warga Palestina hingga mereka kehilangan mata pencaharian dan semakin sulit bertahan di tanahnya sendiri.

Menjelang masa panen zaitun  Oktober 2026, buldoser militer Israel dilaporkan telah menghancurkan kebun milik petani Palestina seluas 31 ribu [periksa kembali satuan luas] di wilayah pendudukan. Akibatnya, harapan petani untuk memperoleh penghasilan dari panen zaitun semakin pupus. Mata pencaharian yang selama ini mereka bangun dengan susah payah terancam hilang. (CNNIndonesia.com, 28/09/2026)

Selain menghancurkan sumber penghidupan, kekerasan terhadap jurnalis dan aktivis juga menjadi persoalan serius. Mereka yang berusaha mendokumentasikan dan menyuarakan kondisi Palestina turut menghadapi ancaman. Bahkan, kekerasan yang dilakukan para pemukim Israel tidak hanya menyasar warga Palestina, tetapi juga pihak asing yang berada di wilayah tersebut.

Pada Senin, 19 Oktober 2026, sepuluh pemukim sipil Israel dilaporkan melakukan penyerangan terhadap jurnalis Amerika Serikat dan diplomat Eropa di wilayah Tepi Barat. (Antara, 19/10/2026)

Menanggapi peristiwa tersebut, Uni Eropa mendesak pemerintahan Benjamin Netanyahu untuk mengambil langkah hukum dan keamanan guna menghentikan kekerasan. Uni Eropa juga menyoroti pentingnya penegakan hukum humaniter internasional, perlindungan hak asasi manusia, serta penghentian perluasan permukiman ilegal. (MetroTVNews.com, 18/10/2026)

Namun, peristiwa ini juga mengundang pertanyaan. Apakah perhatian negara-negara Eropa terhadap kekerasan di Palestina akan sama ketika korbannya bukan warga negara mereka sendiri?

Lantas, bagaimana dengan kepedulian umat Islam terhadap saudara seiman di Palestina? Selama ini, berbagai bentuk solidaritas telah dilakukan. Mulai dari penyaluran bantuan kemanusiaan, gerakan boikot produk yang berkaitan dengan Israel, demonstrasi membela Palestina, hingga doa yang terus dipanjatkan kepada Allah Swt.

Namun, berbagai aksi tersebut belum mampu menghentikan penjajahan. Kondisi ini menunjukkan bahwa solidaritas umat perlu diperkuat dengan langkah yang lebih terarah dan berkelanjutan.

Dari sisi kenegaraan, kecaman dan pernyataan dukungan terhadap Palestina juga telah disampaikan oleh sejumlah negeri Muslim. Akan tetapi, berbagai pernyataan tersebut belum menghasilkan perubahan yang mampu mengakhiri penderitaan rakyat Palestina. Sementara itu, dukungan terhadap Israel masih terlihat dalam dinamika politik internasional.

Lantas, bagaimana membangun kekuatan umat agar mampu memberikan perlindungan nyata kepada Palestina? Mengapa persatuan politik negeri-negeri Muslim belum terwujud?

Mencari Pahlawan Sejati

Serangan Israel terhadap Palestina tidak bisa dilepaskan dari persoalan politik internasional. Karena itu, penyelesaiannya juga membutuhkan langkah politik yang serius, bukan hanya bantuan kemanusiaan dan kecaman diplomatik.

Dalam pandangan politik Islam, persatuan negeri-negeri Muslim melalui institusi Khilafah adalah salah satu gagasan untuk membangun kekuatan umat. Khilafah adalah sistem kepemimpinan yang berlandaskan syariat Islam dan bertujuan menyatukan umat dalam satu kepemimpinan.

Persatuan tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi politik negeri-negeri Muslim dalam menghadapi berbagai persoalan yang menimpa umat Islam, termasuk penjajahan Palestina.

Rasulullah saw. bersabda:

“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Dia tidak boleh menzaliminya dan tidak boleh membiarkannya (untuk disakiti atau dizalimi). Barang siapa membantu kebutuhan saudaranya, Allah akan membantu kebutuhannya. Barang siapa menghilangkan satu kesusahan seorang muslim, Allah akan menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan pada hari Kiamat. Barang siapa menutupi (aib) seorang muslim, Allah akan menutupi (aibnya) pada hari Kiamat.” (HR. Bukhari).

Hadis tersebut mengajarkan bahwa persaudaraan Islam harus diwujudkan melalui kepedulian dan tindakan nyata. Seorang muslim tidak cukup hanya merasa prihatin ketika saudaranya tertimpa kesulitan. Ia juga harus berusaha memberikan pertolongan sesuai kemampuan dan ketentuan syariat.

Jika masyarakat menyerukan boikot, kepedulian itu dapat diperkuat melalui kebijakan ekonomi yang berpihak pada kemerdekaan Palestina. Jika individu dan lembaga kemanusiaan menyalurkan bantuan, negara juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan bantuan tersebut sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.

Dengan demikian, kepedulian tidak berhenti pada rasa belas kasihan dan kemanusiaan. Namun, juga dilandasi keimanan yang mendorong umat Islam untuk menjaga kehormatan dan melindungi saudara seiman, termasuk memperjuangkan kebebasan Masjidilaqsa.

Allah Swt. berfirman:

سُبْØ­َانَ الَّذِÙŠ Ø£َسْرَÙ‰ٰ بِعَبْدِÙ‡ِ Ù„َÙŠْÙ„ًا Ù…ِÙ†َ الْÙ…َسْجِدِ الْØ­َرَامِ Ø¥ِÙ„َÙ‰ الْÙ…َسْجِدِ الْØ£َÙ‚ْصَÙ‰ الَّذِÙŠ بَارَÙƒْÙ†َا Ø­َÙˆْÙ„َÙ‡ُ Ù„ِÙ†ُرِÙŠَÙ‡ُ Ù…ِÙ†ْ آيَاتِÙ†َا ۚ Ø¥ِÙ†َّÙ‡ُ Ù‡ُÙˆَ السَّÙ…ِيعُ الْبَصِيرُ

“Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Al-Isra': 1).

Menjemput Khilafah

Sayangnya, ketika pahlawan sejati berbentuk negara Khilafah itu masih terpendam dalam sejarah, maka umat Islam harus segera bergerak serentak untuk menegakkannya kembali. Melalui dakwah pemikiran politis Islam yang teguh, lembut, dan tanpa unsur kekerasan.

‎Sebagaimana aktivitas dakwah yang pernah Rasulullah saw. dan para sahabatnya lakukan dahulu kala. Kegemilangan peradaban Islam yang tegak di Madinah bisa terjadi tanpa konflik maupun perang. Hanya diskusi pemikiran yang berhasil menyadarkan pemimpin-pemimpin kabilah akan kesempurnaan ajaran Islam. Dengan begitu, semangat keimanan mereka mampu diwujudkan dalam hal peribadahan spiritual maupun penerapan hukum Islam di atas kursi kekuasaan.

‎Intinya, pahlawan sejati adalah negara khilafah. Sedangkan langkah awal untuk menjemput negara pahlawan itu harus dilakukan secara dakwah politik Islam. Sebab dengan langkah itu, negeri-negeri Islam akan sadar dan menyatu kuat, membela saudara seiman yang ditindas. Lalu, mengusir kaum penjajah hingga tak mampu lagi bertindak buas. [Hz/HEM]

Baca juga:

0 Comments: