Oleh: Efa Tri Yudiana
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Tidak terasa sebentar lagi sudah masuk bulan Zulhijah. Bulan yang selalu mengingatkan kita akan kisah keluarga Nabi Ibrahim, di mana ketaatan kepada Allah di atas segalanya. Beliau tanpa ragu menyambut perintah Allah untuk mengorbankan yang paling dicintai. Allah meminta Nabi Ibrahim untuk menyembelih putra tercintanya, yaitu Nabi Ismail. Karena keimanan yang luar biasa, keduanya pun tunduk pada perintah Allah. Yang akhirnya Nabi Ismail Allah ganti dengan seekor domba. Dan peristiwa tersebut menjadi hari besar untuk umat Islam, yaitu Hari Raya Kurban.
Makna kurban dalam Islam adalah bentuk mendekatkan diri kepada Allah dengan menyembelih hewan ternak yang diniatkan untuk ibadah. Ibadah tersebut yang membangun moral dan spiritual, di antaranya:
Pertama. Meneladani ketaatan Nabi Ibrahim dan Ismail. Di mana seorang hamba rela mengorbankan ego dan hal yang paling dicintai di dunia demi menjalankan perintah Allah.
Kedua. Ungkapan rasa syukur atas nikmat dari Allah melalui kurban diharapkan dapat meningkatkan ketakwaan.
Ketiga. Kepedulian terhadap sesama. Daging hewan kurban akan disalurkan kepada kerabat, saudara, dan fakir miskin. Dari sinilah akan semakin menumbuhkan empati, dan peduli terhadap sesama.
Momen luar biasa tentunya tidak dibiarkan berlalu begitu saja, komunitas keren Sahabat Surga Cinta Qur’an kembali mengadakan challenge kurban. Tema kali ini adalah “Persembahan Kurban untuk Guruku”.
Meskipun diri ini belum piawai menulis, tapi ingin ikut memeriahkan challenge ini yang insyaallah saya persembahkan untuk guru yang pertama kali mengenalkan diri ini tentang Islam kafah. Beliau adalah Ustazah Leventi Tristiana.
Berawal dari seorang sahabat salihah yang mengajak saya ikut kajian. Ajakan tersebut mengantarkan langkah saya untuk bertemu dengan beliau. Sebelum bertemu beliau, saya memahami Islam sebagaimana kebanyakan orang hanya sebatas ibadah ritual. Saya tidak tahu bahwa ada tiga pilar dalam Islam, yaitu hubungan manusia dengan Allah, dengan diri sendiri, dan dengan manusia yang lain. Astagfirullah, ternyata ibadah yang selama ini dilakukan masih sebatas ibadah mahdhoh saja, belum mencakup semua pilar. Dari sini membuat saya lebih bersemangat lagi untuk terus ikut kajian.
Dan semakin sering saya mengikuti, saya merasa sangat bodoh. Ke mana saja saya selama ini, saya muslim tapi tidak tahu apa-apa. Saya baru paham beda antara jilbab dan khimar juga dari beliau. Beliau menjelaskan dengan sangat detail dan mudah dipahami, bahkan bersedia mengulangi sampai diri ini benar-benar paham. Dengan kesabaran dan ketegasan beliau membuat diri ini tidak bisa menolak apa pun yang beliau sampaikan, dan hati ini selalu meyakini yang disampaikan itu adalah kebenaran.
Beliau sosok luar biasa, dan yang membuat saya kagum adalah sama sekali tidak menyangka bahwa beliau seorang dokter. Ya Allah, dengan titel beliau seharusnya tinggal duduk manis menanti pasien datang, tapi beliau menjadikan profesinya sebagai prioritas ke sekian. Beliau memilih tugas mulia dari Allah untuk mendakwahkan Islam. Ya Allah, meleleh hati saya, apalagi melihat perjuangan beliau yang menempuh perjalanan jauh dengan sepeda motor sederhana. Bahkan pernah saya dan teman-teman dapati joknya berlubang, kami khawatir yang di bawah jok bisa basah jika hujan. Tapi beliau dengan santai bilang, "tidak apa-apa, belum sempat ganti, kalau pun basah ya tidak masalah cuma air."
Ya Allah, saya tidak bisa berkata-kata, baru kali ini bertemu seorang dokter sekaligus ustazah yang luar biasa. Visi misi hidupnya tidak lain hanya untuk akhirat. Beliau membimbing bukan sekadar teori, tapi betul-betul memastikan apa yang beliau sampaikan dipahami dan diamalkan. Pernah suatu ketika beliau memberikan baju gamis kepada teman-teman yang saat itu belum memilikinya supaya bisa menutup aurat dengan sempurna. Ya Allah, yang beliau lakukan benar-benar totalitas supaya syariat Islam bisa dilaksanakan.
Dari beliaulah banyak ibrah yang saya dapat, dan punya keinginan kuat untuk menerapkan serta menyampaikan ilmu yang sudah saya miliki meskipun sedikit, dengan semampu saya dan semaksimal mungkin walaupun tidak mudah.
Alhamdulillah pada bulan Zulhijah tahun ini komunitas Sahabat Surga Cinta Qur’an kembali memberikan kesempatan untuk mengikuti challenge kurban. Untuk berkurban saya yakin Ustazah Leventi mampu, tapi bagi saya ini bukan perkara mampu atau tidak mampu. Ini adalah persembahan dan penghormatan saya untuk beliau. Saya yakin beliau pun tidak mengharapkan apa-apa selain rida Allah, tapi berkesempatan memuliakan guru tentu tidak boleh disia-siakan.
Jazakillah khair, Ustazah, atas ilmunya, cintanya, dan ketulusannya. Sejak mengenal Islam kafah saya jadi tahu apa tujuan hidup ini dan paham harus melakukan apa. Persembahan cinta ini mungkin tidak sebanding dengan jejak kebaikan yang sudah Ustazah torehkan, namun ini adalah bentuk syukur dan takzim diri ini karena berkesempatan bertemu, mengenal, dan belajar dengan Ustazah. Semoga rahmat Allah selalu tercurah kepada Ustazah dan keluarga, senantiasa sehat dan selalu dalam lindungan-Nya. Amin. [Ni/HEM]
Baca juga:
0 Comments: