Sebuah Kurban untuk Guru yang Tak Pernah Meminta
Oleh: Maya Rohmah
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—
“Kalau kita mencintai seseorang karena Allah, apa yang paling layak kita persembahkan untuknya?” tanyaku suatu sore, lebih kepada diri sendiri.
Pertanyaan itu menggantung lama hingga akhirnya bermuara pada satu jawaban sederhana, tetapi dalam: kurban.
Momentum menjelang Iduladha 1447 H ini membawa ingatanku berkelana. Kilas balik masa sekolah yang berpindah-pindah kota belasan kali membuat jejak para guruku tak banyak terekam utuh. Bukan karena mereka tak istimewa, melainkan karena keterbatasanku dalam mengingat.
Namun, ada beberapa nama yang masih tersisa hangat di hati. Bu Mimin, berkat guru yang lembut tutur katanya ini, aku menyukai pelajaran Bahasa Indonesia. Lalu Bu Ami, guru Fisika di SMA, yang dengan penuh perhatian membantu mengurus berbagai persyaratan dan berkas hingga akhirnya aku bisa diterima di sebuah kampus ternama di Kota Bogor. Sayangnya, jarak memisahkan kami dan waktu menghapus jejak komunikasi.
Di masa kuliah, justru sosok guru yang paling berkesan bukanlah dosen di ruang kelas, melainkan seorang kakak kos sekaligus pembimbing kajian Islam, Mbak Wiwid. Mahasiswi S3 fakultas teknik yang haus akan ilmu agama. Setiap ucapannya penuh makna.
“Ilmu itu bukan hanya untuk dipahami, tetapi untuk mengubah hidup,” begitu katanya suatu malam di ruang sempit kos kami.
Kini, beliau pun telah melesat jauh. Namanya kutemukan dalam berita, tengah meraih sebuah penghargaan internasional. Lagi-lagi, kami kehilangan kontak.
Maka, di titik ini, aku memilih untuk memandang yang dekat. Sosok yang saat ini nyata membersamai langkahku.
Dialah Ustazah Ulfa.
Beliau memang bukan orang pertama yang mengenalkanku pada Islam ideologis, tetapi kegigihannya dalam berdakwah membuatku terpukau. Dengan enam anak, Ilman, Izul, Isyam, Yumna, Jibran, dan Nadifa, beliau menjalani hari-harinya sebagai ibu sekaligus pejuang dakwah.
Anak sulungnya kini duduk di kelas 1 SMA, sementara si bungsu baru sekitar 3 tahun 7 bulan. Di tengah kesibukan rumah tangga yang tak pernah usai, beliau tetap melangkah di jalan dakwah.
“Rizki minallah,” ujarnya suatu kali sambil tersenyum saat menceritakan kondisi hidupnya.
Beliau pernah menjadi guru di sebuah SD Islam terpadu, tetapi memilih mengundurkan diri saat hamil anak keenam. Kini, hari-harinya diisi dengan mengurus keluarga dan aktivitas dakwah. Tak jarang lelah dan sakit datang, tetapi kesabaran selalu menjadi selimutnya.
Ponselnya sering mati. Motornya kerap mogok. Laptop pun tak dimiliki, padahal ia membutuhkannya untuk membuat laporan dakwah setiap bulan. Untuk pulsa dan listrik, beliau sering memintaku membelikan terlebih dahulu, lalu membayarnya saat ada rezeki atau ketika bertemu di forum-forum.
Beliau belum memiliki rumah sendiri. Pernah tinggal di rumah yayasan dengan sewa murah, kini menempati rumah seorang teman pengajian tanpa harus membayar.
“Rizki minallah,” ujarnya lagi.
Tak pernah sekali pun aku mendengar keluhan. Yang ada justru senyum, prasangka baik, dan semangat yang tak pernah padam.
Di tengah keterbatasan, beliau tetap ingin berinfak seoptimal mungkin. Aku teringat kisah para sahabiyah, sebagaimana ditulis Ibnu Sa'ad dalam Thabaqat al-Kubra, tentang perempuan-perempuan mulia yang tetap berinfak di tengah keterbatasan. Mereka tidak menunggu kaya untuk memberi, tetapi memberi karena dorongan iman. Semangat itu yang kulihat pada Ustazah Ulfa.
Dan di sinilah kurban menemukan maknanya, bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi juga menyembelih ego, cinta dunia, dan rasa memiliki. Allah menegaskan bahwa yang sampai kepada-Nya bukanlah daging dan darahnya, melainkan ketakwaan kita.
Melalui tulisan ini, aku ingin menghadirkan makna cinta dan pengorbanan sebagai wujud bakti kepada sosok yang kuanggap sebagai guru, yang telah membersamai langkahku dalam kebaikan dan dakwah. Bukan dengan kata-kata semata, tetapi dengan ikhtiar nyata yang, semoga, bernilai di sisi-Nya.
Beberapa tahun terakhir, aku mencoba mengikuti challenge kurban di SSCQ. Dengan penuh antusias, aku menghubungi beliau. Saat itu, tanggal 30 Mei 2024.
“Assalamu'alaikum. Mbak Ulfa sudah pernah berkurban?” tanyaku melalui pesan.
“Belum pernah,” jawabnya singkat.
Lalu disusul doa penuh harap:
“Semoga disegerakan waktunya oleh Allah untuk kami bisa berkurban juga.”
Aku pun menyampaikan bahwa aku sedang mengikuti challenge menulis berhadiah hewan kurban.
“Jika saya menang, nanti hadiahnya insyaallah untuk Mbak Ulfa!”
“Semoga dimudahkan dan dilancarkan, dapat yang terbaik menurut Allah, ya,” ujarnya tenang.
Aku terdiam lama membaca pesan itu.
Sejak saat itu, setiap kali aku dan suamiku berkurban, kami selalu mengundangnya.
“Mbak Ulfa, bisa datang masak dan makan bersama?” ajakku pada Iduladha 1445 H.
“Lihat kondisi, ya, Mbak … insyaallah kalau sehat, kami upayakan hadir,” jawabnya penuh harap.
Namun, tak selalu bisa. Kadang kondisi tak memungkinkan. Bahkan, pada Iduladha berikutnya, hanya suaminya yang hadir.
Di titik inilah hatiku bergetar. Bagaimana jika suatu hari aku bisa menghadiahkan kurban untuknya?
Bukan karena ia meminta, justru karena ia tak pernah meminta.
Sebagai bentuk terima kasih atas teladannya. Atas dakwahnya. Atas kesabarannya. Atas cintanya kepada Allah yang menular tanpa banyak kata.
Ya Allah, jika Engkau berkenan …
Jadikanlah tulisan ini sebagai saksi niatku.
Mudahkanlah langkahku, lapangkan rezekiku agar aku bisa berkurban tahun ini.
Dan jika Engkau izinkan, betapa besar rasa syukurku jika aku dapat mempersembahkan seekor hewan kurban untuk beliau sebagai tanda cinta, bakti, dan penghormatan kepada guru yang tak pernah meminta, tetapi begitu banyak memberi.
Semoga catatan ini menjadi pengingat bahwa kurban bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi juga tentang menghadirkan kebahagiaan bagi orang-orang yang telah berjasa dalam hidup kita. Karena sejatinya, mencintai guru adalah bagian dari mencintai jalan menuju-Nya.
[NI/HEM]
Baca juga:
0 Comments: