Headlines
Loading...
Pembuka Kehidupan dari Penuntun Jiwa

Pembuka Kehidupan dari Penuntun Jiwa


Oleh: Sri Khadijah
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com—Dari sudut pulau kecil aku terlahir istimewa dengan tanda yang akan melekat sampai akhir hayatku. Sejak kecil wajahku menjadi bahan ejekan yang tak pernah benar-benar berhenti. Anak-anak di sekitarku sering mengejek dan menertawakan suaraku yang cempreng dan tidak jelas. Mereka menirukan suaraku sambil tertawa terbahak-bahak, seolah suaraku adalah komedi paling lucu di dunia.

Terlahir berbeda dengan suara yang hampir tidak dimengerti oleh orang-orang di sekitarku pelan-pelan mengubahku menjadi anak pendiam. Aku mulai takut berbicara di depan orang lain. Aku selalu membisu dan menunduk ketika orang menyapaku. Aku selalu duduk menyendiri di sudut ruangan agar tidak diperhatikan oleh teman-temanku. 

Dalam pikiran polosku saat itu, dunia hanya tempat bagi mereka yang terlahir hampir sempurna. Sedangkan aku hanyalah anak perempuan yang bahkan kesulitan mengucapkan kata dengan jelas.
Karena terlalu sering diremehkan, diganggu, dan tersisih, aku mulai percaya bahwa diriku tidak layak punya teman dan tidak berharga di mata siapa pun.

Ruang Penuh Kehangatan

Namun hidupku perlahan mulai berubah ketika aku bertemu dengan seorang guru ngaji bernama Ustazah Sahiya.
Beliau berusia enam puluh tiga tahun, tubuhnya kecil dan mulai renta, tetapi sorot matanya teduh. Dalam rumah sederhana miliknya, beliau mengajar mengaji di atas tikar bambu yang selalu digerai olehnya untuk kami. Di sisa umurnya yang mulai memasuki usia senja, di balik dinding kayu rumahnya yang mulai usang, wanita tua itu terus memberi cahaya tanpa pamrih meski muridnya tidak banyak, hanya tiga orang, termasuk aku.

Di antara semua murid, akulah yang paling sulit diajari. Aku kesulitan menyebut setiap makhraj huruf hijaiah dengan benar. Di saat teman-temanku lancar membacanya dengan fasih, aku justru sangat kesulitan dan terbata-bata menyebut setiap huruf yang ada di depanku. 

Setiap guruku -Ustazah Sahiya- menyuruhku membaca dengan lantang, aku malah tertunduk diam karna malu. Aku takut mereka menertawakanku lagi. Karena itu setiap kali tiba giliranku, aku akan mendadak bisu, keringat dingin sampai pucat dan menangis dalam batinku. Anehnya ustazahku tidak pernah marah dan menyerah karena hal itu.

Beliau hanya tersenyum menatapku dalam sambil memegang mushaf kecil dengan suara lembut namun tegas, ia berkata, “Nak, Allah tidak melihat seindah apa suaramu. Allah hanya melihat sekeras apa kamu berusaha belajar dan istikamah.”

Kalimat itu sederhana, namun untuk pertama kalinya aku merasa diterima dan tidak dihakimi. Hari demi hari ustazahku tetap setia dan sabar mengajariku bahkan saat berkali-kali aku salah mengucapkan huruf, beliau tidak pernah menyerah. Terkadang beliau mengulang bacaannya hingga belasan kali hanya agar aku memahami cara pengucapannya.

Keberanian karena Ilmu

Dari beliau aku bukan hanya belajar membaca Al-Qur’an. Aku juga belajar tentang keberanian, Ustazah Sahiya memberiku nasihat bahwa manusia tidak ditentukan kekurangan di wajahnya, pun tidak ditentukan dari suaranya yang jelek, karena yang menentukan nilai diri seseorang adalah cahaya ilmu dan keteguhan hati yang ia miliki. 

Beliau mengajariku bahwa rasa malu dan minder jangan sampai membuat kita berhenti belajar. Bahwa luka yang disebabkan oleh hinaan manusia tidak boleh menghalangi langkah menuju rida Allah Swt..

Ustazahku juga mengajariku untuk bersabar dalam perjuangan menuntut ilmu sebab dalam setiap huruf dalam Al-Qur’an yang kita pelajari dengan susah payah akan menjadi cahaya dalam kehidupan. Dari guru sederhana itulah aku memahami bahwa dunia yang kejam bisa meremehkanku, tapi aku tidak seharusnya ikut meremehkan diriku sendiri.

Al-Fatihah Penyejuk Hati

Ada satu pelajaran yang paling membekas darinya, yaitu tentang Surah Al-Fatihah. Masih kuingat degan jelas bagaimana ustazahku berusaha membimbingku menghafalkan surah dengan tujuh ayat penuh cahaya tersebut. Aku sering lupa dengan menukar posisi ayat tersebut, ditambah pelafalan maaliki yaumiddiin yang entah kenapa selama bertahun-tahun selalu salah sebut. Lidahku selalu terpeleset kala ayat keempat itu kulafalkan. Namun uniknya beliau tak pernah bosan menuntunku membacanya.

Aku sungguh baru benar-benar mampu menghafalkan surah pembuka tersebut setelah memasuki usia remaja, usia yang tentu tidak muda lagi untuk baru bisa menghafal Al-Fatihah. Mungkin bagi orang lain itu terlambat. Tapi bagi Ustazah, itu adalah kemenangan perdanaku, pun kemenangan terbesarku. Wajah beliau saat mendengarkanku pertama kali bisa membaca Al-Fatihah perdanaku tanpa terbata-bata masih teringat jelas bagaimana bahagianya. ia tersenyum bangga menatapku lekat dan berkata, “Nak, lihat? Kamu bisa.” 

Ia memelukku erat, tatapannya yang sendu penuh makna membuatku terharu sampai tak kuasa menahan diri untuk menitikkan air mata bahagiaku. Untuk pertama kalinya aku merasa diapresiasi di luar rumah selain orang tuaku. Sejak saat itu setiap salat saat membaca Al-Fatihah, aku selalu mengingatnya.

Aku teringat tikar bambu tempat kami menemukan cahaya pembuka keimanan. Aku teringat caranya membetulkan bacaanku dengan nada lembutnya huruf demi huruf. Aku teringat bagaimana ia membangun keberanianku yang hampir kehilangan kepercayaan diriku.

Aku memang masih menjadi pribadi pemalu dan pendiam, banyak emosi yang kupendam sendiri. Namun, kini aku tak lagi membenci diriku yang tak mampu menyamai kemampuan teman-temanku. Aku mulai berani menghadapi tantangan dan  ujianku dalam hidup. Aku mulai berani bicara dan mengutarakan isi hatiku yang kupendam walau tak semua hal kubagi dengan orang lain. 

Aku juga sudah mulai berani menghadapi mereka yang menghinaku serta dunia yang membuatku merasa kecil. Bahkan pada saat aku memutuskan untuk ikut bergabung dalam jemaah pengemban dakwah, Ustazah Sahiya adalah orang yang paling bangga dengan pilihanku di tengah penolakan sebagian dari keluarga besarku. Ia selalu mendukungku dalam setiap keputusanku.

Kini aku mengerti, terkadang Allah menghadirkan seorang guru dalam hidup kita bukan hanya untuk mengajarkan ilmu pengetahuannya saja. Namun, kadang mereka ikhlas membagi pelajaran dari pengalamannya tentang hidup mereka dengan segala bentuk penerimaannya pada setiap kondisi kelemahan dan kekurangan muridnya. Dan bagiku, Ustazah Sahiya adalah cahaya ilmu yang menyalakan semangat yang sempat meredup karena hinaan. [Ni/HEM]

Baca juga:

0 Comments: