Headlines
Loading...

Oleh: Eka Suryati
(Kontributor SSCQMedia.com)

SSCQMedia.com— Waktu berjalan tanpa pernah menoleh ke belakang. Ia melaju pelan, tetapi pasti, membawa kita meninggalkan jejak-jejak yang baru saja terukir. Tanpa terasa, hangatnya Idulfitri kini telah berlalu, seolah hanya singgah sebentar dalam pelukan hari-hari kita.

Kini, langkah demi langkah membawa kita mendekat pada bulan Zulhijah yang penuh makna, tempat pengorbanan diuji dan cinta kepada Allah dibuktikan.

Di sanalah Iduladha menanti, mengetuk hati-hati yang rindu untuk memberi. Termasuk hatiku yang menyimpan satu harapan sederhana: mempersembahkan kurban untuk sosok yang telah menjaga istikamahku.

Kalau berbicara tentang kurban, kita akan teringat kisah keluarga Nabi Ibrahim yang sangat taat kepada Allah. Sebuah ketaatan yang luar biasa dan tidak biasa. Taat tanpa tapi, tanpa nanti.

Puncak pengorbanan Nabi Ibrahim adalah ketika beliau harus menyembelih Ismail. Dengan ketaatan yang sama, Ismail pun siap melaksanakan perintah Allah. Hingga kini, kisah mereka diabadikan dalam rangkaian ibadah haji, termasuk menyembelih hewan kurban pada hari ke-10 setelah salat Id dan dapat dilanjutkan pada tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijah.

Kalau berbicara tentang pengorbanan, siapalah diri ini dibandingkan dengan keluarga Nabi Ibrahim? Aku sangat menyadari betapa lemahnya iman di dada. Karena itu, tak mungkin Allah memerintahkan berkurban sebagaimana Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya.

Kurban bukan hanya tentang hewan yang disembelih lalu dagingnya dibagikan. Lebih dari itu, kurban adalah tentang menyembelih “Ismail-Ismail” yang bersemayam dalam hati kita. Tujuannya adalah belajar tunduk sepenuhnya kepada Allah dengan meluruhkan ego.

Kurban adalah tentang cinta yang menuntut pembuktian. Sebab, tanpa disadari, setiap diri memiliki “Ismail”-nya masing-masing; sesuatu yang sangat dicintai, dijaga, dan sulit dilepaskan.

Di tengah renungan tentang makna kurban inilah aku sedang membangun harapan untuk berkurban. Diam-diam aku menabung untuk membeli hewan kurban. Di tengah banyaknya kebutuhan yang harus dipenuhi, kusisihkan sedikit demi sedikit uang agar kelak aku bisa mempersembahkan hewan kurban untuk orang-orang yang aku sayangi.

Walaupun entah kapan hewan kurban itu bisa terbeli, aku belajar menjaga semangat berkurban dengan menyisihkan uang yang kadang tidak cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Namun, aku ingin menundukkan ego. Harus ada yang kukorbankan, termasuk kesenangan diri untuk membeli sesuatu yang sebenarnya masih bisa ditunda.

Saat anganku berkelana, ada sebuah kabar yang begitu membangkitkan rasa dan keinginan untuk bisa berkurban pada tahun ini. Yang lebih membuat haru membuncah dalam dada adalah tema challenge yang diadakan di SSCQ. Temanya begitu bersesuaian dengan hati yang ingin memberikan sesuatu kepada seseorang yang sudah begitu banyak berkorban untukku.

Seseorang yang telah bersungguh-sungguh meriayahku dan teman-teman di komunitas. Seseorang yang akhirnya membuatku menjadi istikamah dalam bertilawah serta mencari ilmu tentang Islam.

Kalau kutelusuri jalan panjangku menemukan hidayah kembali, terbayang wajahnya yang telah membuatku perlahan menjadi seperti saat ini. Aku yang kembali belajar istikamah di jalan Allah, walau dengan langkah yang masih sering terseok-seok oleh lemahnya diri.

Dialah guru ideologisku. Dari beliau, aku seperti menemukan kembali arah yang sempat kabur dalam perjalanan hidupku. Perlahan, pemahamanku tentang Islam tak lagi hanya sebatas ibadah ritual, tetapi juga tentang bagaimana menjadikan Islam sebagai jalan hidup yang utuh dan menyeluruh.

Dari tutur katanya yang lembut, tetapi tegas, serta dari tulisan-tulisannya yang penuh kesadaran, aku belajar memandang kehidupan dengan lebih jernih.

Dalam dirinya, aku tak hanya menemukan sosok guru, tetapi juga sosok seorang ibu yang menguatkan dengan kasih sayang dan menuntun tanpa menghakimi. Ada rasa hangat setiap kali membaca nasihatnya, seolah ada tangan yang sedang merangkul hati yang lelah agar kembali berdiri dan melangkah menuju Allah.

Dari beliau pula aku belajar bahwa hijrah bukan tentang berubah dalam semalam, melainkan tentang terus berjalan meski tertatih, terus kembali meski berkali-kali jatuh.

Tutur katanya selalu sopan, menyejukkan hati yang tersapa.

“Assalamualaikum, Salihah. Bagaimana kabarnya hari ini?” Begitulah beliau suka menyapaku, baik secara pribadi maupun di dalam grup.

“Oh, ya, Bunda Salihah, ini ada sedikit tanda cinta karena sudah membuat peskes yang begitu indah, membuat banyak hati terpesona,” katanya padaku.

Lagi-lagi, kata-kata beliau membuatku terharu. Begitu lembut, membangkitkan rasa untuk selalu berbuat yang terbaik dalam rangka mencari rida Allah semata.

Banyak sekali yang telah diberikannya untukku. Salah satunya adalah komunitas yang menjadi wasilahku untuk istikamah dalam mempelajari Al-Qur’an, menulis, dan memperbaiki diri sedikit demi sedikit.

Di sana, aku tak hanya menemukan tempat untuk belajar, tetapi juga menemukan sahabat-sahabat taat untuk berbuat kebaikan. Dan di balik semua ini ada sosok Bunda Lilik yang tak pernah lelah untuk selalu membersamai kami dalam upaya mengejar cinta-Nya.

Aku sering berpikir, mungkin tidak mudah menjadi seseorang yang harus terus menguatkan banyak hati dalam waktu bersamaan. Namun, beliau melakukannya dengan penuh cinta.

Beliau mengorbankan waktu yang dimilikinya untuk membimbing dan menyapa kami. Waktunya diberikan untuk menasihati dan mengingatkan kami untuk bertilawah. Bunda juga selalu memberi semangat agar kami terus menulis demi dakwah, menanamkan pemahaman tentang Islam kafah dengan cara yang lembut dan menenangkan.

Tidak sedikit pula materi, hadiah, dan apresiasi yang beliau berikan untuk menyemangati kami agar tetap bertahan di jalan Allah. Bahkan, banyak hal dilakukan beliau tanpa meminta imbalan sedikit pun.

Semua diberikan dengan tulus karena beliau benar-benar ingin melihat kami tumbuh menjadi pribadi yang lebih dekat kepada-Nya. Kadang aku merasa malu sendiri. Di saat diri ini masih sering mengeluh karena lelah, beliau justru terus memberi tanpa banyak bicara tentang lelahnya sendiri.

Yang lebih membuatku tersentuh adalah ketika beliau masih hadir, menyempatkan diri menyapa dengan penuh cinta di tengah padatnya aktivitas yang menguras tenaga dan pikirannya.

Tanpa sempat beristirahat, Bunda terus memotivasi kami, memberi semangat untuk terus menuntut ilmu dan menimba ilmu literasi agar kami menjadi pribadi yang bertakwa.

Pelajaran yang aku dapatkan dari pribadinya adalah bahwa dakwah bukan hanya tentang menyampaikan ilmu, tetapi juga tentang ketulusan berkorban demi kebaikan orang lain.

Bunda Lilik telah mengajarkanku bahwa pengorbanan tak selalu berbentuk sesuatu yang besar dan terlihat. Kadang, ia hadir dalam bentuk waktu yang dihabiskan untuk mendengar keluh kesah orang lain, tenaga yang dipakai untuk terus membersamai umat, pikiran yang dicurahkan demi menyiapkan tulisan dan ilmu, bahkan kesehatan yang perlahan terkuras demi tetap menjaga nyala semangat kami di komunitas ini.

Maka, jika hari ini aku memiliki keinginan yang begitu besar untuk mempersembahkan hewan kurban untuk beliau, itu bukan semata karena rasa kagum. Ini adalah bentuk cinta dan rasa terima kasih dari seseorang yang merasa telah begitu banyak menerima cahaya darinya.

Aku sadar, seekor hewan kurban tak akan pernah mampu membalas semua pengorbanan yang telah dilakukannya. Namun, setidaknya aku ingin ada doa yang mengalir untuk beliau di hari-hari penuh berkah itu. Aku ingin ada bagian kecil dari usahaku yang dipersembahkan untuk Bunda yang telah menjadi penjaga istikamahku.

Kelak, ketika gema takbir memenuhi langit Zulhijah dan hewan kurban mulai dipersembahkan atas nama Allah, aku ingin namamu ada dalam doa-doaku yang sangat tulus, Bunda.

Aku ingin Allah menerima setiap lelahmu sebagai pahala yang terus mengalir, menerima setiap air mata dan perjuanganmu sebagai jalan menuju surga-Nya.

Jika suatu hari Allah benar-benar mengizinkanku mempersembahkan hewan kurban untukmu, itu bukan karena aku telah mampu membalas jasamu. Tidak akan pernah bisa.

Namun, setidaknya, itu menjadi tanda bahwa pernah ada seorang guru yang begitu berjasa menjaga istikamah seorang murid kecil sepertiku.

Terima kasih telah menjadi cahaya di tengah gelapnya hati yang pernah kehilangan arah. Terima kasih telah membuatku kembali mencintai Al-Qur’an, mencintai ilmu, dan mencintai jalan menuju Allah.

Semoga Allah selalu menjaga langkahmu sebagaimana engkau telah menjaga langkah banyak hati agar tetap bertahan di jalan-Nya.

Amin.

[Ni/EKD]

Baca juga:

0 Comments: