Headlines
Loading...
Paradoks Kebebasan: Hijab, Seragam, dan Hak Anak di Azerbaijan

Paradoks Kebebasan: Hijab, Seragam, dan Hak Anak di Azerbaijan

Oleh: Puput Ariantika, S.T.
(Kontributor SSCQMedia.com)

SSCQMedia.com — Slogan kebebasan yang diagung-agungkan dalam sistem kehidupan saat ini tidak seindah penerapannya. Kita sering mendengar bahwa setiap orang bebas menentukan pilihan hidupnya sendiri, termasuk memilih agama dan cara mengekspresikannya. Namun, kondisi berbeda dialami para siswi di Azerbaijan. Mereka diminta menanggalkan hijab atas dasar keseragaman di sekolah.

Pemerintah Azerbaijan telah mengesahkan aturan seragam pada September lalu. Aturan tersebut memang tidak menyebutkan hijab secara langsung. Namun, berdasarkan laporan orang tua dan siswi, pihak sekolah tetap mewajibkan para siswi melepaskan hijab. Akibatnya, mereka tidak diperbolehkan masuk dan mengikuti kegiatan belajar. Seorang guru bernama Zahra Hasanova juga memberikan penjelasan bahwa sejak 6 Oktober, larangan tersebut berlaku bagi guru. Ia tidak diperbolehkan mengenakan hijab di sekolah. Ia mengaku marah dan kecewa terhadap keputusan itu karena baginya hijab merupakan hak pribadi. Jika ingin melepasnya, keputusan tersebut juga seharusnya berasal dari dirinya sendiri. (Al Jazeera, 12/10/2026)

Ini bukan sekadar persoalan kain yang menutupi kepala, melainkan juga menyangkut hak setiap anak untuk memperoleh pendidikan. Para siswi tersebut dilarang masuk sekolah. Lantas, siapa sebenarnya yang terganggu oleh persoalan hijab ini?

Kebebasan yang Terbelenggu

Larangan hijab bukanlah hal baru. Pada November 2010, Kementerian Pendidikan Azerbaijan pernah melarang penggunaan hijab dengan alasan menjaga prinsip sekularisme negara. Saat itu, protes pun pecah. Para aktivis meneriakkan, "Hijab adalah kehormatan kami."

Tanggapan menteri pendidikan saat itu tidak kalah pedas. Ia menyatakan bahwa setiap orang boleh berpakaian sesuka hati, tetapi di luar sekolah. Sementara itu, di sekolah, semua orang harus tunduk pada aturan yang berlaku. Larangan tersebut kemudian merembet hingga ke tingkat universitas.

Di sinilah letak kontradiksinya. Kebebasan beragama dan berekspresi dijamin, tetapi ketika siswi datang mengenakan hijab, mereka justru dilarang atas nama keseragaman. Padahal, mengenakan hijab dan mengikuti proses belajar dapat berjalan beriringan.

Mengapa Ekspresi Islam Dipersoalkan?

Di sebagian masyarakat, pakaian yang sangat terbuka dapat diterima sebagai bagian dari kebebasan individu. Sebaliknya, hijab yang dikenakan Muslimah atas dasar keyakinan justru dipersoalkan di ruang pendidikan. Perbedaan perlakuan ini patut dipertanyakan.

Memperlihatkan tubuh dianggap sebagai ekspresi kebebasan, sedangkan mengenakan hijab karena keyakinan justru dianggap melanggar aturan.

Karena itu, pertanyaan yang patut diajukan bukan sekadar apakah hijab sesuai dengan aturan seragam, melainkan apakah aturan tersebut berlaku adil terhadap berbagai bentuk ekspresi diri.

Tentu saja, tidak semua negara sekuler menerapkan kebijakan seperti ini. Namun, kasus di Azerbaijan menunjukkan bahwa prinsip kebebasan dan netralitas negara perlu dipertanyakan ketika berhadapan dengan ekspresi keagamaan. Negara yang mengaku netral terhadap agama semestinya memperlakukan ekspresi keagamaan secara adil.

Dua Hak yang Dibenturkan

Ada dua hak yang seolah-olah dihadapkan satu sama lain, yaitu hak atas pendidikan yang dimiliki setiap anak dan hak beragama yang diakui dalam sistem negara sekuler. Keseragaman memang dapat dijadikan alasan untuk menjaga ketertiban sekolah, tetapi tidak seharusnya menjadi alasan untuk menutup pintu pendidikan bagi anak yang teguh memegang keyakinannya.

Dalam kehidupan bernegara, memang ada aturan yang harus ditaati. Hak-hak tertentu juga memiliki batasan. Namun, pembatasan tersebut harus didasarkan pada alasan yang jelas karena keseragaman saja tidak cukup menjadi pembenaran. Jika seorang siswi dapat mengikuti pelajaran dengan mengenakan hijab, mengapa ia harus terancam kehilangan akses pendidikan?

Apakah ketertiban sekolah benar-benar mengharuskan seorang anak memilih antara pendidikan dan keyakinannya?

Menanggapi aturan tersebut, para siswa dan orang tua pun melakukan protes. Hal ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan sekadar perdebatan mengenai pakaian. Sejumlah siswa menolak mengikuti kelas sebagai bentuk solidaritas terhadap teman-teman mereka yang berhijab. Mereka menyatakan, "Hijab bukan penghalang pendidikan."

Pernyataan itu sederhana, tetapi menyentuh inti persoalan. Sekolah seharusnya menjadi tempat anak-anak menimba ilmu, bukan tempat mereka merasa bahwa keyakinannya menjadi penghalang untuk belajar.

Paradoks Sistem yang Mengagungkan Kebebasan

Peristiwa di Azerbaijan mengajak kita melihat persoalan yang lebih luas. Dalam sistem yang mengagungkan kebebasan, manusia diberi ruang untuk menentukan pilihan hidupnya. Namun, ketika pilihan tersebut berlandaskan ajaran agama dan dianggap tidak sesuai dengan aturan yang ditetapkan, apakah kebebasan itu tetap dihormati?

Di sinilah sekularisme perlu dikritisi. Pemisahan agama dari urusan negara tidak serta-merta menghapus pengakuan terhadap kebebasan beragama. Kebebasan beragama juga diakui dalam sistem ini. Oleh karena itu, prinsip dasar sekularisme patut dipertanyakan ketika digunakan untuk membatasi ekspresi keagamaan di ruang publik.

Pijakan Seorang Muslim

Bagi seorang Muslimah, hijab bukan sekadar pilihan berpakaian, melainkan bagian dari ketaatan kepada Allah Swt. Dalam QS. An-Nur ayat 31, Allah Swt. berfirman, "... Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya ...."

Perintah tersebut menjadi salah satu pijakan bagi seorang Muslim dalam menjalani kehidupan, termasuk ketika berada di ruang publik.

Perbedaan keyakinan tidak boleh menjadi alasan untuk menghalangi seseorang memperoleh pendidikan. Negara dapat menjaga ketertiban sekolah tanpa harus memaksa seorang siswi memilih antara keyakinannya dan haknya untuk belajar.

Khatimah

Kasus Azerbaijan menjadi alarm bahwa kebebasan tidak cukup dinilai dari seberapa sering kebebasan itu dielu-elukan. Persoalan sesungguhnya terletak pada penerapannya, terutama ketika berhadapan dengan keyakinan yang berbeda. Jika hak atas pendidikan dan kebebasan beragama benar-benar dihargai, mengapa siswi harus dijauhkan dari kelas karena mengenakan hijab?

Bagi kaum Muslim, persoalan ini bukan sekadar perjuangan mempertahankan hak mengenakan hijab dan memperoleh pendidikan. Ini juga menjadi pengingat untuk terus memperjuangkan Islam sebagai pedoman kehidupan. Sebab, ketaatan kepada Allah Swt. tidak berhenti pada keyakinan pribadi, tetapi juga membutuhkan tatanan kehidupan yang menjadikan syariat-Nya sebagai pedoman. Wallahu a'lam bish-shawab. [M/PR]

Baca juga:

0 Comments: