Oleh: Alfi Mumtazah
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com— Berkali-kali aku mengikuti kajian seputar kurban. Berkali-kali pula aku sangat ingin berkurban. Beberapa ikhtiar sudah kutempuh. Arisan, menabung, dan bermunajat kepada-Mu selama sebulan dengan membaca QS. Al-Baqarah sekali duduk demi permintaanku yang tak biasa ini.
Malam ini, saat kutulis proposal kurban ini, sesungguhnya sedang berlangsung kajian literasi bersama pemenang challenge Kurban 1, yaitu Teh Teti Rostika dari Bandung. Aku pun tak berani, bahkan enggan, menjawab ketika ditanya siapa yang belum pernah berkurban.
Aku orang itu.
Aku malu. Sudah berikhtiar, tetapi masih gagal dan merasa ikhtiarku masih kurang. Mungkin itulah yang menjadi sebab mengapa Allah belum mengizinkanku berkurban.
Meskipun begitu, setidaknya aku sudah berani berinfak secara patungan beberapa malam lalu. Aku berniat menyisihkan sedikit nominal yang kutransfer kepada Bunda Iha. Sebagai awal, bukan akhir. Esok kutambah lagi. Entah kapan.
Pemasukanku ada, tetapi sudah memiliki pos masing-masing. Aku sudah membayar UKT anakku yang kedua dan uang masuk sekolah terpadu SMA anakku yang ketiga. Totalnya enam juta rupiah. Tak jadilah untuk berkurban.
Namun, masih ada hari untuk meminta kepada Pemilik dunia ini, bukan?
Hari demi hari di bulan Zulkaidah sudah berjalan. Bulan Zulhijah tinggal menghitung hari. Aku semakin deg-degan menantinya. Sebab, saat ini aku belum memiliki uang untuk berkurban. Namun, aku berprasangka baik kepada Allah. Aku berharap tahun ini bisa berkurban.
Ya, tinggal menghitung puluhan hari lagi. Aku sangat ingin mewujudkannya. Terutama sejak malam itu, ketika Medan terasa agak dingin saat kelas pertama bersama Teh Teti. Saat itu keinginanku untuk bisa berkurban tahun ini semakin kuat.
Berkurban untuk-Mu.
Setiap kali aku berdoa memohon agar dikabulkan oleh Allah, ada rasa hangat di tubuhku. Seolah tubuhku merespons doa yang kupanjatkan. Ketika kuulangi lagi doanya, kembali terasa kehangatan itu.
Betapa sinyal "rida Allah" ini seolah sudah kubaca beberapa hari terakhir. Saking inginnya aku berkurban, bahkan hanya seekor kambing. Aku berdoa sepanjang waktu, di mana pun berada. Istigfar kuperbanyak. Salat tobat apalagi.
Sekali lagi, kabulkanlah, ya Allah. Amin.
Kepada siapa tulisan dan kurbanku nanti kupersembahkan? Aku sudah memutuskan.
Aku ingin mempersembahkannya untuk guru kehidupanku yang kedua. Guru yang inspiratif dan tangguh itu, meskipun kini dia sudah bersama-Nya.
Guruku ini sangat spesial bagiku. Namanya Mbak Vivi, almarhumah Mbak Vivi.
Ya, dia sudah wafat. Pada tahun 2000, dia meninggal dunia akibat kecelakaan di Kota Medan. Kala itu aku masih menjadi murid mengajinya. Hanya enam kali pertemuan. Baju gamisku dijahitkannya ketika dia masih hidup. Hingga saat aku masih menjadi mahasiswa, aku sudah berjilbab dan siap berdakwah di kotaku.
Kuceritakan bagaimana semua itu bermula.
Mbak, saat itu setelah polisi datang ke tempat kejadian perkara kecelakaan, dirimu sempat dibawa ke unit gawat darurat. Lama, sejak pukul 22.00 hingga kabar kepergianmu pada pagi hari.
Kuingat hingga pukul 07.00, saat engkau berpulang.
Dalam kondisi masih setengah sadar, engkau sempat meminta suster mencari nomor telepon seorang teman kami yang ada di sakumu untuk menyampaikan kabar. Peristiwa itu begitu membekas dalam ingatanku.
Mbak, andai aku memenangkan hadiah kurban seekor kambing nanti, kambing itu akan kupersembahkan pahalanya untukmu.
Ya Allah, saksikanlah keinginanku ini. Kabulkanlah. Amin.
Mengapa dia menjadi guru yang spesial bagiku?
Dia begitu telaten mengayomiku. Rajin beribadah, memperbanyak salat Duha dan tahajud, serta mencintai Al-Qur'an. Dia lembut dan murah hati.
Seperti bukan karakter orang Medan.
"Temuwo," kata orang Jawa.
Saat itu aku berkenalan denganmu melalui kegiatan pesantren kilat di kampus baruku, sebuah kampus yang bekerja sama dengan JICA Jepang dalam proses pendidikannya di bawah Departemen Perindustrian dan Perdagangan. Aku diajak mengaji setelah diperkenalkan oleh guru pertamaku.
Sejak hari itu, aku berada dalam bimbingan Mbak Vivi. Enam minggu lamanya hingga sampai pada materi tentang hukum syarak dalam kajian awal tersebut.
Dia adalah anak seorang jaksa. Ayahnya taat beragama dan berafiliasi dengan Muhammadiyah. Keluarganya hidup sederhana.
Kudengar saat itu dia sedang dalam proses khitbah. Namun, sebelum sampai pada tanggal pernikahannya, dia dijemput pulang oleh Allah melalui kecelakaan tersebut.
Hatiku hancur. Batinku menangis. Aku menangis tanpa suara karena terlalu sedih.
Enam minggu aku mengikuti kajian bersamamu. Waktu yang singkat itu cukup untuk mengaduk-aduk pemikiran dan perasaanku. Engkau membuatkan sebuah jilbab untukku. Entah mengapa, saat itu aku langsung meyakininya dan memakainya.
Aku diajak makan dan minum setelah kursus sambil berbincang dengan pembicaraan yang mengasyikkan. Aku bahkan sering ikut dengan motor bututmu ke mana pun engkau pergi selama enam minggu itu.
Hanya enam minggu.
Enam minggu yang membuat hidupku berubah 360 derajat.
Aku benar-benar siap menjadi pengemban dakwah di masyarakat kala itu. Aku berjanji kepadamu. Hanya membutuhkan enam minggu. Sangat cepat.
Aku juga siap berdakwah di kampus Jepang itu. Beberapa kontak kudapatkan di sana. Hingga sekarang, masih banyak sahabat taat di kampus tersebut.
Meskipun akhirnya aku pindah kampus karena satu dan lain hal, juga demi kepentingan dakwah, di situlah semuanya bermula.
Mengapa disebut kampus Jepang?
Sebab, kampus itu bekerja sama dengan JICA Jepang dalam proses pendidikannya di bawah Departemen Perindustrian dan Perdagangan. Jika bukan di sana, mungkin kini aku bukan bagian dari perjuangan ini.
Enam minggu itu sudah cukup membuatku mantap berjilbab sempurna, bergamis, berhijrah, dan menjadi pengemban dakwah.
Mbak Vivi yang kucintai karena Allah, ragamu kini sudah tiada. Namun, ruh dakwahmu menghunjam kuat di benakku, sekuat fondasi yang dahulu engkau tanamkan.
Kini kubuka kembali lembaran masa lalu yang manis itu.
Tulisan ini, jika menang, akan aku hadiahkan untukmu. Pahalanya untukmu. Agar engkau tersenyum di sana. Melihatku dan meminta kepada Tuhan kita, Allah, agar kelak aku dapat bertemu denganmu.
Berkat kegigihanmu mengajakku dan mengajarkanku Islam, hari ini aku sudah dan tetap istikamah berdakwah. Hingga aku beranak enam. Hingga akhirnya aku berpulang nanti.
Aku bersaksi dan membenarkan apa yang dahulu engkau sampaikan.
Engkau mengajarkanku sebuah kata, "Khilafah", yang belum pernah diucapkan siapa pun kepadaku, termasuk ayahku. Ayahku seorang guru agama, tetapi belum pernah menyebutkan kata itu atau bercerita tentangnya dan urgensinya bagi kaum muslimin.
Aku senang sekali ketika engkau bercerita tentang Khilafah. Itu merupakan maklumat baru bagiku.
Apalagi ketika pembahasan tersebut dikaitkan dengan kebutuhan untuk menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan yang semakin kompleks. Seakan-akan aku mendapatkan hadiah sebesar gunung.
Semangat sekali aku mengkaji saat itu. Serius. Tepat waktu. Tidak mengantuk dan siap mengemban dakwah Islam kafah.
Aku ingat sekali ketika ayahku ingin bertemu denganmu. Setelah aku meminta izin kepadanya untuk mengaji tentang Khilafah bersamamu, dia mengizinkan.
Saat itu engkau datang ke rumah panggungku yang di bawahnya terdapat rawa. Engkau terpukau melihat rumahku.
"Cuma di Sumatra," katamu.
Rumahku berdinding tepas dan beratap rumbia. Ya, ayahku orang yang tidak berpunya, tetapi memiliki semangat besar untuk menyekolahkan kami dan memberikan pendidikan agama yang kuat.
Namun, ayahku belum pernah berbicara tentang Khilafah kepadaku.
Ayahku tidak keberatan ketika aku mengatakan bahwa aku mengaji tentang perjuangan Khilafah bersamamu. Mbak yang baru pulang kuliah dari IPB di Bogor waktu itu dianggap ayahku sebagai guru yang tepat untukku.
Dia mengizinkanku mengaji sekaligus menjadi pengemban dakwah. Ayahku mengizinkanku dengan sepenuh hati.
Pintar sekali engkau berbicara kepada ayahku saat itu.
Jadilah aku mengaji atas izin ayahku.
Percayalah, Mbak. Sesungguhnya dakwah yang kulakoni kini semoga menjadi amal jariah bagimu. Benar, bukan, Mbak?
Empat puluh hari setelah pertemuan di rumah panggungku itu, aku mendengar kabar kepergianmu.
Ayahku kukabari. Ayahku pun menangis.
Katanya, memang terasa aneh waktu itu. Seolah-olah aku sudah memiliki firasat tentang kepergianmu. Bahkan, kata Ayah, pada malam ketika Mbak Vivi mengalami kecelakaan, di tengah hujan gerimis yang sesekali deras, ia merasakan sesuatu yang tidak biasa hingga tidak bisa tidur sampai pagi.
Hingga kabar pada pukul 07.00 itu datang.
Ya, ayahku ikut menangis mendengar berita kepergianmu.
Semoga hingga kini, setelah 26 tahun berlalu, engkau ditempatkan Allah di tempat terbaik, Mbak.
Amin.
Al-Fatihah untukmu.
Beberapa bulan lalu, suamiku pergi ke Surabaya. Di sana, ia bertemu dengan mantan orang yang dahulu mengkhitbahmu. Beliau kini berada di sebuah lajnah khusus ulama.
Setiap kali suamiku bercerita tentang beliau, yang kini telah menjadi suami seorang pengemban dakwah dan juga sahabat kita di jalan ini, aku selalu tersenyum.
Kabarnya, rambut dan jenggotnya sudah mulai beruban.
Dia tidak tahu bahwa suamiku mengetahui kisah tentangmu dahulu.
Aku tersenyum-senyum saat suamiku menceritakan tentangnya. Hingga kini aku masih tersenyum karena pernah menyaksikan indahnya cinta karena Allah.
Terpisah juga karena Allah.
Saat engkau terbujur sebelum jasadmu dimandikan dan disalatkan, kusaksikan dia menggenggam tangan ayahmu yang seorang jaksa itu. Ayahmu menatap jasadmu dan menangis.
Beliau menguatkan ayahmu, Mbak. Padahal, dirinya sendiri pun menitikkan air mata.
Saat itu aku juga mengetahui dari cerita kakak mengajiku yang lain bahwa dia akhirnya dianggap sebagai anak oleh bapak dan ibumu.
Dunia ini memang sebentar, Mbak. Tempat singgah. Tempat bermimpi. Jika semua orang memahami hal itu, mungkin manusia tidak akan ingin berlama-lama di dunia.
Sebab, kehidupan yang abadi adalah kehidupan di akhirat nanti.
Tunggu aku, Mbak. Aku akan menemuimu nanti jika Allah memanggilku pulang.
Semoga kambing yang kuhadiahkan ini, andai benar menjadi milikku, dapat dikurbankan atas namamu, Mbak Vivi.
Allahummaghfirlaha warhamha wa 'afiha wa'fu 'anha. Wa akrim nuzulaha, wa wassi' mudkhalaha, wa adkhilhal jannah.
Amin.
Kupersembahkan tulisan ini untukmu, Mbak Vivi.
Andai aku menang, semua karena Allah. Dia Maha Mengabulkan doa.
Amin, ya Mujib.
[Ni/HEM]
Baca juga:
0 Comments: