Headlines
Loading...
Satu Kurban, Seribu Cahaya dari Guruku

Satu Kurban, Seribu Cahaya dari Guruku

Oleh: Evi Ummu Fahhala
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com—Pagi itu, udara masih menyisakan dingin yang menggigit pelan. Jalanan sempit menuju rumah Bu Qari basah, seolah bumi pun ikut bersujud setelah hujan semalam. Di tanganku, kantong sederhana berisi daging kurban terasa jauh lebih berat dari seharusnya. Bukan karena isinya, melainkan karena makna yang kupikul di dalamnya.

Aku berhenti sejenak di depan pintu kayu yang mulai kusam dimakan usia. Dari dalam, terdengar suara lirih yang begitu akrab, lantunan ayat suci yang mengalir pelan, tertib, dan menenangkan. Suara itu … suara yang dulu pertama kali menuntunku keluar dari gelap yang panjang.

“Assalamu'alaikum, Bu …” Suaraku nyaris pecah.

Lantunan itu terhenti. Pintu dibuka perlahan. Wajah renta itu muncul, tetapi tetap memancarkan keteduhan yang tak pernah berubah. Senyum bahagianya hadir, seolah selalu siap menyambut siapa pun yang datang membawa kegelisahan.

“Wa'alaikumussalam … mari, Teh,” ucapnya lembut.

Aku melangkah masuk. Rumah itu tetap sama, sederhana, bersih, tanpa kemewahan. Namun, di sanalah aku pernah menemukan sesuatu yang tak pernah kudapatkan di tempat lain, yaitu arah hidup.

Tanganku gemetar saat menyerahkan kantong itu.

“Bu … ini … kurban tahun ini. Saya ingin … memberikannya untuk Ibu.”

Hening.

Bu Qari tidak langsung menjawab. Matanya menatap kantong itu, lalu perlahan beralih kepadaku. Ada genangan bening yang mulai menggantung di sudut matanya, atau mungkin di mataku.

“Untuk Ibu?” tanyanya pelan, hampir seperti bisikan.

Aku mengangguk. Tenggorokanku tercekat.

“Saya tidak punya apa-apa untuk membalas semua yang Ibu berikan … ilmu yang Ibu ajarkan, kesabaran yang Ibu tunjukkan, waktu yang Ibu habiskan untuk kami … Saya hanya …” Suaraku patah. “... hanya ingin memberi sesuatu, meski tak sebanding.”

Bu Qari tersenyum. Senyum yang kali ini terasa lebih dalam, seperti menyimpan ribuan luka yang telah ia sembuhkan tanpa pernah mengeluh.

“Nak, Ibu tidak pernah meminta balasan,” katanya lirih. “Ilmu ini amanah. Ibu hanya menyampaikan.”

Justru kalimat itu yang membuat dadaku sesak.

Aku teringat masa ketika aku pertama kali datang ke majelis kecil itu. Saat hidup terasa hampa, penuh tanya, tetapi tak menemukan jawaban. Aku datang dengan hati yang lelah, langkah yang ragu, dan pikiran yang bising.

Bu Qari tidak menyambut dengan ceramah panjang. Beliau hanya menatapku, lalu bertanya pelan,

“Teh … sudahkah engkau tahu untuk apa Allah Swt. menciptakanmu?”

Pertanyaan itu sederhana. Namun, seperti petir di langit yang sunyi, ia membelah kesadaranku.

Sejak hari itu, satu per satu kegelapan mulai tersingkap.

Beliau tidak pernah tergesa-gesa. Dengan sabar, beliau menuntunku memahami Islam, bukan sekadar ibadah, melainkan sebagai jalan hidup. Tentang tauhid yang menenangkan jiwa, tentang syariat yang menuntun langkah, tentang dakwah yang menuntut pengorbanan.

Dan aku melihat sendiri … bagaimana beliau menjalani semua itu.

Di usia yang tak lagi muda, langkahnya kadang tertatih. Tubuhnya mungkin lelah, tetapi semangatnya tak pernah goyah. Setiap pekan, beliau datang dengan catatan rapi dan materi yang telah dipersiapkan dengan matang. Tak jarang, setelah kajian selesai, beliau masih duduk lama, mengevaluasi, memperbaiki, dan merancang langkah berikutnya.

“Dakwah ini bukan sekadar bicara, Teh,” katanya suatu hari. “Ini tanggung jawab di hadapan Allah Swt.”

Aku diam. Karena aku tahu, beliau sedang berbicara tentang hidupnya sendiri.

Allah Swt. berfirman:

“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”

(QS. Al-Mujadilah: 11)

Dan aku menyaksikan ayat itu hidup, bukan dalam buku, melainkan dalam sosok Bu Qari.

Rasulullah saw. juga bersabda:

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Setiap huruf yang beliau ajarkan, setiap kesalahan yang beliau luruskan, setiap nasihat yang beliau bisikkan, semuanya menjadi aliran pahala yang tak pernah putus. Sementara kami … sering kali lupa berterima kasih.

Aku kembali menatapnya.

Kantong kurban itu kini berada di sampingnya, diam … tetapi sarat makna.

“Bu … saya sering berpikir,” kataku pelan, “kalau dulu saya tidak datang ke sini … mungkin saya masih berjalan dalam gelap.”

Bu Qari menggeleng pelan.

“Bukan Ibu yang memberi cahaya, Teh,” ucapnya. “Allah yang memberi hidayah. Ibu hanya mengetuk pintunya.”

Air mataku jatuh tanpa bisa ditahan.

Seorang guru … bukan sekadar pengajar.

Ia adalah cahaya.
Cahaya ilmu.
Cahaya kebenaran.
Cahaya Islam.
Cahaya kehidupan.

Dalam makna asalnya, guru adalah penghapus kegelapan. Hari ini, di Hari Raya Kurban, aku baru benar-benar memahami arti memberi.

Kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan. Ia adalah tentang melepaskan sesuatu yang kita cintai demi ketaatan yang lebih tinggi. Tentang menghadirkan ketulusan di atas segala kepentingan.

Dan di hadapan Bu Qari, aku sadar bahwa apa yang kuberikan hari ini tak akan pernah mampu menandingi apa yang telah beliau korbankan selama ini.

Waktu yang habis untuk membina. Tenaga yang terkuras untuk mendidik. Air mata yang mungkin pernah jatuh diam-diam dalam doa.

Namun, setidaknya … ini adalah upaya kecilku untuk tidak menjadi murid yang lupa.

Aku menunduk, membisikkan doa yang mungkin tak akan pernah cukup.

“Ya Allah … jagalah guruku. Panjangkan umurnya dalam ketaatan. Lapangkan hatinya dalam kesabaran. Jadikan setiap langkah dakwahnya sebagai cahaya yang menerangi hingga hari perjumpaan dengan-Mu …”

Di luar, gema takbir terus bersahut-sahutan.

Dan di dalam hati, aku tahu, hari ini aku tidak hanya berkurban. Aku sedang belajar mencintai, menghormati, dan mengingat bahwa di balik setiap cahaya dalam hidupku, ada seorang guru yang terus berjuang dengan segenap jiwanya untuk mengembalikan cahaya Islam ke seluruh alam. Aku pun akan selalu mendukungnya.

[NI/HEM]

Baca juga:

0 Comments: