Kesepian di Sela Keramaian, Representasi Generasi Sekuler
Oleh: Ernita Setyorini, S.Pd.
(Kontributor SSCQMedia.com)
SSCQMedia.com—Akhir-akhir ini, permasalahan bunuh diri yang melibatkan anak-anak maupun orang dewasa menjadi perhatian serius. Bagaimana tidak, kesehatan mental generasi saat ini menghadapi berbagai persoalan. Indonesia bahkan tengah menghadapi masalah kesehatan mental yang turut dialami kalangan terpelajar.
Seorang mahasiswa kedokteran Universitas Brawijaya diduga mencoba bunuh diri dengan melompat dari lantai 6 kampus pada Kamis (10/9/2026). Korban selamat dan hingga kini masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Semula, korban diduga merupakan mahasiswa Fakultas Pertanian yang menjadi lokasi kejadian. Namun, belakangan diketahui bahwa korban adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FKUB) (Kompas.id, 15/9/2026).
Kasus serupa juga dialami seorang pria berinisial FS (30). Ia ditemukan tewas dan diduga akibat bunuh diri di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta Pusat, pada Minggu (6/9/2026) dini hari. Kapolsek Metro Tanah Abang AKBP Dhimas Prasetyo mengatakan, sebelum ditemukan tewas, FS sempat memublikasikan sejumlah unggahan di media sosial terkait keinginannya untuk mengakhiri hidup (Kompas.com, 15/9/2026).
Seseorang yang mencoba mengakhiri hidup dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Adapun penyebab gangguan kesehatan mental sangat kompleks. Faktor internal, misalnya, dapat berasal dari genetik, cedera parah, pengaruh hormon, gangguan pada otak, dan sebagainya. Sementara itu, faktor eksternal dapat berasal dari lingkungan keluarga, seperti luka pengasuhan dan pola asuh yang diterapkan.
Di sisi lain, faktor sosiokultural, seperti budaya, kondisi ekonomi, dan media sosial, juga dapat berpengaruh. Bahkan, kondisi tersebut dapat diperparah pada era digital karena media sosial semakin mempercepat dan memperluas berbagai persoalan. Misalnya, perbandingan gaya hidup, perundungan siber, serta konsumsi konten secara terus-menerus tanpa penyaringan.
Selain itu, rasa takut tertinggal tren atau Fear of Missing Out (FOMO) juga dapat berdampak pada kesehatan mental. Penggunaan gawai dalam waktu lama pada malam hari hingga terganggunya pola tidur menjadi fenomena yang semakin memperburuk kondisi psikologis. Kecanduan gim daring dan paparan pornografi juga dapat mendorong munculnya berbagai permasalahan kesehatan mental.
Faktor penerapan sistem kehidupan yang mengatur manusia saat ini juga tidak dapat diabaikan. Penerapan sistem kapitalisme sekuler yang dinilai gagal mengatur kehidupan telah melahirkan manusia yang memiliki mental rapuh. Bahkan, mereka cenderung mengikuti hawa nafsu dan menginginkan kebebasan berekspresi tanpa aturan.
Sistem sekularisme telah mencabut akidah dari kehidupan sehingga generasi saat ini kehilangan pegangan ketika menghadapi tekanan hidup. Tanpa iman yang menjadi benteng, seseorang akan lebih mudah mengalami kesulitan dalam menghadapi persoalan dan terjebak dalam keputusasaan. Dalam tatanan kehidupan seperti ini, regulasi cenderung bersifat teknis administratif dan tidak memberikan dampak substansial dalam melindungi kesehatan mental.
Dalam sistem kapitalisme, masyarakat cenderung menjadi individualistis sehingga rasa kepedulian terhadap kondisi orang lain semakin berkurang. Setiap orang seolah harus berjuang sendiri tanpa ikatan masyarakat yang kuat. Akibatnya, kesepian pun semakin merajalela, bahkan di tengah masyarakat yang secara materi berkecukupan.
Pengaruh budaya positivism, fokus mengejar kesuksesan individu, dan sikap asosial seolah menjadi gaya hidup masyarakat. Sesuatu yang bersifat kemanusiaan dan potensi hidup sesuai fitrah manusia justru diabaikan demi mengejar standar materi dan fisik. Semua itu merupakan produk dari negeri yang menerapkan sekularisme-kapitalisme.
Penerapan sistem tersebut membentuk individu yang rapuh dan masyarakat yang individualistis sehingga berdampak pada kondisi mental generasi muda. Oleh karena itu, dibutuhkan solusi yang sistematis dan mendasar untuk menguatkan mental mereka agar tidak rentan mengalami permasalahan psikologis. Tentunya, solusi ini tidak lepas dari sistem Islam yang memberikan solusi hakiki.
Kesehatan mental merupakan persoalan yang tidak dapat dilepaskan dari keyakinan mendasar mengenai kehidupan. Islam membangun akidah sebagai benteng jiwa sejak dini yang sesuai dengan fitrah manusia. Keyakinan bahwa setiap kesulitan merupakan ujian dari Allah dan bahwa bunuh diri adalah haram menjadi salah satu landasan bagi seorang muslim agar tidak terjerumus dalam keputusasaan.
Islam membangun ikatan yang kuat antara keluarga dan masyarakat berdasarkan landasan akidah. Dengan demikian, seseorang tidak dibiarkan menanggung beban hidup sendirian hingga merasa kesepian. Keluarga semestinya menjadi tempat memperoleh perlindungan, kasih sayang, dan rasa aman.
Negara menerapkan sistem pendidikan berbasis akidah yang menenteramkan jiwa dan meninggikan pemikiran. Hubungan dengan Allah dibangun dengan penuh kesadaran sehingga manusia senantiasa menggantungkan hidup hanya kepada Sang Pencipta. Dengan demikian, lahirlah individu yang kokoh sekaligus masyarakat yang saling peduli, bukan generasi yang rapuh dan kesepian.
Sistem Islam juga melindungi jiwa dengan menjauhkan masyarakat dari berbagai unsur negatif yang berpotensi memberikan pengaruh buruk. Media sosial dan media massa tidak diperbolehkan menayangkan konten yang bertentangan dengan ajaran Islam. Dengan berbagai mekanisme tersebut, kesehatan mental masyarakat dapat terlindungi sehingga tumbuh generasi yang gemilang. [MR/AA]
Baca juga:
0 Comments: