Headlines
Loading...
Pengorbanan Kurban bagi Guru Hidupku

Pengorbanan Kurban bagi Guru Hidupku

Oleh: Santi Wardhani
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com— Aku pernah hidup tanpa benar-benar merasa hidup. Aku beribadah, tetapi hatiku kosong. Aku tahu tentang Allah, tetapi perlahan menjauh dari-Nya tanpa sadar. Dan yang paling menyakitkan, aku tahu aku salah, tetapi tetap bertahan di dalamnya.

Iduladha bukan hanya tentang darah yang jatuh ke tanah. Ia adalah tentang sesuatu yang lebih sunyi, tentang hati yang disembelih diam-diam, tentang ego yang dipatahkan tanpa suara, tentang diri yang harus berani "mati" agar bisa benar-benar hidup kembali di hadapan Allah.

Jika hari ini aku diminta menyebut satu nama yang mengubah seluruh arah hidupku, bukan sekadar memperbaiki, tetapi menyelamatkan, dengan jujur aku akan berkata: suamiku. Bukan hanya sebagai pendamping, tetapi sebagai guru yang Allah kirim saat aku hampir tidak tersisa.

Dahulu, aku berjalan, tetapi tanpa arah. Aku beribadah, tetapi tanpa rasa. Aku tahu agama, tetapi tidak benar-benar mengenal Tuhanku. Dari luar, aku tampak utuh, tetapi di dalam, aku runtuh perlahan tanpa suara.

Aku pernah mencoba hijrah, lalu jatuh lagi. Bukan sekadar tergelincir, aku tenggelam. Aku bekerja di tempat yang riba bukan sekadar teori, tetapi menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Aku terlibat di dalamnya, melihatnya, mencatatnya, dan menjalankannya.

Setiap hari hatiku seperti berperang dengan diriku sendiri. Aku tahu ini salah. Aku tahu ini dosa besar. Namun, aku tetap bertahan karena saat itu aku lebih takut kehilangan penghasilan daripada kehilangan rida Allah. Dan itulah titik terendahku, saat dosa terasa biasa dan hati tidak lagi peka.

Hijabku ada, tetapi tidak menjaga. Aku sadar. Aku malu. Namun, aku tidak tahu bagaimana pulang. Sampai akhirnya, di titik paling gelap yang bahkan tak ingin kuingat, Allah mengirimkan dia.

Bukan saat aku baik. Bukan saat aku layak. Justru saat aku penuh luka, penuh kekurangan, dan hampir menyerah pada diriku sendiri. Dia memilihku.

Bukan hanya menerimaku, tetapi mempercayaiku untuk menjadi bagian dari hidupnya. Dengan suara yang nyaris hilang, aku pernah bertanya, "Mengapa aku? Anda lulusan pesantren, seorang guru. Sedangkan saya jauh dari pantas. Dari pakaian saja sudah terlihat, apalagi ilmu saya yang nyaris tidak ada. Membaca Al-Qur'an pun belum bisa, masih bergantung pada tulisan Latin."

Dia tidak berdebat. Tidak menjelaskan panjang lebar. Dia hanya berkata, "Setiap orang berhak berubah." Dan saat itu, sesuatu di dalam diriku hancur.

Semua alasan yang selama ini aku pakai untuk bertahan dalam kesalahan runtuh satu per satu. Saat aku melihat diriku sebagai kegagalan, dia melihat kemungkinan. Saat aku merasa terlambat, dia melihat waktu yang masih Allah beri. Saat aku menyerah pada diriku sendiri, dia tidak pernah menyerah kepadaku.

Dan di situlah aku mengerti, ini bukan sekadar cinta manusia. Ini adalah cara Allah menarikku kembali sebelum aku benar-benar hilang.

Dia tidak pernah memaksaku berubah. Tidak pernah menuntutku sempurna. Namun, kesabarannya menghancurkan kerasnya hatiku yang selama ini tak tersentuh. Tanpa suara keras, tanpa paksaan, dia menggenggam tanganku dan menarikku keluar dari gelap yang selama ini kuanggap "biasa".

Dia mengajarkanku mengaji, bukan sekadar membaca, tetapi menghadirkan keberkahan Al-Qur'an dalam hidupku. Dia mengenalkanku pada fikih, bukan hanya hukum, tetapi rasa takut kepada Allah. Kini, dia membimbingku mempelajari kitab kuning yang dahulu terasa mustahil, tetapi kini perlahan menjadi cahaya. Walaupun perlahan dan tertatih, aku merasa hidup.

Aku mungkin tak banyak mengenal dunia luar. Namun, di ruang sederhana ini, Allah membukakan dunia yang jauh lebih luas. Di ruang sederhana ini, aku belajar mengenal Allah. Di ruang sederhana ini, aku dibenahi tanpa penghakiman. Di ruang sederhana ini, aku diselamatkan.

Suamiku, guruku. Dia tidak banyak bicara, tetapi ucapannya menembus sampai ke hati terdalam. Dia tidak meninggikan suara, tetapi sikapnya mengguncang jiwa. Dia tidak memaksaku berubah, tetapi diamnya membuatku takut untuk tetap menjadi diriku yang lama.

Kini aku mengerti, dia telah berkurban jauh sebelum aku memahami arti kurban. Dia mengorbankan waktunya untuk seseorang yang tersesat. Dia mengorbankan tenaganya untuk seseorang yang jatuh. Dia mengorbankan kesabarannya untuk seseorang yang bahkan belum tahu cara kembali kepada Tuhannya.

Dan seseorang itu adalah aku. Sementara aku baru belajar mengorbankan ego. Baru belajar meninggalkan kebiasaan lama. Baru belajar taat.

Hari ini, di hadapan momentum Iduladha, aku tidak membawa apa-apa kecuali satu harapan dan keyakinan yang terus bergetar. Ya Allah, jika di kesempatan ini Engkau mampukan aku untuk berkurban, maka izinkan kurban itu menjadi persembahanku untuknya.

Bukan karena aku mampu membalas, karena aku tahu aku tidak akan pernah mampu. Namun, karena aku ingin belajar menghargai seseorang yang diam-diam telah menyelamatkan hidupku.

Bukan nanti. Bukan sekadar angan. Hari ini, Ya Allah, jika Engkau izinkan, izinkan aku mewujudkan satu impian sederhana: memberikan kejutan untuknya, sebuah hadiah kurban meski mungkin hanya sekali dalam hidupku.

Karena bagiku, itu bukan sekadar kurban. Itu adalah jeritan terima kasih yang selama ini tidak pernah mampu aku ucapkan.

Iduladha kali ini mengajarkanku satu hal. Yang harus disembelih bukan hanya hewan, tetapi diriku yang lama: kesombongan, kelalaian, dan segala yang pernah membuatku jauh dari-Mu.

Dan jika hari ini aku benar-benar mampu berkurban, ketahuilah, itu tidak akan pernah sebanding dengan pengorbanannya. Karena pengorbanannya tidak terlihat. Tidak terdengar. Namun, diam-diam menyelamatkan seluruh hidupku.

Dia tidak hanya mengajarkanku cara hidup. Dia berjuang agar aku tidak menjadi orang yang merugi di akhirat. Terima kasih, suamiku, guruku.

Semoga setiap lelahmu menjadi pahala tanpa batas. Setiap sabarmu menjadi cahaya di akhirat. Dan semoga Allah menjaga langkahmu hingga kita dipertemukan kembali di tempat terbaik yang telah Dia janjikan.

Maka, jika hari ini aku mampu berkurban, jangan lihat itu sebagai kemampuanku. Lihatlah sebagai bukti bahwa ada seseorang yang tidak pernah berhenti menarikku kembali kepada Allah saat aku hampir memilih untuk tenggelam selamanya.

Amin. 

[Ni/HEM]

Baca juga:

0 Comments: