Headlines
Loading...

Oleh: Artatiah Achmad
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com—Tak terasa Iduladha 1447 H tinggal menghitung hari. Jemaah haji dari berbagai negara telah berkumpul di Baitullah untuk melaksanakan serangkaian ibadah haji. "Labaik Allahumma labbaik..." Ya Allah, panggil kami kembali ke Baitullah.

Selain perintah berhaji ke Baitullah, di bulan Zulhijah ini ada juga perintah berkurban. Perintah berkurban hukumnya sunah yang dikuatkan (muakadah). Selain mendatangkan pahala, banyak juga keutamaannya. Allah berfirman dalam Al-Qur'an surah Al-Kautsar ayat 1-2, yang artinya "Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).”

Ada hikmah di dalam penyembelihan hewan kurban. Kurban hakikatnya menjadi bukti rasa syukur tak terkira kepada Allah Swt. atas karunia kehidupan yang diberikan. Kemudian, kurban juga menjadi bukti menghidupkan ajaran mulia kekasih Allah, Nabi Ibrahim. Beliau mengajarkan ketaatan luar biasa. Beliau rela melepaskan kemelekatan terhadap buah hati tercinta manakala Sang Kuasa meminta kembali. Ini menjadi catatan penting bagi setiap kaum muslimin yang mengaku beriman kepada Allah,  namun masih enggan melaksanakan syariat-Nya. "Katanya cinta, kok menolak syariat ... mana bukti cintamu?" 

Alhamdulillah, tahun ini komunitas Sahabat Surga Cinta Qur'an (SSCQ) kembali mengadakan challenge menulis tentang kurban di momentum jelang Iduladha 1447 H. Challenge menulis kurban batch 5 ini temanya begitu menarik, "Mempersembahkan Hewan Kurban untuk Guru Terhormat." Aku pun tertarik mengikuti challenge ini walau memasuki tenggat waktu. Menemani anak belajar persiapan ujian kelas 6 SD ternyata cukup menyita waktuku. Alhasil, tulisan yang kubuat ini begitu dadakan. Semoga tulisanku ini masih bisa diterima panitia, dan bisa memenangkan challenge hewan kurban yang akan kupersembahkan untuk guru tercinta. Amin, Allahumma amin. 

Bicara tentang guru, tentu begitu banyak hadir menemani perjalanan hidupku. Ibuku merupakan guru pertama dan utama dalam hidupku. Sayang, beliau telah berpulang ke pangkuan Ilahi Rabbiy. Semoga Allah Swt. menempatkan ibu di tempat yang terbaik. Amin ya rabbal ‘alamin. Selain ibuku, ayahku juga menjadi guru terbaik dalam hidupku. Beliau sebagai peletak dasar iman dan Islam dalam hidupku. Berbagai petuah hidup selalu kudapatkan dari almarhum ayahanda tercinta. 

Selain orang tua, guru pengajar di sekolah, juga guru mengaji, menjadi sosok mulia yang membantuku memahami berbagai disiplin ilmu. Rasanya aku belum bisa membalas jasa mereka kecuali dengan mendoakan mereka, juga beramal terbaik seperti yang mereka ajarkan. Semoga Allah Swt. melimpahkan pahala jariah kepada mereka atas ilmu yang telah mereka ajarkan kepadaku, amin ya mujibassailin. 

Selain belajar di bangku sekolah formal sesuai jenjang pembelajaran di Indonesia. Ketika kuliah di kampus IPB, aku mulai mengenal Islam kafah, tepatnya di tahun 2000. Saat itu aku mendapatkan kajian intensif dari kakak kelas. Tak terasa aku tetap istikamah mengkaji. Bahkan hingga kini. Aku pernah dibina oleh Teh Wina, Teh Yusi, Mbak Pipit, Mbak Agustina, Mbak Mus, Mbak Riril, Teh Edna, Mbak Dini, dan banyak lagi. Mereka adalah musyrifah terbaik yang begitu sabar membina diriku.

Setelah tamat kuliah, aku memutuskan kembali ke kampung halaman, tujuannya biar rehat sejenak. Tak berselang lama, aku mendapatkan jodoh orang "Turbo" alias "turunan Bogor."  Akhirnya aku diboyong lagi ke Kota Hujan. Rasa rindu kepada musyrifah-musyrifah sewaktu aku kuliah di IPB cukup terobati, karena sesekali bisa berjumpa dengan mereka ketika ada acara kajian besar. 

Di antara nama musyrifah tercinta, ada satu nama yang selalu kuingat. Beliau bernama Mbak Pipit. Sosoknya begitu sederhana namun saat menjelaskan kitab begitu luar biasa. Dengan wasilah beliau, aku jadi paham isi kitab Nidzamul Islam. Beliau menyampaikan isi kitab dengan bahasa sederhana, mudah dimengerti, dan tentunya bahasa arabnya juga keren banget,  masyaallah tabarakallah.

Beberapa menit sebelum membahas bab baru, biasanya Mbak Pipit menjelaskan poin penting yang sudah disampaikan di minggu sebelumnya. Aneka contoh faktual juga selalu beliau sampaikan. Beliau pun hafal dalil dan memberi penjelasan yang gamblang. Untuk cek pemahaman, sesekali kami diberi kesempatan untuk menyampaikan materi pembelajaran secara singkat namun jelas. Contoh alur yang disampaikan beliau tentu membantuku untuk lebih mudah mencerna isi kitab yang kadang membuat alisku naik sebelah. Maklum, isi kajian kitab itu menjadi informasi baru bagiku. Awalnya banyak pertanyaan berputar di otak, namun akhirnya dari penjelasan Mbak Pipit ternyata mampu menjawab berbagai pertanyaan mendasar yang berkecamuk dalam ruang batinku.

Mbak Pipit itu orangnya cerdas, disiplin, dan sederhana. Dari beliau aku belajar peta konsep alur suatu kitab. Dari beliau pula aku belajar menghargai waktu dan hidup sederhana. Meskipun orang berada, Mbak Pipit tetap mau tinggal di Mahad yang sederhana demi belajar meningkatkan tsaqofah Islam yang utama. Semangat belajar yang tinggi menjadi pembelajaran penting yang kupegang hingga kini. Level manusia itu bukan ditentukan dari harta maupun rupa, namun dari amal perbuatan dan akhlak mulia. Terima kasih, Mbak Pipit, atas ilmu yang kudapatkan. Semoga Allah mengumpulkan kita di surga firdaus. Semoga kita senantiasa istikamah mengemban dakwah mulia di tengah riuh dunia yang fana. Doakan aku menang challenge kurban kali ini. Semoga aku bisa mempersembahkan hadiah hewan kurban untuk dirimu, kaulah musyrifah tercinta sepanjang masa. Amin ya rabbal ‘alamin. [Ni/HEM]

Baca juga:

0 Comments: