Headlines
Loading...
Karnaval Bernuansa Satanic, Alarm bagi Generasi

Karnaval Bernuansa Satanic, Alarm bagi Generasi

Oleh: Khamsiyatil Fajriyah
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com—Gelaran karnaval bertajuk Simbang Kulon Night Carnaval (SKNC) di Pekalongan, Jawa Tengah, mendapat reaksi keras dari masyarakat dan MUI Jawa Tengah karena menampilkan simbol dan kostum yang dinilai bernuansa satanic. Menurut panitia, karnaval yang digelar dalam rangkaian acara sunatan massal dan Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut bertujuan menghibur masyarakat (detik.com, 24/9/2026).

Persoalannya, apakah karnaval tersebut semata-mata merupakan bentuk kreativitas? Ataukah fenomena ini menjadi alarm yang menunjukkan adanya persoalan yang lebih serius terkait perubahan cara pandang generasi terhadap agama dan nilai?

Saat dimintai klarifikasi, perwakilan panitia karnaval menyatakan bahwa konsep kostum dan koreografi diperoleh dari internet. Mereka mengaku tidak mengetahui bahwa simbol-simbol yang digunakan memiliki latar belakang yang dianggap bertentangan dengan nilai keislaman. Konsep tersebut digunakan tanpa literasi yang memadai mengenai makna di balik simbol-simbol tersebut.

Persoalan karnaval dengan simbol bernuansa satanic mungkin akan segera berlalu. Namun, dari peristiwa ini kita dapat melihat adanya kecenderungan yang patut diperhatikan. Standar mengenai sesuatu yang dianggap wajar dapat terbentuk dan berlangsung lama apabila tidak disikapi secara kritis. Salah satu faktor yang turut membentuknya adalah arus informasi di media sosial.

Normalisasi terhadap sesuatu yang dianggap buruk atau bertentangan dengan syariat hanya karena sedang tren di internet dan media sosial semestinya tidak terjadi pada generasi Muslim. Seorang Muslim seharusnya cermat dalam menyikapi setiap fakta yang dihadapi dengan menggunakan sudut pandang Islam. Pertanyaannya adalah bagaimana Islam memandang dan mengaturnya, bukan sekadar mengikuti tren.

Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surah Al-Isra' ayat 36:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.”

Islam bukan sekadar agama yang mengatur persoalan ibadah. Dalam perspektif Islam, berbagai aspek kehidupan memiliki aturan, termasuk perbuatan manusia, benda, simbol, serta perkembangan teknologi.

Generasi saat ini akan menjadi penerus di masa depan. Jika mereka dibiarkan hidup dalam sistem kehidupan yang menempatkan kebebasan tanpa batas sebagai standar, dikhawatirkan nilai-nilai Islam semakin kehilangan tempat dalam kehidupan mereka.

Jika kita menginginkan generasi memiliki standar Islam dalam berbagai aktivitasnya, pendidikan generasi harus melibatkan seluruh pihak yang memiliki tanggung jawab.

Pertama, keluarga. Kedua orang tua perlu memiliki pemahaman Islam yang utuh agar dapat membentuk generasi yang memiliki kepribadian Islam yang kokoh. Nilai-nilai Islam perlu ditanamkan sejak dini melalui keteladanan dan pendidikan di dalam keluarga.

Kedua, lembaga pendidikan. Pendidikan semestinya tidak hanya berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi juga membentuk pola pikir dan pola sikap peserta didik berdasarkan nilai-nilai Islam.

Ketiga, masyarakat dan negara. Lingkungan yang lebih luas juga memiliki peran penting dalam membentuk generasi. Masyarakat dan negara semestinya menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya nilai-nilai kebaikan dan agama, bukan justru menormalisasi nilai-nilai yang bertentangan dengan keyakinan masyarakat.

Pertunjukan mungkin hanya berlangsung beberapa jam, tetapi dampak terhadap cara pandang generasi dapat berlangsung lebih lama jika tidak disikapi secara kritis. Karena itu, peristiwa semacam ini semestinya menjadi momentum untuk memperkuat literasi, pendidikan, dan pendampingan generasi.

Wallahu a'lam bish-shawab. [MR/IWP]

Baca juga:

0 Comments: