Headlines
Loading...

Oleh: Rina Herlina
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com—Semarak Iduladha sebentar lagi menyapa umat Islam di seluruh dunia. Semuanya bersukacita menyambut hari raya kurban yang melegenda. Ya, hari raya yang menjadi simbol pengorbanan, ketaatan, keimanan, dan ketawakalan luar biasa dari dua anak manusia, Ibrahim dan Ismail.

Kisahnya begitu masyhur. Menjadi teladan bagi umat bahwa kecintaan dan ketundukan kepada Allah perlu pembuktian, bukan sekadar retorika, apalagi formalitas belaka. Nabi Ibrahim dan putranya telah memberikan contoh nyata tentang keikhlasan berkorban demi Allah semata, meski yang harus dikorbankan adalah buah hati tercinta, yang kehadirannya sejatinya merupakan pelipur lara dari sebuah penantian panjang dan malam-malam penuh doa.

Begitulah kisah itu Allah rangkai agar menjadi pelajaran bagi kita yang sering kali mengaku mencintai-Nya, tetapi belum maksimal memberikan pengorbanan, baik tenaga, waktu, pikiran, maupun harta. Komunitas SSCQ, di momen Iduladha yang sebentar lagi tiba, mengajak kita untuk mengorbankan waktu dan pikiran dengan menulis tulisan inspiratif bertema luar biasa, yaitu “Persembahan Kurban untuk Guruku”.

Saat membaca tema tersebut, hati dan pikiranku langsung teringat kepada seorang guru sekaligus ibu ideologis yang telah membimbing dan mengajariku banyak hal tentang kehidupan, terutama kesabaran. Ya, aku banyak belajar darinya tentang menerima takdir dengan hati yang rida. Tentang pentingnya keikhlasan dalam setiap perbuatan. Tentang semangat yang selalu terpancar indah dari wajah teduhnya dalam meniti jalan dakwah yang sering kali tidak mudah. Ya, begitulah jalan ini didesain, sulit, terjal, bahkan penuh onak dan duri.

Guruku itu bernama Wasmawati. Nama yang begitu sederhana, sesederhana kehidupannya. Beliau dikaruniai tiga orang buah hati, salah satunya merupakan anak “istimewa”. Beliau adalah salah satu single parent tangguh yang aku kenal. Imannya kukuh, pribadinya lembut, wajahnya teduh, dan yang paling membuatku kagum, mentalnya sekuat baja.

Ujian hidup tak membuatnya lemah dalam berdakwah. Kesulitan ekonomi tak menjadi penghalang baginya untuk menghadiri berbagai agenda dakwah. Dirinya selalu yakin dengan janji Allah dalam surah Muhammad ayat 7.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

ÙŠٰۤـاَÙŠُّÙ‡َا الَّذِÙŠْÙ†َ اٰÙ…َÙ†ُÙˆْۤا اِÙ†ْ تَـنْصُرُوا اللّٰÙ‡َ ÙŠَÙ†ْصُرْÙƒُÙ…ْ ÙˆَÙŠُØ«َبِّتْ اَÙ‚ْدَا Ù…َÙƒُÙ…ْ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

(QS. Muhammad: 47:7)

Ayat ini juga yang selalu beliau sampaikan kepadaku. Bahwa jika kita menolong agama Allah, percayalah, Allah akan selalu menolong kita dalam berbagai kesulitan, tak peduli apakah kesulitan tersebut jauh melampaui logika kita sebagai manusia. Jangan pernah ragu dan khawatir akan banyak hal. Yakinlah, pertolongan Allah itu sangat dekat, lebih dekat daripada urat leher.

Setiap mengingat pesan-pesannya, perlahan aku mulai yakin dan tidak lagi merasa khawatir. Aku yakin bahwa apa pun kesulitan yang hadir pasti ada jalan keluarnya karena Allah sendiri yang mengatakan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan.

Melalui challenge ini, aku ingin sekali memberikan hadiah kepada guruku tercinta, yaitu hewan kurban. Sungguh, aku ingin bisa menjadi seseorang yang menghadirkan senyum kebahagiaan dalam hidupnya. Ya, meskipun aku yakin beliau selalu bahagia dalam kondisi apa pun. Namun, aku hanya ingin memberikan tanda cinta dalam episode kehidupannya yang terkadang berat, meski dirinya tak pernah menunjukkannya kepada siapa pun.

Guruku selalu berusaha menutupi segalanya dari kami. Beliau adalah tipe orang yang tidak pernah mau menampakkan kesulitannya dan tidak mau merepotkan orang lain, sekalipun sahabatnya sendiri. Jika melihat penampilan dan wajah teduhnya yang senantiasa berseri, orang-orang memang tidak akan pernah tahu, bahkan mungkin tidak percaya, bahwa sebenarnya beliau sedang berjuang dalam segala hal.

Baik sebagai ibu bagi ketiga buah hati tercintanya, sebagai anak bagi ibunya, sebagai guru bagi sahabat-sahabatnya, maupun sebagai tulang punggung bagi keluarga kecilnya.

Ah, semoga saja Allah berkenan mengabulkan apa yang menjadi harapanku. Aku ingin menjadi seseorang yang bisa menghadirkan senyum kebahagiaan di wajah guruku. Sosok yang penuh kasih dan berdedikasi tinggi dalam dakwah. Sosok yang mudah memberikan apa saja yang dimilikinya. Meski sebenarnya hidupnya sendiri sulit, kenyataan tersebut tidak lantas menjadikannya seseorang yang pelit.

Beruntungnya aku bertemu denganmu, wahai ibu ideologisku. Semoga Allah menjagamu dengan penjagaan terbaik.

Tetaplah menjadi cahaya untuk kami dan umat. Tetaplah tersenyum meski adakalanya dunia ini tidak ramah. Tetaplah menjadi penenang bagi hati kami yang terkadang diliputi kegelisahan. Tetaplah bersemangat dalam meniti jalan dakwah agar kaki kami pun tak mudah kehilangan arah.

Bu, sungguh mengenalmu adalah karunia terindah. Aku selalu bangga menceritakan tentang kisahmu kepada semua orang yang kujumpai. Aku ingin menjadikanmu sosok teladan dalam perjuangan dakwah yang tidak mudah. Aku ingin semua orang tahu bahwa di dunia ini ada wajah yang selalu teduh meski dunianya terkadang runtuh.

Itulah dirimu. Wajah itu adalah wajahmu. Wajah yang cerah hanya dengan air wudu dan lisan yang selalu basah oleh zikir yang kau jadikan sebagai obat untuk semua keluh, kesah, dan lelahmu.

Bu, saat ini raga kita memang terpisah oleh jarak, ruang, dan waktu, tetapi tidak dengan hati kita. Saat ujian hidupku terasa berat, dirimu menjadi salah satu orang yang ingin kumintai doa. Aku selalu bisa berbagi kisah denganmu.

Maafkan jika aku terkadang masih merepotkanmu tentang beberapa hal. Aku hanya selalu rindu nasihatmu dan merasa lebih nyaman jika sudah bercerita kepadamu. Aku rindu saat-saat belajar bersama sahabat yang lain bersamamu. Ya, aku rindu. Rindu ini akan selalu ada untukmu, Bu.

Terima kasih untuk segenap cintamu. Doakan agar aku istikamah meniti jalan dakwah yang sering kali terasa begitu berat. Terima kasih untuk semua ilmu yang sudah engkau berikan kepadaku. Terima kasih atas kesabaranmu membersamaiku selama ini.

Jarak dan waktu takkan menjadi penghalang untuk aku selalu merindukanmu. Jangan pernah lelah memberikan nasihat kepadaku. Aku bersyukur Allah mempertemukan kita. Semoga Allah meridai pertemuan dan kebersamaan kita sampai ke Jannah.

“Bu, kelak saat tak kau temui aku di surga, tolong cari aku. Tolong sampaikan kepada Allah bahwa aku pernah berjuang bersamamu meniti jalan dakwah. Bahwa kita pernah bersama dalam beberapa majelis ilmu. Tolong sampaikan kepada Allah bahwa sejak aku memutuskan hijrah, aku selalu berusaha menjalani hidup dalam ketaatan, baik saat berada di keramaian maupun ketika sendirian.”

“Bu, aku sudah meminta restu tentang keikutsertaanku dalam challenge ini kepadamu. Bantu aku dengan doa-doa terbaikmu. Inilah ranah yang bisa kita upayakan. Selebihnya, biarkan Allah bekerja dengan cara-Nya.

Sejatinya, pemenang dari challenge ini sudah tertulis di Lauh Mahfuz. Mungkin bukan aku, tetapi aku harus tetap optimistis dan berprasangka baik kepada-Nya. Jika belum menjadi takdirku untuk menang, semoga ini sudah tercatat sebagai pahala kebaikan di sisi-Nya.

Semoga di waktu dan kesempatan yang berbeda, aku bisa mewujudkan impianku memberi hadiah kurban untukmu. Amin.”

[NI/HEM]

Baca juga:

0 Comments: