Headlines
Loading...
Tekanan Finansial Gen Z dan Solusi Islam

Tekanan Finansial Gen Z dan Solusi Islam


Oleh: Desi Tri Wulandari
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com—Generasi Z tumbuh di tengah perubahan ekonomi dan sosial yang cukup cepat. Biaya hidup yang semakin tinggi, persaingan pekerjaan, serta tuntutan untuk mengikuti perkembangan zaman membuat sebagian anak muda merasa khawatir terhadap kondisi finansial mereka.

Pada saat yang sama, muncul fenomena menarik. Meskipun menghadapi tekanan ekonomi, pengeluaran untuk self-reward, healing, hiburan, dan gaya hidup tetap menjadi bagian dari kehidupan banyak anak muda.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan finansial Gen Z tidak hanya berkaitan dengan jumlah pendapatan. Ada pula faktor sosial, budaya, psikologis, dan cara seseorang memandang kebahagiaan.

Ketika Tekanan Ekonomi Bertemu Budaya Konsumtif

Kenaikan biaya kebutuhan sehari-hari dapat membuat seseorang semakin sulit mencapai rasa aman secara finansial. Harga tempat tinggal, makanan, pendidikan, transportasi, dan kebutuhan lainnya perlu dipenuhi, sementara pendapatan tidak selalu meningkat dengan kecepatan yang sama.

Di tengah kondisi tersebut, media sosial menghadirkan persoalan lain. Gen Z setiap hari dapat melihat gaya hidup orang lain melalui berbagai platform digital. Liburan, nongkrong di kafe, membeli barang baru, hingga mengikuti tren tertentu sering ditampilkan sebagai bagian dari kehidupan yang ideal.

Situasi ini dapat memunculkan FOMO atau fear of missing out. Seseorang merasa harus mengikuti tren agar tidak tertinggal dari lingkungan sosialnya.

Akibatnya, self-reward yang awalnya dimaksudkan sebagai bentuk apresiasi terhadap diri sendiri dapat berubah menjadi kebiasaan konsumtif.

Namun, fenomena tersebut tidak selalu tepat jika hanya dilihat sebagai kesalahan individu. Lingkungan ekonomi dan budaya juga ikut membentuk perilaku konsumsi masyarakat.

Perspektif Islam terhadap Kebahagiaan dan Konsumsi

Dalam perspektif Islam, kebahagiaan tidak semata-mata diukur berdasarkan kepemilikan materi. Islam mengajarkan bahwa manusia memiliki tujuan hidup yang lebih luas, yaitu beribadah kepada Allah, sebagaimana disebutkan dalam QS Adz-Dzariyat ayat 56.

Prinsip tersebut dapat menjadi landasan dalam menghadapi budaya konsumtif. Memiliki harta dan menikmati kehidupan bukan sesuatu yang secara otomatis dilarang. Akan tetapi, penggunaan harta perlu memperhatikan batas, kebutuhan, serta tanggung jawab.

Dengan cara pandang tersebut, self-reward dapat ditempatkan secara proporsional. Beristirahat, menikmati makanan, bepergian, atau membeli sesuatu yang disukai tetap dapat dilakukan selama tidak mendorong pemborosan dan menggeser prioritas kehidupan.

Bagaimana Masalah Gen Z Dapat Diatasi?

Terlepas dari perbedaan pandangan mengenai sistem pemerintahan, terdapat beberapa prinsip yang dapat menjadi bahan diskusi dalam mencari solusi persoalan Gen Z.

Pertama, memperkuat ketahanan ekonomi anak muda. Pendidikan finansial, akses terhadap pekerjaan layak, pengembangan keterampilan, serta perlindungan pekerja menjadi hal penting agar generasi muda memiliki kemampuan mengelola pendapatan dan menghadapi kebutuhan hidup.

Kedua, membangun budaya konsumsi yang sehat. Anak muda perlu memahami perbedaan antara kebutuhan, keinginan, dan tekanan sosial. Self-reward boleh dilakukan, tetapi sebaiknya tidak menjadi pelarian utama dari masalah kehidupan.

Ketiga, mengembangkan literasi digital. Kemampuan memahami cara kerja media sosial dapat membantu Gen Z menyadari bahwa konten yang mereka lihat belum tentu menggambarkan kehidupan nyata. Tidak semua tren harus diikuti.

Keempat, memperkuat nilai dan tujuan hidup. Dalam perspektif Islam, keberhasilan tidak hanya berkaitan dengan uang, karier, atau popularitas. Kehidupan juga memiliki dimensi spiritual dan tanggung jawab sosial.

Lantas, Bagaimana Khilafah Mengatasi Permasalahan Ini?

Negara Khilafah menjamin kebutuhan dasar seluruh rakyat melalui pengelolaan sumber daya alam (SDA) dan memastikan tersedianya lapangan kerja yang layak bagi setiap laki-laki. Dengan demikian, rakyat, termasuk Gen Z, tidak harus berjuang menghadapi persoalan ekonomi seorang diri.

Islam menutup pintu gaya hidup hedonis dan melindungi generasi dari paparan konten yang merusak, seperti sekularisme, kapitalisme, dan turunannya. Media dalam Khilafah akan diarahkan untuk memberikan edukasi dan meningkatkan ketakwaan rakyat.

Islam membangun paradigma yang benar tentang hakikat hidup manusia, yaitu untuk beribadah kepada Allah (QS Adz-Dzariyat: 56). Dengan akidah yang kokoh, generasi akan memiliki visi sebagai pembangun peradaban Islam. [MA/UF]

Baca juga:

0 Comments: