Oleh: Neni Arini
(Kontributor SSCQMedia.com)
SSCQMedia.com— Ketika mengingat sosok ini, selalu ada bulir air mata yang menetes di kedua pipiku. Bukan air mata kesedihan, bukan air mata kepedihan, melainkan air mata kebahagiaan karena bersyukur Allah telah mempertemukanku dengan beliau.
Ibu, sebutan yang selalu kusandingkan untuknya. Pembawaannya begitu lembut, tatapannya begitu teduh, pelukannya pun begitu hangat.
Ah, baru menulis beberapa kalimat saja, air mata ini tak bisa kubendung. Mengalir lepas seolah merasakan rasa yang selama ini tersimpan di hati.
Teringat kembali awal mengenalnya. Beliau adalah salah satu guru di sekolah. Mengajar di kelasku dengan mata pelajaran Tata Boga Keterampilan. Sementara di kelas lain, beliau mengajar Bahasa Prancis, Bahasa Inggris, juga Sosiologi Antropologi.
Ibu Joedaningsih, itulah nama yang selalu kami panggil. Setiap murid yang mengenalnya pasti akan teringat bahwa beliau adalah sosok yang sabar, tidak pernah memarahi murid-muridnya, lembut, dan selalu baik kepada semua anak. Di mata Ibu, kami, murid-muridnya, sangatlah istimewa.
Baginya, semua anak itu pintar, semua anak itu pasti bisa, semua anak itu cerdas, dan tidak ada anak yang bodoh. Tidak ada sisi negatif bagi beliau terhadap semua anak didiknya. Sulit sekali menemukan guru seperti beliau. Cara pandangnya selalu dikelilingi hal-hal positif. Padahal, pada zaman saat aku sekolah dulu, kata “bodoh” dan “tidak pintar” menjadi kata yang sangat lazim diucapkan ketika anak tidak bisa mencapai ukuran nilai secara akademik.
Aku jatuh cinta kepadanya, kagum pada sosok yang tidak biasa. Hatiku tenang jika beliau mengajar sehingga nilai rapor keterampilanku mencapai nilai sempurna.
Waktu pun bergulir. Hari demi hari aku lewati sebagaimana layaknya anak SMA pada saat itu. Datang pagi, pulang siang, belajar untuk mendapatkan sebuah nilai demi kebanggaan orang tua.
Suatu ketika, beliau memanggilku di sudut bangku sekolah. Senyumnya merekah ketika aku menghampirinya. Matanya pun seolah menatapku layaknya tatapan seorang ibu terhadap anaknya.
Ah, walau hati berdegup kencang karena menerka-nerka kesalahan apa yang telah kuperbuat sampai harus dipanggil begini, entah mengapa hatiku senang ketika dipanggil olehnya.
Kusalami tangannya yang lembut, lalu aku duduk tepat di hadapannya.
Kemudian aku bertanya, “Apa benar Ibu memanggilku?”
Sambil tersenyum, beliau menjawab, “Iya.”
Kulanjutkan pertanyaanku, “Ada apa, ya, Bu? Apa aku berbuat salah?”
Beliau pun menggelengkan kepalanya sambil berucap, “Tidak, Nen. Ibu hanya ingin tahu kabar Neni saja.”
Sungguh sebuah jawaban yang tidak kupikirkan sebelumnya. Hatiku tak karuan, perasaan berkecamuk. Ternyata ada orang yang tidak dekat denganku, tetapi ingin tahu kabarku.
Aku mencoba tersenyum sambil menjawab, “Aku baik-baik saja, Bu.”
“Alhamdulillah,” ucap beliau.
Terjadi percakapan yang hangat kala itu, walau tidak lama. Setelah mengobrol cukup banyak, aku pun pamit dan meminta izin untuk kembali ke kelas.
Sambil memeluk tubuhku, beliau memberikan sebungkus hadiah seraya berkata, “Semoga Neni suka, ya.”
Aku pun menjawab, “Terima kasih, Ibu. Pasti suka.”
Aku berlalu meninggalkan beliau untuk segera kembali ke kelas, sambil berpikir, mengapa beliau memberiku hadiah? Ah, jadi banyak pertanyaan yang tebersit di dalam hatiku.
Pertemuan demi pertemuan akhirnya kembali terulang dan tak lupa hadiah-hadiah kecil pun selalu kudapatkan dari Ibu, mulai dari hadiah ulang tahun hingga hadiah pada momen-momen lainnya.
Masuk ke semester empat, nilaiku jeblok. Semua orang di rumah memarahiku. Aku hanya bisa diam karena memang aku salah, tidak bisa memberikan nilai terbaik untuk keluarga.
Tetapi, lagi-lagi Ibu kembali memanggilku. Dengan tatapannya yang penuh kasih sayang, Ibu bertanya kepadaku mengapa nilaiku di semester ini mengalami penurunan.
Aku pun terkejut dan berpikir, kok tahu kalau nilai raporku tidak sesuai harapan, padahal Ibu tidak mengajar di kelasku?
Aku hanya mengangguk ketika harus mengakui bahwa nilai raporku memang jelek. Namun, ada satu hal yang tidak kudapatkan dari yang lain. Senyum Ibu tetap merekah dan mengatakan bahwa itu sudah menjadi hasil. Tidak perlu disesali. Yang justru menjadi pekerjaan rumah adalah bagaimana memperbaiki semua itu.
Lalu, beliau bertanya, “Neni capek di rumah?”
“Iya,” jawabku.
“Siapa biasanya yang menemani belajar?”
“Aku belajar sendiri, Bu.”
“Kalau tidak mengerti bagaimana?”
“Ya, terka-terka sendiri saja,” jawabku.
Senyum lebar pun semakin hadir di wajahnya yang teduh. Akhirnya, tanpa perlu ditanya, aku pun menceritakan bagaimana aku menghabiskan hari-hariku.
Mulai bangun pukul 05.00, salat, lalu langsung sibuk membereskan rumah. Bersiap berangkat ke sekolah. Karena berjalan kaki, aku harus berangkat lebih pagi supaya tidak terlambat.
Pulang sekolah, selepas makan siang, aku membantu membungkus es lilin sebanyak dua loyang.
Beliau bertanya, “Capek?”
“Iya, lah, Bu,” kataku.
“Terus, apalagi?” kata beliau.
Sore harinya, aku kembali membereskan rumah dan lainnya.
“Belajarnya kapan?”
“Malam,” jawabku. “Tapi badan rasanya sudah capek sekali.”
“Oh, begitu,” ucap beliau.
Setelah obrolan panjang itu, aku jadi sering mengobrol dengan Ibu di sela-sela jam sekolah. Aku seperti memiliki semangat baru untuk menjadi lebih baik karena Ibu tidak henti-hentinya memotivasiku untuk belajar lebih baik lagi.
Suatu ketika, aku bertanya, “Kenapa Ibu baik sama aku? Kenapa Ibu peduli sama aku? Aku kan bukan anak Ibu, saudara Ibu juga bukan. Tapi kenapa Ibu begitu memperhatikan aku?”
Jawaban yang terlontar dari bibirnya adalah, “Karena Ibu sayang sama Neni. Neni itu pintar, Neni itu cantik. Kenapa senyum itu tak pernah Ibu lihat di wajah Neni?”
Sambil memelukku, beliau mengucapkan kalimat itu sehingga aku pun tak tahan untuk meneteskan air mata.
Ya Allah, ternyata di dunia ini ada juga yang baik kepadaku selain mamahku. Ternyata tidak semua orang menatapku dengan sebelah mata seperti hari-hari biasanya.
Jujur, sejak perpisahan mamah dan bapak, mamah banyak menghabiskan waktu untuk mencari nafkah, bekerja banting tulang untuk menghidupiku dan adik semata wayangku. Aku bertemu dengan mamah hanya sekali dalam sepekan karena memang aku tinggal bersama om dan tanteku.
Jadi, memang jarang sekali terjadi obrolan mengenai sekolah dengan mamah. Kasihan, pikirku. Melihat mamah bisa tidur nyenyak saja sudah menjadi bahagiaku. Jadi, aku memang tidak terlalu banyak mengobrol tentang hal-hal yang nantinya akan membebani mamah.
Masa sekolah SMA-ku bisa dikatakan sebagai masa ketika aku tumbuh menjadi anak yang introver. Perpisahan orang tuaku sangat memengaruhi perkembangan mentalku. Apalagi bagi kami yang tinggal di Papua, perpisahan orang tua seperti menjadi aib besar. Sehingga aku tidak memiliki keberanian untuk menatap dunia luar.
Teman-teman pun kubatasi karena aku tidak mau mereka tahu kehidupanku yang sesungguhnya. Biarlah aku menerima garis takdirku dengan kesendirianku.
Mungkin secara fisik aku terlihat baik-baik saja, tetapi secara psikis, hatiku luka. Aku tidak baik-baik saja.
Dan ternyata semua yang aku rasakan bisa diindra oleh Ibu. Ibu seolah bisa merasakan bagaimana kosongnya hatiku. Ibu bisa merasakan sebab ketidakpercayaan diriku. Ibu bisa tahu bahwa aku membutuhkan tempat bersandar untuk mengadu.
Di saat kondisi terpuruk itulah Ibu memberikan sandaran kasih sayangnya untukku.
Kedekatan kami pun semakin terjalin sampai aku kuliah. Teman-teman bahkan sering menggodaku kalau aku ini bakal menjadi menantunya. Aku aminkan saja saat itu. Memang seperti ada firasat perjodohan, sih. Ha-ha.
Hari berganti hari, waktu pun terus beranjak. Kebersamaan kami pun semakin dekat. Bak anak dan ibunya, begitulah kedekatan yang terjalin.
Rambutku selalu dipotong oleh Ibu. Suka dibuatkan makanan dan mengobrol sampai lupa waktu. Semua itu adalah memori indah yang selalu aku simpan hingga kini.
Bahagia rasanya ketika mengingat kebersamaan itu. Dunia yang dulunya kupandang gelap, sejak kehadiran Ibu seolah meyakinkanku bahwa di luar sana banyak, kok, orang-orang baik.
Ternyata, di tengah pandanganku bahwa manusia itu jahat, Ibu mampu meyakinkanku bahwa di luar sana juga banyak orang yang memiliki kasih sayang. Ibu banyak mengenalkanku pada arti sebuah empati, arti sebuah rasa kemanusiaan, naluri, serta bagaimana menghargai satu sama lain.
Karena sejatinya, semua manusia itu sama di mata Allah. Yang membedakan hanyalah ketakwaannya.
Seperti firman Allah dalam Surah Al-Hujurat ayat 13:
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Ibu pernah bilang, “Nen, di dunia ini tidak ada yang menginginkan orang tuanya terpisah. Semua pasti menginginkan bersatu. Tapi jika itu sudah menjadi takdir, manusia sudah tidak bisa menolak. Perpisahan orang tua jangan membuat Neni terpuruk walau Ibu tahu itu tidak mudah.
Tetaplah berada di jalan yang benar. Jangan merasa takut, jangan malu terhadap apa yang orang lain pikirkan. Justru yang harus Neni lakukan adalah jemput masa depan dengan baik, raih sukses dengan sifat dan sikap yang baik di mata Allah.
Jangan melihat ke belakang, pandanglah ke depan. Ingat, Mamah, Neni, dan Adik itu berhak bahagia.”
Kata-kata Ibu begitu masuk ke relung sanubariku. Aku jadi lebih percaya diri, lebih bisa menata hati, dan hati tidak lagi disibukkan dengan pandangan serta penilaian orang lain terhadapku.
Aku seperti memiliki guru kehidupan yang membuatku bisa memandang dunia dengan cara baru, mendorong pemikiran untuk lebih baik, dan berani berbeda.
Belajar arti sebuah ketulusan, tidak sekadar diucapkan, melainkan terpancar dari matanya, terlihat dan terasa dari sikapnya, serta terdengar lembut dari tutur katanya.
Aku memang tidak terlahir dari rahimnya, tetapi Ibu adalah guru kehidupanku yang menjadikanku jauh berpikir ke depan, yang telah mengubah mindset-ku dalam memandang dunia. Meyakinkanku bahwa betapa sayangnya Allah kepada semua hamba-Nya. Itu yang harus aku syukuri.
Tahun berlalu, aku pun kembali ke kota kelahiranku, Bandung. Tetapi, ternyata rencana Allah begitu indah.
Setelah sekian lama banyak menghabiskan kebersamaan bersama Ibu, ternyata Allah memberikan garis takdir bahwa aku berjodoh dengan putranya.
Masyaallah, betapa baiknya Allah kepadaku sehingga dikirimkanlah laki-laki baik untuk menjaga sepanjang hidupku. Menemani di setiap lukisan kisah kehidupanku.
Hingga kini, laki-laki itu masih terus bersamaku dengan segala kebaikan yang tidak pernah berubah sejak aku mengenalnya.
Terima kasih, ya Allah, atas jodoh yang Engkau berikan. Aku bisa tenang dalam menjalani kehidupanku.
Perubahan hidup pun sangat terlihat ketika hidup bersamanya. Tidak ada lagi pandangan gelap akan dunia. Semua lebih kepada takdir yang kugenggam. Tidak ada lagi wajah yang selalu menunduk karena pandangan orang.
Sekarang aku bisa berjalan dengan penuh keyakinan diri bahwa di luar sana masih banyak orang-orang baik.
Dan sekarang tidak ada keraguan akan satu hal: bahwa Allah tidak pernah tidak adil. Semua yang terucap hanyalah rasa syukurku kepada Sang Pemilik diri.
Terima kasih telah menghadirkan sosok-sosok yang penuh cinta untukku.
Terima kasih, Ibu, telah mengizinkan putra kesayangan Ibu untuk menemani hidupku. Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan. Terima kasih atas segala cinta tulus yang telah diberi, dulu dan hingga kini.
Hari ini, mungkin kita telah dipisahkan oleh raga, tetapi tidak untuk hatiku. Hati ini selalu menyimpan sejuta cinta di ruang khusus yang aku simpan.
Jika rindu itu hadir, sujudku-lah yang menjadi pelipur laraku. Aku meminta kepada Sang Khalik untuk menyampaikan rasa rindu yang kurasakan kepada Ibu dan memohonkan kebaikan untuk Ibu.
Tak banyak yang tahu betapa istimewanya Ibu berada di setiap napasku. Di tengah sunyinya malam, di tengah aduanku akan riuh rendah kehidupan ini kepada Sang Pemilik diri, selalu ada nama yang kuselipkan dalam doaku kepada Rabb-ku, yaitu ibuku.
Ibu yang tidak hanya singgah sebagai ibu mertua, tetapi bagaikan ibu yang bersanding dengan mamah.
Ibu, maafkan aku selama ini tidak bisa membalas segala kasih sayang, cinta, dan apa yang sudah Ibu ajarkan dan berikan kepadaku.
Maafkan jika aku belum sempurna menjadi menantu perempuan satu-satunya. Semoga aku terus berproses menjadi menantu yang sesuai dengan impian Ibu.
Ibu, aku tahu, berkurban adalah hal yang selalu Ibu lakukan. Namun, pada kesempatan ini, aku memohon kepada Allah agar bisa berkurban lewat upaya yang aku lakukan.
Semoga Allah mengabulkannya, ya, Bu.
Tetapi, andaikan keberuntungan itu tidak berpihak padaku, satu hal yang ingin aku sampaikan kepadamu …
Betapa beruntungnya aku karena Allah telah mengizinkan aku mengenal Ibu, bahkan menjadi bagian dari keluarga.
Cinta ini tidak akan pernah pupus oleh raga yang terpisah. Doaku, kelak kita bisa berkumpul di jannah-Nya.
Dan aku bersaksi bahwa Ibu adalah wanita istimewa yang ketulusannya lahir dari cinta sejati kepada Sang Pemilik diri, Allah, ya Rabbiy.
Teriring Al-Fatihah untuk Ibu. Tempatkanlah Ibu di tempat yang terindah, ya Rabb.
Wallahualam bissawab.
[Ni/EKD]
Baca juga:
0 Comments: