Cinta Nabi Diwujudkan dengan Ittiba' secara Kaffah
Oleh: Najah Ummu Salamah
(Komunitas Penulis Peduli Umat)
SSCQMedia.Com—Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. menjadi momen spesial bagi umat Islam sedunia, khususnya di Indonesia. Berbagai acara digelar untuk memeriahkan Maulid, seperti pembacaan selawat, Burdah, Diba, dan kasidah di musala dan masjid-masjid. Bahkan, pawai, tablig akbar, lomba-lomba, serta santunan anak yatim menjadi agenda rutin tahunan untuk menyemarakkan peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. Namun, sayang, semua acara tersebut berhenti hanya sebatas ritual dan rutinitas yang bersifat emosional.
Kalaupun ada seruan ulama pada peringatan Maulid Nabi Muhammad saw., masih sebatas ittiba' atau meneladani Nabi saw. dari aspek akhlak saja. Keteladanan kepada Nabi saw. masih belum menyentuh aspek yang paling mendasar dalam ittiba', yaitu mengubah sistem kehidupan yang jahiliah, yaitu sebuah sistem yang meletakkan dunia dan hawa nafsu di atas segala-galanya, menuju sistem kehidupan Islam yang hanya menghamba kepada Sang Pencipta.
Sistem Sekuler Kapitalis Penyebab Kerusakan
Sistem kehidupan yang sekuler kapitalis hari ini telah menyebabkan kerusakan di segala arah. Kemiskinan, kebodohan, kelaparan, kerusakan generasi dan lingkungan, penjajahan, serta peperangan telah menghancurkan tatanan kehidupan dunia. Sehingga, banyak umat yang berusaha bangkit dan mengubah keadaan agar lebih baik.
Namun, sayang, tuntutan perubahan di kalangan umat Islam masih jauh dari metode perjuangan Nabi saw. Sehingga, gerakan kebangkitan ini akhirnya gagal membawa perubahan secara mendasar.
Peringatan Maulid Nabi Bukan Sekadar Ritual
Saat ini, peringatan Maulid Nabi saw. tereduksi sebatas ekspresi cinta tanpa konsekuensi ideologis. Padahal, seharusnya cinta sejati kepada Nabi saw. melahirkan ketaatan secara total. Yaitu, sebuah ketaatan kepada risalah dan metode perjuangan yang beliau ajarkan sebagai qudwah. Allah Swt. berfirman yang artinya:
“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (TQS Ali Imran: 31)
Saat ini, meskipun jumlah umat Islam di seluruh penjuru dunia mencapai 2,5 miliar, faktanya umat Islam mayoritas masih menghamba kepada selain Allah Swt. Buktinya, umat Islam masih meletakkan loyalitasnya kepada sistem demokrasi liberal yang jelas-jelas merupakan sistem kufur, sebuah sistem politik yang lahir dari ideologi sekuler kapitalis. Yaitu, ideologi yang menempatkan kenikmatan dunia dan hawa nafsu sebagai orientasi hidup serta menjauhkan aturan Allah Swt. dalam segala aspek kehidupan. Sistem sekuler menjadikan agama sebagai urusan pribadi yang tidak perlu diterapkan dalam tatanan kehidupan.
Layaknya sebuah ideologi, sistem kapitalisme ini memiliki mekanisme untuk terus melakukan propaganda dan invasi demi menyebarkan nilai-nilai yang mereka adopsi ke seluruh dunia. Mereka juga membuat berbagai makar dan teori konspirasi demi mencegah kebangkitan Islam kaffah. Bahkan, tak segan-segan mereka membuat pelabelan tertentu seperti fundamentalis, ekstremis, ataupun teroris kepada individu, kelompok, dan negara yang mendukung kebangkitan Islam kaffah. Mereka juga menyebarkan opini buruk tentang ajaran Islam yang memicu islamofobia di kalangan nonmuslim.
Khatimah
Umat Islam seharusnya menyadari bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. bukan sekadar agenda rutin yang bersifat ritual belaka. Titik krusial memperingati Maulid Nabi saw. adalah memahami pentingnya ittiba' terhadap semua ajaran Nabi, terikat pada seluruh syariat-Nya, dan mengikuti metode dakwah beliau untuk mengubah serta membangkitkan umat.
Penerapan sistem sekuler kapitalisme saat ini telah menjadi penghalang sistemik untuk merealisasikan cinta sejati kita kepada Allah Swt. dan Nabi-Nya. Oleh karenanya, umat harus segera meninggalkan sistem jahiliah menuju sistem Islam kaffah dalam bingkai Khilafah. Tentunya, perubahan yang mendasar harus dimulai dengan berdakwah mengikuti metode dakwah Nabi Muhammad saw.
Nabi Muhammad saw. berdakwah dengan tiga tahapan (marhalah), yaitu: pertama, tasqif atau pembinaan akidah dan syakhsiyah para sahabat untuk membangun kutlah dakwah (kelompok dakwah). Kedua, tafā'ul ma'al ummah atau menginteraksikan ide-ide Islam (ayat Al-Qur'an) kepada masyarakat luas secara terbuka agar umat memiliki kesadaran umum untuk terikat kepada hukum-hukum Allah Swt. secara total. Ketiga, istilāmul hukmi atau penerapan syariat Islam secara komprehensif dalam sistem Khilafah.
Dengan metode dakwah inilah umat Islam akan mengalami kebangkitan hakiki. Keberkahan terlimpah ke segala arah sehingga Islam menjadi rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana tujuan Nabi Muhammad saw. diutus Allah Swt. untuk berdakwah kepada umat manusia. Allah Swt. berfirman yang artinya:
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (TQS Al-Anbiya: 107)
Wallahu a'lam bish-shawab. [My/Hem]
Baca juga:
0 Comments: