Headlines
Loading...
Wujud Kedekatan Seorang Hamba kepada Allah

Wujud Kedekatan Seorang Hamba kepada Allah


Oleh: Rita Mutiara
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com—Kita semua mengetahui cerita latar belakang peristiwa ibadah kurban. Saya mengetahui saat guru agama bercerita, waktu saya masih sekolah dasar. Guru menceritakan tentang kisah Nabi Ibrahim.

Nabi Ibrahim mengalami mimpi yang mengejutkan, yakni menyembelih putranya, Ismail. Mimpi mengorbankan Ismail tersebut terjadi sebanyak tiga kali. Nabi Ibrahim begitu gelisah dengan makna dari kebenaran mimpi tersebut. Beliau  memohon petunjuk kepada Allah, agar tidak salah dalam mengambil keputusan.

Pada hari ketiga, akhirnya Nabi Ibrahim menyadari bahwa mimpi tersebut benar datangnya dari Allah. Kisah perintah kurban kepada Nabi Ibrahim, disampaikan oleh Allah melalui mimpi dalam Al-Qur’an surah As-Saffat ayat 102.

Usia Ismail berkisar antara 7 hingga 13 tahun saat Ibrahim menyampaikan pada Ismail, bahwa perintah menyembelih ini dalam rangka ketaatan dan pengorbanan kepada Allah. Dengan keimanan yang tinggi, Ismail tidak keberatan disembelih sebagai bukti ketaatan kepada Allah. Tetapi dengan sifat  Maha Pengasih dan Maha Penyayang Allah mengganti Ismail dengan seekor kambing. 

Berdasarkan cerita tersebut, saya berpikir bahwa ibadah kurban hanya untuk mengingatkan peristiwa besar sebagai simbol ketaatan kepada Allah. Oleh karena itu, menyembelih binatang kurban dilakukan setiap tahun pada Hari Raya Iduladha. 

Dalam kesempatan yang lain, saya  mendapat penjelasan tentang keutamaan kurban dari sebuah hadis:

    عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ إِنَّهَا لَتَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلَافِهَا وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنْ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنْ الْأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا   

Artinya: “Aisyah menuturkan dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda, “Tidak ada suatu amalan yang dikerjakan anak Adam (manusia) pada Hari Raya Iduladha yang lebih dicintai oleh Allah dari menyembelih hewan. Karena hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kuku kakinya. Darah hewan itu akan sampai di sisi Allah sebelum menetes ke tanah. Karenanya, lapangkanlah jiwamu untuk melakukannya.” (Hadis hasan, Riwayat al-Tirmidzi: 1413 dan Ibn Majah: 3117)

Keutamaan berkurban begitu istimewa. Pada hari kiamat, hewan kurban akan datang kepada orang yang menyembelihnya dalam keadaan sempurna seperti di dunia, tanpa kekurangan apa pun pada setiap anggota tubuhnya. 

Riwayat lain menyebutkan, hewan kurban akan menjadi kendaraan bagi seseorang saat melewati sirat. Hal ini merupakan pahala atau bentuk balasan dan bukti keridaan Allah terhadap ibadah kurban.
 
Kini saat membuat tulisan ini, rasanya pemahaman tentang makna kurban bertambah. Alhamdulillah, dengan mencari bahan untuk menulis tugas dari SSCQ ini, terdorong untuk menambah pemahaman saya tentang ibadah kurban. Saya ikut berjuang bersama sahabat-sahabat dalam komunitas SSCQ untuk menjadi pemenang challenge. 

Berhadiah seekor kambing kurban yang akan dipersembahkan untuk guru. Guru yang pilih adalah guru tahsin saya. Orangnya sederhana, tapi pandai mengajarkan tajwid Al-Qur’an. Dalam penampilan yang sangat sederhana, saya yakin dia akan bahagia, jika berkesempatan bisa melaksanakan ibadah kurban. Tapi, sebagai manusia biasa saya hanya ikhtiar, Allah yang menentukan  segalanya.

Saya menemukan tentang makna kata kurban yang dijelaskan Ustaz Adi Hidayat. Saya sarikan sebagai berikut,

Kurban berasal dari bahasa Arab kurban قربان yang berarti dekat. Kata qoriib terdapat dalam firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 214,

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَآءُ وَالضَّرَّآءُ وَزُلْزِلُوا حَتّٰى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَهُۥ مَتٰى نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَآ إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ ﴿۲۱۴﴾

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan) sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.”

Menurut Ustaz Adi Hidayat, asal kata kurban bukan menyembelih. Secara bahasa, artinya kurban adalah suatu amalan yang bila dilakukan akan menambah kedekatan kepada Allah.

Oleh karena itu, amal ibadah kurban tidak ditentukan dari beratnya timbangan daging yang dikurbankan. Tetapi dengan melakukan amal kurban bertujuan menambah kedekatan kepada Allah. Sehingga dampaknya ibadah kepada Allah semakin baik. Misalnya salatnya, puasa, zakat dan amal ibadah lainnya bertambah kuantitas dan kualitasnya.
 
Nabi Muhammad saw. dan para sahabatnya senantiasa berkurban,  Menyembelih hewan kurban pada Hari Raya Iduladha dan hari-hari tasyrik. Allah berjanji, bahwa siapa pun yang mendekat kepada-Nya, maka Dia akan memberikan jalan keluar dari setiap kesulitan. Hal ini menunjukkan, semakin kita dekat dengan Allah, semakin banyak keberkahan yang akan kita rasakan.  
 
Allah berfirman: “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. At-Talaq: 2-3)  

Semakin seseorang mendekat kepada Allah, maka semakin kuat pula imannya. Tentu akan semakin yakin terhadap kebesaran dan kekuasaan Allah, hingga rida menjalankan perintah-Nya. 
Ibadah kurban harus sesuai dengan sunah dalam hukum dan tata cara pelaksanaannya. [Ni/HEM]

Baca juga:

0 Comments: