Headlines
Loading...

Oleh: Diva Alfreda
(Aktivis Mahasiswa)

SSCQMedia.Com—Di tengah suasana tenang saat perkuliahan berlangsung, seseorang terlihat berniat menjatuhkan diri dari lantai enam gedung kampus. Ia adalah mahasiswa FK Universitas Brawijaya berinisial RR (19) yang diduga melakukan percobaan bunuh diri. Berbagai spekulasi merebak untuk menebak penyebab mahasiswa tersebut mengambil keputusan yang mengejutkan ini. Di daerah lain, Sidoarjo, enam hari kemudian juga ditemukan seorang mahasiswa yang meninggal akibat bunuh diri. Ada apa dengan para sarjana ini?

Kampus yang seharusnya menjadi kawah candradimuka lahirnya calon sarjana tangguh yang berakal sehat dan berjiwa kuat, justru kerap menyimpan derita emosional yang teramat dalam. Para sarjana menjadi rapuh akibat tekanan akademik dan kebingungan menentukan arah hidup.

Para sarjana ini mungkin memiliki IPK tinggi, portofolio mentereng, dan prospek kerja dengan gaji besar. Namun, di balik semua keberhasilan itu, ada aspek penting yang sering terabaikan: kesehatan mental dan ketahanan jiwa. Tuntutan akademik yang berat, tekanan finansial, dan ekspektasi keluarga membuat banyak mahasiswa merasa sendirian. Ketika masalah menumpuk dan tidak menemukan jalan keluar, keputusasaan mengambil alih.

Para sarjana ini bisa jadi cemerlang secara akademik, tetapi jiwanya amat rapuh. Sementara itu, agama yang seharusnya menjadi standar hidup nyatanya sering kali disempitkan hanya sebatas ritual di atas sajadah, doa sebelum ujian, atau materi kuliah wajib dua SKS. Namun, saat keluar dari ruang kelas, berhadapan dengan tumpukan tugas dan kebingungan menentukan arah hidup, kita justru diajarkan untuk menyelesaikannya dengan logika manusia semata. Inilah jebakan utama sekularisme. Ketika hidup dipisahkan dari nilai-nilai ketuhanan, manusia hidup tanpa iman dan dipaksa menanggung beban dunianya sendirian.

Kondisi makin diperparah oleh sistem kapitalistik yang melahirkan masyarakat individualistik. Manusia baru dianggap sukses jika mampu menghasilkan materi dan laku di dunia kerja. Kampus tak ubahnya pabrik pencetak tenaga kerja. Mahasiswa dituntut cepat lulus, menguasai banyak keterampilan, bahkan memiliki pengalaman yang tidak sedikit, hanya agar memiliki nilai tinggi di pasar industri. Lingkungan yang sangat kompetitif mengikis rasa kemanusiaan dan empati. Antarmahasiswa tidak lagi memiliki ikatan yang saling menguatkan, melainkan menjadi saingan yang harus dikalahkan.

Ketika negara menerapkan sekularisme dan kapitalisme, negara akan melepaskan tanggung jawab penuh atas pendidikan yang murah dan berkualitas, lalu membiarkan kampus beroperasi dengan logika bisnis. Kampus berubah menjadi sekadar pabrik tenaga kerja. Hingga akhirnya, hanya mencetak sarjana-sarjana rapuh: otak mereka dipaksa bekerja bagai mesin industri, tetapi jiwa mereka gersang tanpa arahan Ilahi. Alhasil, sarjana tangguh hanya menjadi goresan visi dan misi.

Sungguh, akidah adalah benteng jiwa seorang muslim. Kita ditanamkan keyakinan bahwa hidup adalah ladang ujian (QS Al-Baqarah: 155) dan tidak ada masalah yang melebihi batas kemampuan hamba-Nya. Kegagalan atau kesulitan hidup bukanlah akhir segalanya, melainkan proses pendewasaan dan sarana menggugurkan dosa. Allah juga dengan tegas melarang bunuh diri (QS An-Nisa: 29). Dengan demikian, sebesar apa pun badai yang menerpa, seorang hamba memiliki batas tegas untuk tidak memilih jalan yang dimurkai Allah.

Namun, Islam juga tidak membiarkan individu berjuang sendirian. Keluarga dan masyarakat dibangun dengan ikatan kuat berdasarkan akidah, bukan atas dasar kepentingan materi. Orang tua mendidik anak dengan dorongan ketakwaan, bukan sekadar menuntut capaian instan. Masyarakat saling mendengarkan dan menguatkan, bukan bersikap menghakimi. Tidak ada seorang pun yang dibiarkan menanggung beban hidupnya sendirian dan merasa kesepian.

Puncaknya, negara harus hadir menerapkan Islam secara sempurna untuk menopang tumbuh kembang generasi. Negara menjamin dua hal mendasar. Pertama, sistem pendidikan berbasis akidah untuk membentuk kepribadian Islam yang menguasai sains dan teknologi. Kedua, sistem ekonomi yang menjamin kesejahteraan rakyat, termasuk menyediakan pendidikan gratis dan berkualitas serta akses lapangan kerja yang luas. Dengan demikian, mahasiswa dapat fokus menuntut ilmu tanpa cemas akan tingginya biaya pendidikan atau ketakutan terhadap masa depan.

Kejadian di Malang dan Sidoarjo ini menjadi alarm bahwa krisis mental generasi tidak bisa diselesaikan dengan solusi permukaan, seperti sekadar menyediakan hotline pencegahan bunuh diri. Kita harus berani mencabut akar masalahnya, yakni sekularisme kapitalis, dan kembali pada Islam secara utuh. Hanya ketika akidah menjiwai individu, masyarakat saling peduli, dan negara menerapkan syariat Islam secara utuh, akan tersedia ekosistem yang melahirkan sarjana tangguh, para cendekiawan berjiwa kuat, dan generasi yang siap memimpin peradaban.

Wallahualam. [CF/Ni/IWP]

Baca juga:

0 Comments: