Headlines
Loading...


Oleh: Iha Bunda Khansa
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com—Memasuki bulan Zulhijah, umat Islam menyambut Hari Raya Iduladha atau Idulkurban. Salah satu amalan sunah yang dianjurkan di bulan Zulhijah adalah perintah berkurban. Hal ini mengingatkan kisah Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s. yang rela dan ikhlas memenuhi perintah Allah. 

Pada bulan Zulhijah ada perintah Allah bagi kaum muslim yang menunaikan ibadah haji bagi yang mampu dan mendapat panggilan haji ke Baitullah. Alangkah bahagianya kaum muslim yang mendapatkan undangan ke Baitullah.

Selain itu ada perintah untuk berkurban. Tentunya siapa pun ingin melaksanakan ibadah sunah yang dianjurkan, yaitu berkurban  baik kambing, sapi, unta, ataupun kerbau. Banyak usaha yang dilakukan untuk bisa berkurban. Ada yang menyisihkan sebagian rezekinya dengan menabung, ada juga yang mendapat hadiah.

Saya pun pada awalnya terasa berat untuk berkurban, tapi banyak contoh orang yang kurang mampu bisa berkurban. Dan keinginan untuk berkurban muncul ketika bergabung di komunitas ODOJ SSCQ, yang mana ada challenge menulis tentang kurban. Alhamdulillah sudah 4 kali terlaksana dan para pemenang adalah mereka yang memang sudah dipilih Allah dan menarik para juri hingga layak menjadi pemenang. Masyaallah. Tabarakallah fiikum.

Saya pun ikut menulis, tapi tulisanku belum mampu untuk layak menjadi pemenang. Alhamdulillah, di tahun 2026 SSCQ kembali mengadakan challenge kurban, kali ini dipersembahkan untuk guru.

Ingin rasanya berbagi mempersembahkan kurban untuk "guruku". Guruku banyak, sejak aku duduk di sekolah TK, SD, SMP, SMA sampai perguruan tinggi. Terbayang wajah-wajah ikhlas yang telah mengajarkan ilmu. Namun, ada guru yang selalu menuntun jalan hidupku berada pada jalan Allah. Orang tuaku sendiri pun adalah guruku, madrasah pertamaku. 

Sejak aku menutup aurat dan mengkaji Islam, banyak guru yang telah banyak memberikan ilmu dan memberikan pemahaman tentang hidup dan kesempurnaan ajaran Islam. Ada satu pilihan hatiku pada sosok seorang ibu yang sederhana, sabar, dikaruniai putra dan putri yang insyaallah mendapatkan pendidikan sejak dini untuk mengenal Islam.

Sejak kepindahanku ke Cianjur dari Kota Metropolitan sekitar 21 tahun lalu, ada di antara akhwat dalam satu pertemuan menyapa dengan ramah dan lembut, sementara yang lain sibuk, hanya beberapa mata menatapku. Tentu aku bahagia ada yang menyapa dan mengajak mengobrol. Waktu itu aku lupa ada beberapa pertanyaan, dalam hati, wah ada juga yang mau menyapaku? Bahagia rasanya  karena aku belum ada teman dan ingin sekali seperti di Jakarta mengikuti kajian mingguan.

Aku Memilihnya

Selama di Kota Santri, beberapa kali berganti guru mengajiku, mungkin ada 6 kali lebih. Biasanya lama, ada yang menyelesaikan satu kitab atau lebih. Semua guruku baik, aku tak pernah protes siapa pun yang menyampaikan. Setiap guru ada kelebihan dan kekurangannya. Insyaallah selama kita ikhlas belajar Allah akan memberikan ilmu sampai ke hati.

Pilihanku jatuh pada salah satu guru mengajiku yang pertama kali menegurku pada pertemuan pertama di tempat baruku. Dan Alhamdulillah sampai sekarang walaupun tidak lagi mengajariku, kami masih sering bertemu. Ternyata setelah kuingat-ingat, aku pernah hadir saat pernikahannya. Pada saat kelahiran anak pertamanya pun, aku menengoknya. Dari mulai rumah mengontrak, alhamdulillah sekarang sudah punya sendiri.

Suatu hari pernah terdengar olehku keinginannya untuk bisa kurban, saat itu aku hanya bisa mendoakan agar bisa berkurban. Tahun lalu pun keinginan untuk mempersembahkan kurban untuk bapak dengan mengikuti challenge, namun belum juga rezekinya. 

Perjuangannya dalam membersamai anak-anaknya begitu sabar, ketika anaknya masih bayi pernah mendadak panas tinggi sampai dibawa ke RS, saat itu sedang kajian. Semua panik, tapi beliau sabar. Bahkan saat masih mengajar sebagai guru di salah satu sekolah negeri, beliau suka membawa anaknya yang masih bayi, sementara  anak pertama dan kedua ditinggal di rumah mandiri. Saat itu pasti ada perasaan berdosa meninggalkan anak-anaknya yang masih dalam pengawasan, karena tuntutan mungkin saat itu masih ingin mengajar, tetap dijalankan peran sebagai ummun wa rabbatul bait, ibu rumah tangga merangkap bekerja sebagai guru.

Impian berkurban setahuku sampai sekarang belum terwujud. Aku pun berupaya maksimal melaksanakan perintah kurban baik atas anak, suami, atau orang tua. Alhamdulillah sudah beberapa tahun ini bisa berkurban, berkah bergabung di SSCQ dan motivasi muassis yang tak kenal lelah.

Aku ingin sekali mempersembahkan kurban untuk guru mengajiku yang baik, sabar, juga pernah menghadapi ujian yang cukup berat, saat mengandung anaknya yang kelima, salah satu anaknya kecelakaan sampai patah tulang dan cukup lama merawatnya.

Walaupun ujian datang silih berganti, beliau tetap menjalankan perannya sebagai ibu, pengemban  dakwah. Sifatnya yang  sabar,  perhatian dalam meriayah, dan istikamah. Aku bersyukur sampai saat ini tetap terjalin ukhuah, sahabat dalam ketaatan.

Semoga sahabatku, guru mengajiku, diberikan kesempatan untuk berkurban mengamalkan salah satu hadis di bulan Zulhijah;

“Dari A’isyah r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, ”Tidaklah seorang anak Adam melakukan suatu perbuatan pada Hari Nahr (10 Zulhijah) yang lebih dicintai Allah daripada menyembelih kurban. Sesungguhnya hewan kurban itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kukunya. Dan sesungguhnya darah hewan kurban tersebut akan sampai kepada Allah sebelum tetesan darah tersebut jatuh ke bumi. Maka, hendaklah jiwa kalian ikhlas dalam berkurban!” (HR. At-Tirmidzi, no. 1493; dan Ibnu Majah, no 3126)

Bismillah, jika Allah izinkan kupersembahkan kurban untuk guruku, sahabat taatku, lewat challenge kurban SSCQ. Uhibbuki fillah, Sahabatku.

Wallahualam bissawab. [Ni/HEM]

Baca juga:

0 Comments: