Headlines
Loading...

Oleh: Siti Nur Rahma
(Kontributor SSCQMedia.com)

SSCQMedia.com— Aku sering speechless saat memikirkan anak sulungku. Sebab, dia adalah guru pertamaku yang mengajarkan arti sabar dan mengalah demi membahagiakan orang yang dia sayangi. Dia sangat lembut dan peduli. Allah Swt. Yang Maha Pengasih senantiasa memberikan kesempatan kepadaku untuk terus belajar arti kesabaran melalui kehadirannya. Dialah Ghazi, anak sulungku. Sungguh, aku berharap dia tumbuh menjadi muslim yang bertakwa dan senantiasa mendapat rida Allah Swt.

Banyak hal yang telah aku pertimbangkan ketika mendaftarkan dia di sekolah khusus penghafal Al-Qur’an yang bervisi mencetak pemimpin masa depan. Aku berharap Ghazi mendapatkan lingkungan belajar yang kondusif dan berasaskan Islam, serta terbiasa menjadikan halal dan haram sebagai standar hidupnya. Sekolah yang menjadi tempat aman dalam proses menimba ilmu. Aku juga sangat berharap Ghazi mampu menemukan pendidik dan kawan-kawan saleh di setiap detik pencarian jati dirinya. Membentuk kepribadian Islam dengan dukungan program-program sekolah, serta adanya sinergi aktif antara orang tua dan sekolah dalam membersamai proses belajar Ghazi.

Meski jarak sekolah dan rumahku sekitar 30 km, aku dan suamiku sepakat untuk menyekolahkan Ghazi di sekolah itu dengan segala keterbatasan yang kami punya. Senin pagi, sekitar pukul 06.00 WIB, Ghazi harus siap berangkat menuju sekolah.

Di hari-hari pertama masuk sekolah, dia masih malu dan cukup sulit beradaptasi. Saat aku menginap di rumah mertua, Ghazi berangkat pukul 08.00, padahal pukul 07.00 sudah bel masuk. Bukan karena bangun kesiangan, melainkan dia tidak mau sekolah karena malu. Belum akrab dengan teman-temannya. Memakai seragam sekolah pun enggan. Belum cukup siap berinteraksi dengan teman baru. Ghazi harus berjuang melawan sifat introvertnya.

“Mas, kambing yang sendirian itu bisa lebih mudah dimakan serigala, loh. Tapi kalau bareng-bareng bermain dengan kambing lainnya di dalam kandang, dia lebih aman. Mas Ghazi juga, ya. Kalau bermain dan belajar bersama teman-teman di sekolah, itu lebih seru daripada bermain sendiri di rumah,” bujukku kepada Ghazi.

Dia hanya menggeleng sambil merengek tidak mau sekolah.

“Mas, satu batang lidi itu mudah dipatahkan daripada sapu yang isinya lebih dari satu lidi. Mas Ghazi kalau sekolah bersama teman-teman di sana itu bisa bikin kekuatan super untuk melawan monster jahat,” bisikku dengan harapan Ghazi mau ke sekolah.

Bujuk-membujuk terus berlangsung hingga mentari menyapa dengan lebih hangat.

Hingga tiba di sekolah, Ghazi memegang bajuku seerat-eratnya, seakan-akan ada badai yang akan menerbangkannya masuk ke ruang kelas yang penuh misteri baginya. Ghazi enggan melangkah masuk ke sekolah. Dia menempelkan wajahnya di balik punggungku, seolah-olah kamera pengintai hendak merekam wajah dan seluk-beluk identitasnya. Tak mau lepas sama sekali.

Lantas, Ghazi disambut ustazah pengajar yang mengajaknya masuk kelas sembari meraih tangannya dengan lembut.

“Ayo, anak saleh, masuk. Sudah ditunggu teman-teman, loh!” ajak ustazah sambil menuntun Ghazi masuk ke ruang kelas 1A.

“Umi!” teriaknya.

Kerudungku ditariknya. Tatapan wajahnya yang sendu terlihat menahan air mata. Lalu, dia berkata, “Nanti jangan terlambat jemputnya, ya, Mi!” pintanya.

Aku pun mengangguk-angguk dan mencium tangan serta keningnya. Sambil tersenyum, aku berkata, “Insyaallah, siap!”

Ghazi pun berlalu, terus melangkah demi berbakti kepada orang yang dia sayangi. Dia mengusap air matanya yang tak tahan lagi untuk jatuh membasahi pipinya. Dia itu silent dan mellow.

Sejak TK, Ghazi memang tipe anak yang ingin didampingi di dalam kelas bersama ibunya. Namun, di jenjang SD, Ghazi dilatih untuk bisa bersekolah sendiri tanpa ditemani ibunya. Hal ini menjadi tantangan terbesar Ghazi di usia sekolah dasar.

Ghazi sering terlambat masuk sekolah. Selain susah berangkat pagi karena tidak mau sekolah, dia juga kesiangan sampai di sekolah karena berangkat dari Tanggul, yang jarak tempuhnya sekitar 45–60 menit dengan sepeda motor pada pagi hari.

Namun, ustazah selaku wali kelas Ghazi sangat mengapresiasi semangatnya. Terkadang, saat murajaah, dia meletakkan kepala di atas meja karena mengantuk setelah berangkat pagi dari Tanggul. Meski tertatih, target pencapaian Ghazi dalam tahfiz hampir mencapai 75 persen hafalan Juz 30 di usia tujuh tahun. Bagiku, itu adalah prestasi besar dengan kondisi kami yang tidak mudah.

Seharusnya aku melihat kelelahan yang Ghazi rasakan. Namun, di zaman yang penuh fitnah ini, memperjuangkan Al-Qur’an adalah hal penting yang senantiasa berorientasi dalam benakku dan pasanganku. Bagaimana mungkin aku tidak gelisah melihat kondisi miris generasi saat ini yang memenuhi setiap headline berita dengan berbagai kerusakan dan kezaliman yang terus menimpa? Bahkan, tak hanya ibu yang memiliki anak perempuan, anak laki-laki pun menjadi incaran predator buas. Na’udzubillahi min dzalik. Aku pun terus mengalirkan doa agar keselamatan senantiasa Allah limpahkan kepada keluargaku dan seluruh keluarga muslim lainnya.

“Aku enggak mau sekolah!” Ghazi kembali merengek di pagi buta. Aku telah banyak melontarkan nasihat kepadanya, tetapi Ghazi berusaha keukeuh pada pintanya. Hampir setiap hari dia seperti itu sehingga aku sering tersulut emosi. Kadang juga lemas pasrah. Kadang mengalah. Kadang panik.

Di tengah Ghazi enggan bersekolah, tebersit kerusakan-kerusakan generasi yang melintas di benak. Kekhawatiran akut terus menghantui.

“Ya Allah,” ucapku sambil mengusap dada dengan tarikan napas terdalam.

Hingga suatu hari, suara Ghazi terdengar serak dan hampir tidak bisa mengeluarkan suara.

“Sepertinya suara Ghazi sama dengan suaraku, Mi. Keseringan murajaah di atas sepeda motor saat pulang-pergi sekolah,” jelas suamiku dengan suara serak.

Hatiku merasa bersalah karena pilihan sekolah yang jauh membuat Ghazi harus banyak berkorban. Di sisi lain, aku juga berharap semoga hal itu menjadikan Ghazi sebagai pribadi tangguh pejuang Al-Qur’an.

Sejak pagi buta, kami mempersiapkan segala sesuatunya hingga arunika pagi menghadang wajah Ghazi dan abinya saat berangkat sekolah. Lalu, kala senja menuju magrib, Ghazi pulang bersama abinya menyusuri jalan sembari menyelesaikan tikrar (pengulangan) tahfiz dari buku prestasi milik Ghazi.

Demi menjaga kesehatannya, aku pun menitipkan Ghazi kepada neneknya yang bertempat tinggal tidak jauh dari sekolah. Agar Ghazi tidak harus setiap hari menempuh jarak sangat jauh dengan sepeda motor, aku mengizinkannya menginap di rumah neneknya pada hari Senin hingga Jumat. Dengan begitu, Ghazi bisa beristirahat lebih nyaman.

Namun, jauhnya jarak antara aku dan Ghazi membuat murajaahnya membutuhkan pendampingan dari orang lain. Kebutuhan kesehariannya pun tak luput membutuhkan bantuan. Nenek Ghazi dan adik iparku di sana menjadi keluarga inti kedua baginya.

Bahkan, momen tersulit, yakni saat bangun Subuh, menjadi perjuangan luar biasa bagi nenek dan tantenya karena Ghazi masih susah bangun lebih awal.

Sungguh berat hidup di era kapitalisme sekuler ini. Menuntut ilmu harus diupayakan sendiri kualitas pendidikannya. Kurikulum yang tidak berasaskan Islam menjadi kurikulum yang lumrah ada dalam sistem pendidikan sekuler. Apalagi, tujuan pendidikan yang berorientasi materi dunia menjadikan keluaran yang tercetak adalah individu sekuler yang jauh dari agamanya. Bahkan, tidak terbentuk kepribadian Islam yang luhur di dalamnya.

Oleh karena itu, meski berat proses ini, aku berharap Ghazi menjadi pejuang Al-Qur’an yang tangguh.

Dengan perjuangannya menghafal Al-Qur’an yang jauh dari pendampingan kedua orang tuanya, Ghazi terlihat begitu sabar dan taat. Terlihat saat tantenya mengirimkan video perjuangannya menghafal Surah Al-Zalzalah.

Pada bakda Isya, di warung seblak neneknya, Ghazi semangat menghafal ayat demi ayat sembari sedikit menepuk-nepuk tangan untuk mengurangi rasa kantuknya setelah full day di sekolah. Sesekali dia mengucek mata yang perih menahan kantuk, tetapi masih ingin bersama neneknya sembari murajaah.

Bayangkan, dia masih berusia tujuh tahun, tetapi seakan sudah menjadi santri di pondok pesantren.

“Ya Allah, hamba memohon ampunan-Mu. Jadikanlah Ghazi anak saleh, orang muslihun, muflihun, mujahid Islam, dan mujtahid Islam yang hanif, tangguh, serta Engkau ridai,” doaku dalam hening. Aku memohon kepada Sang Mahakuasa agar aku tidak berlaku zalim.

Dengan kondisi ekonomi yang kembang-kempis, suami saat itu berjualan kebab di pinggir jalan. Suatu hari, dia pernah mendapat omzet sepuluh ribu rupiah sehari semalam. Kami berharap mampu mencukupi nafkah keluarga dan biaya sekolah anak sulungku. Memangkas keinginan agar tidak semua dipenuhi karena kebutuhan lebih mendominasi anggaran pendapatan. Sungguh, Allah Maha Pemberi Rezeki.

Di tengah impitan ekonomi, suamiku mendapat panggilan kerja dengan fee besar di Surabaya yang mengharuskan beliau bermukim di luar kota. Langsung hati ini senang bercampur risau.

“Ghazi siapa yang antar-jemput untuk sekolah?” batinku sesak.

Inilah puncak kegelisahanku. Hendak ngekos di dekat sekolah, tetapi suamiku tak mengizinkanku demi keselamatanku dan ketiga anakku. Hendak bermukim di rumah neneknya, ada ipar di sana. Apa aku harus meminta mereka untuk pindah? Namun, mereka pasangan muda yang baru dikaruniai bayi berusia enam bulan. Watak sungkan dan rasa kasihan selalu menjadi masalah bagi diri ini.

Tapi, bukankah keluarga kecil suamiku juga punya hak untuk menempati rumah warisan ayahnya di sana? Putar otak, bolak-balikkan perasaan, diriku mencoba mencari jalan keluar.

Aku pun menatap lazuardi yang begitu luas terhampar sembari menunggu pesanan nasi pecel tersaji di hadapan. Aku melihat betapa luas rahmat Allah. Hanya aku yang merasa sempit dengan ujian kecil ini.

Wajah memerah akibat panas terik menerpa, semakin membuncah pikiran yang kalut ini. Tidak salah, warung nasi pecel pinggir jalan memang penuh dengan bising kendaraan yang melintas, semakin menambah sumpek diri ini.

“Astaghfirullah,” ucapku sambil tertunduk pasrah.

Pulang-pergi Tanggul–Jember dengan jarak lebih dari 30 km pun tidak memungkinkan dengan kondisi anak bungsuku yang masih mendapatkan ASI eksklusif.

“Apakah pindah sekolah di Tanggul saja, Bi?” tanyaku sambil mengaduk-aduk nasi pecel yang aku pesan, tetapi tak juga aku santap.

“Meskipun ini pilihan sulit, tetapi tidak bisa dipungkiri, dengan kondisi ekonomi kita saat ini, memang merantau menjadi peluang baru, Mi. Apalagi, Musa akan masuk TK di tahun ajaran baru. Pasti biaya itu semakin bertambah,” ujar suamiku sambil mengusap air mataku yang tidak bisa kutahan. Dia juga mengajakku untuk menyandarkan semua ini kepada Allah Swt.

Pasrah. Aku harus merelakan Ghazi vakum dalam menghafal Al-Qur’an hingga entah sampai kapan. Kebiasaan ahsan dalam lingkungan sekolahnya pun harus aku perjuangkan secara mandiri tanpa sinergi sekolah. Eman. Namun, akhirnya terpaksa aku memindahkan Ghazi ke sekolah baru, di dekat rumahku di Tanggul.

Perjuangan yang dulu sudah dibangun kini seakan mandek untuk sementara. Ikhlas dan sabar. Semoga Allah memberi jalan.

Meski berat, aku harus bisa mencoba melanjutkan bi’ah (kebiasaan) yang dulu diterapkan di sekolah penghafal Al-Qur’an itu dengan sabar dan kuat.

Mendidik tiga anak laki-laki dengan kondisi ayah yang bekerja di luar kota ibarat sepasang sandal jepit. Yang sebelah sedang safar di Surabaya, hanya kembali “meniti” bersama di hari Sabtu dan Ahad.

Penuh emosi. Drama. Kadang senandung rindu melanda. Kadang senang bercampur sedih, bahkan amarah sering mewarnai proses membersamai tiga anak laki-laki dalam menghafal Al-Qur’an.

Namun, satu hal yang aku petik, proses itu tidak melulu berjalan lancar. Terutama bagi anak yang masih berusia dini, banyak ujian maupun tantangan. Aku harus banyak belajar metode dan uslub saat membersamai anak-anak dalam proses belajarnya.

Peran orang tua adalah yang pertama dan utama untuk memfilter segala kerusakan yang hendak merasuk, lantas mengisinya dengan asas Islam dalam setiap momen perkembangan anak.

Ghazi, mentari kecilku, pernah berkorban dalam perjuangannya mencintai Al-Qur’an dengan sabar dan taat. Meski jarak tempuh sekolah yang jauh. Meski lelah menyelimutinya. Meski dia harus beradaptasi dengan lingkungan yang sangat baru dan asing baginya. Namun, dia tetap sabar dan senantiasa memberikan pelukan hangat kepadaku.

Dia guru kecilku. Mentariku dalam menjadi orang tua akhir zaman.

Bagi anak usia dini, ibu adalah rumah dan sekolah pertamanya. Aku pun banyak belajar sabar darinya.

Terima kasihku kepada Ghazi yang telah menjadi mentari kecilku. Menerangi tugasku sebagai ummun wa rabbatul bait di tengah gelapnya sistem kufur yang diterapkan saat ini.

Di hari raya kurban nanti, semoga aku bisa memberikan hadiah kurban seperti yang Ghazi minta.

“Mi, kenapa kita enggak berkurban di sekolah penghafal Al-Qur’an itu?” tanya Ghazi.

Aku pun lagi-lagi speechless.

[Ni/EKD]

Baca juga:

0 Comments: