Oleh: Isty Da’iyah
(Kontributor SSCQMedia.com)
SSCQMedia.com—Rumah Sakit Unair saat ini menjadi rumah keduanya. Sejak dokter memberikan vonis tentang penyakit yang dideritanya, ia harus sabar menjalani ikhtiar melalui berbagai rangkaian proses pengobatan.
“Nama penyakitnya serebrovaskular dan epilepsi, Bu,” ucapnya dengan nada sedih. “Semacam gangguan pembuluh darah di otak,” lanjutnya. “Inilah yang membuat saya harus sering ke rumah sakit beberapa kali seminggu, kadang tiga kali, bahkan lebih. Saya bahkan bisa pingsan mendadak, di mana pun dan kapan pun.”
Waktu itu aku hanya bisa menguatkannya dengan memegang tangannya erat. Beberapa kali ia terpaksa masuk IGD dan mengalami masa kritis.
Ia adalah Ummu Azka. Usianya saat ini baru 35 tahun. Ia adalah ibu dari seorang putra saleh, Mas Azka. Ia juga seorang ibu dari Nusaibah, Ali, dan Maryam yang semuanya telah dipanggil Allah Swt. untuk menjadi bidadari di surga, sekaligus menjadi tabungan akhiratnya.
Bagiku, ia adalah sahabat yang bisa menjadi inspirasi sekaligus guru kehidupan. Sahabat yang tidak lelah berjuang untuk kehidupannya sendiri di tengah sakit yang dialaminya. Wanita kuat yang berjuang demi menopang ekonomi keluarga meski sistem kapitalis tak berpihak kepadanya. Seorang perempuan yang bertubi-tubi diuji dengan kehilangan orang-orang terdekat yang dicintainya.
Ia adalah seorang guru yang menjadikan semua ujian dan rasa sakitnya tak sedikit pun menjadi penghalang untuk tetap istikamah di jalan dakwah. Beratnya kehidupan tak pernah membuatnya berhenti menebar manfaat bagi umat. Ia benar-benar mengamalkan hadis dari seorang panutan sepanjang zaman, Rasulullah saw.:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
Semula Biasa Saja
Semula biasa saja, tetapi menjadi istimewa karena kehidupannya bisa menjadi catatan yang layak dijadikan pembelajaran. Sejak pertama kali mengenalnya, aku seperti orang yang Allah kirim untuk menyaksikan asam, manis, dan pahit getir kehidupannya agar aku tidak melupakan hakikat kehidupan di dunia yang fana.
Masih ingat ketika pertama bertemu. Tubuhnya yang mungil dengan senyum ramahnya membuat orang selalu nyaman berada di dekatnya. Awalnya, ia adalah guru TK anak-anakku. Setiap pagi, ia selalu menyambut anak-anak dengan senyum hangat.
Meskipun sering bertemu, ternyata hal itu tidak lantas membuat kami saling mengenal dengan baik. Sampai suatu ketika Allah menakdirkan kami bertemu dalam kajian rutin mingguan. Di sinilah kami mulai saling mengenal dengan lebih baik. Sampai akhirnya, hubungan kami layaknya saudara.
Ia juga seorang guru TPQ dan musyrifah. Hal itu membuat hubungan kami lama-kelamaan bukan sekadar pertemanan biasa. Ada kedekatan dan kecocokan tersendiri di antara kami. Profesi yang sama-sama kami geluti sebagai pengajar TPQ membuat derap langkah dakwah kami semakin seirama.
Awalnya biasa saja, tetapi akhirnya menjadi istimewa. Bermula dari guru di sekolah dan musyrifah, ia kemudian menjadi guru kehidupan melalui setiap lembar catatan hidupnya. Semangatnya dalam dakwah sangat menginspirasi, meski ujian sering datang tanpa permisi.
Bukan Sekadar Guru Biasa
Seiring berjalannya waktu, sebagaimana roda kehidupan, fase demi fase telah kami lalui bersama. Membersamai anak-anak dari TK hingga kini mereka beranjak remaja. Ada suka dan duka, ada tawa dan air mata.
Ia masih sangat muda, usianya jauh di bawahku. Namun, raganya diuji Allah dengan penyakit yang membuatnya harus menghemat tenaga. Ia memang bukan sekadar guru biasa. Kisah hidupnya bisa menjadi penguat bagi para sahabatnya agar selalu mengingat bahwa dunia ini sementara.
Badai kehidupan bertubi-tubi dihadapinya. Tentunya, semua itu memberikan hikmah tersendiri. Bermula dari sakit yang dideritanya dan kehamilan yang bayinya telah berpulang sebelum sempat melihat dunia. Ketika itu usianya masih sekitar 28 tahun. Berturut-turut ia harus kehilangan putra dan putri tercintanya ketika masih berada di dalam kandungan.
Kemudian menyusul ibunda tercintanya yang dipanggil Allah secara tiba-tiba. Ketika air matanya belum kering sempurna, mertuanya juga pergi meninggalkannya. Aku tahu betapa beratnya semua itu baginya. Aku bisa merasakannya, meski hanya air matanya yang mampu bercerita.
Sebagai sahabat, aku hanya bisa menguatkannya. Datang ke rumah kontrakannya yang sebentar lagi juga habis masa sewanya. Kadang aku hanya bisa menguatkannya sambil menangis dalam diam.
Nyatanya, ketangguhan dan keteguhan hatinya dalam menerima ujian bisa dijadikan teladan. Dakwahnya tetap berjalan. Semangatnya dalam mengajak umat menghadiri agenda yang mencerahkan tak pernah padam. Kelompok-kelompok kajian tetap ia dirikan, amanah tetap ia tunaikan.
Meski pada akhirnya ia kelelahan dan raganya tak bisa bertahan, ia terpaksa harus diam sebagai pesakitan di rumah sakit langganannya. Demikianlah ritme kehidupannya. Keluar-masuk rumah sakit hingga menjadi bahan penelitian para dokter yang menanganinya.
Oleh karena itu, semoga tulisan ini bisa menjadi hiburan baginya di tengah rasa sakit yang kadang datang tiba-tiba. Ia layak mendapatkannya agar bisa merasakan betapa nikmatnya berkurban.
Selama ini, sependek pengetahuanku, ia belum pernah merasakan nikmatnya berkurban, meski ia sangat menginginkannya. Bismillah, semoga Allah mudahkan.
Ketika Cinta Perlu Bukti, Sanggupkah?
Ummu Azka telah menjadi guru kehidupan bagi sahabat dan teman-temannya. Kami kadang malu kepadanya ketika dakwah kami hanya begitu-begitu saja, sementara ia telah jauh melangkah di depan dalam mencerdaskan umat sesuai dengan kapasitasnya.
Sakitnya tak menjadi penghalang baginya untuk tetap melaksanakan amanah. Impitan ekonomi yang tengah dilaluinya tak pernah membuatnya berputus asa dari rahmat-Nya. Ia telah membuktikan cintanya kepada Sang Pencipta dengan berusaha menjadi manusia yang mampu menebar manfaat bagi umat di sekitarnya.
Ia telah menghapus kegelapan dengan caranya sendiri. Karena sejatinya, ia bukan sekadar guru biasa. Ia adalah guru kehidupan bagi manusia di sekitarnya. Ia menjadi tempat curhat dan pendengar yang baik bagi objek dakwahnya. Dengan solusi-solusi Islam, ia menjelaskan jalan keluar dari berbagai persoalan yang dihadapi para wanita di sekitarnya.
Ketika cinta perlu bukti, sanggupkah?
Bertanyalah kepada Ummu Azka. Ketika cobaan datang silih berganti, pembuktian cintanya tak diragukan lagi.
Rasa kehilangan orang-orang yang dicintainya, terlebih ketika kehilangan sosok Emak, yakni ibu tercintanya, di kala raganya tak lagi kuasa menahan rasa sakit di kepala, sempat menjadi titik nadir baginya.
Waktu itu, ia baru saja bersilaturahmi dari tempat kelahirannya di desa dan menyaksikan ibunya dalam keadaan sehat. Ternyata, sesaat setelah sampai di Surabaya, ia harus kembali lagi ke desa karena mendengar kabar bahwa ibu tercintanya telah tiada.
Dalam keadaan raga yang belum bisa tegak sempurna dan bisa tumbang di mana saja, ia bergegas kembali demi melihat jasad Emak tercinta untuk yang terakhir kalinya.
Ia tidak pernah menyalahkan takdir Allah Yang Mahakuasa. Ia hanya sedih karena satu pintu surga baginya telah tertutup. Ia sedih karena tangan yang selalu terangkat mendoakannya telah pergi untuk selamanya. Ia hanya sedih karena doa-doa untuknya kini berkurang.
Aku tahu hatinya tidak sepenuhnya kehilangan. Meski orang-orang yang dicintainya telah pergi, cinta mereka masih tinggal di hatinya.
Guru kehidupan itu telah membuktikan cintanya kepada Sang Maha Pengasih dengan merelakan apa yang pernah Allah titipkan untuk dikembalikan kepada-Nya. Ia telah mampu melaluinya.
Semoga selanjutnya Allah memberikan keberkahan dalam kehidupan keluarganya, kesehatan dan kesabaran dalam setiap ikhtiar menyembuhkan penyakitnya, serta kekuatan untuk membersamai putra semata wayangnya hingga sang putra sukses dan menjadi pembela agama-Nya.
Inna Ma’al Usri Yusra
Bukan hanya sekali aku menerima kabar dari grup WhatsApp yang membawa berita sekaligus permohonan doa untuknya.
“Assalamualaikum, mohon doa untuk sahabat kita, Ummu Azka, yang pada hari ini masuk IGD. Semoga Allah segera mengangkat penyakitnya dan memberikan kesembuhan kepadanya.”
Pesan singkat semacam itu sering aku terima.
Membayangkan suaminya yang harus meninggalkan pekerjaan demi menjaga sang istri tercinta di rumah sakit, hatiku terasa pilu. Belum lagi ketika anak semata wayangnya sering bertanya, “Ummiku masuk rumah sakit lagi, Bu? Sekarang aku akan dititipkan ke mana? Apakah aku dititipkan ke rumahnya Bu Isti lagi?”
Pertanyaan anak itu seketika membuat air mataku meleleh. Ini sudah kesekian kalinya aku menjemputnya dari sekolah. Aku tertegun sesaat sebelum akhirnya bisa merangkai kata untuk menjawab pertanyaan polos itu.
Segera aku membonceng anak itu. Aku mengajaknya mengobrol dan mengatakan bahwa ia akan bermain di rumahku dan semuanya akan baik-baik saja.
Anak itu memang seperti ibunya. Ia sangat tahu diri. Ketika diberi sesuatu, ia sering menolak dengan halus.
“Jangan repot-repot, ya, Bu,” katanya. “Aku hanya kangen. Pengin ke rumah sakit. Apakah Ummi baik-baik saja?” tanyanya.
Kini anak polos itu sudah tumbuh semakin besar. Ia menjadi anak saleh. Sifat dewasanya yang melampaui rata-rata anak seusianya menjadi penyejuk bagi orang tuanya. Anak itu tumbuh baik dan didewasakan oleh keadaan.
Ia telah terbiasa dengan kabar yang datang tiba-tiba. Sampai di benaknya tertanam bahwa ia harus menjadi orang yang mampu memberikan kebahagiaan kepada ibunya.
Sejatinya, ada satu ayat dalam Al-Qur’an yang artinya:
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Asy-Syarh: 5)
Anak semata wayang itu kini benar-benar menjadi penyejuk hati bagi ibunya. Suaranya yang merdu, bacaan Al-Qur’annya, dan kefasihan lisannya dalam membaca Al-Qur’an sangat menenangkan jiwa bagi yang mendengarnya.
Bahkan ketika mengumandangkan azan, ia sering mendapatkan pujian. Ketika mengikuti lomba azan, ia pun sering menjadi pemenang.
Allah Swt. memberikan kemudahan di setiap kesulitan hamba-Nya. Sejatinya, hidup bukan hanya tentang beratnya ujian yang diterima, tetapi juga tentang bagaimana sikap kita dalam menghadapi ujian tersebut. Keberkahan pun bukan dihitung dari harta yang melimpah, melainkan dari seberapa banyak kebaikan yang bertambah.
Semoga Tahun Ini Bisa Berkurban
Sebenarnya banyak guru pilihan yang kisahnya sangat berkesan. Akan tetapi, perasaanku mengatakan bahwa Ummu Azka adalah guru yang pantas mendapatkan kesempatan. Ia berhak mendapatkan hadiah hewan kurban karena selama hidupnya belum pernah merasakan berkurban atas nama dirinya sendiri atau keluarga kecilnya.
Untuk memastikannya, aku memberanikan diri menanyakan hal yang ingin aku utarakan.
“Apakah Ummu Azka pernah berkurban seekor kambing untuk diri sendiri atau keluarga kecil panjenengan, Um?” tanyaku hati-hati.
“Belum pernah sama sekali, Bu. Sebenarnya ingin banget merasakan bagaimana rasanya berkurban,” jawabnya sambil menahan air mata.
“Pernah berusaha menabung uang agar bisa membeli seekor kambing, menabung sedikit demi sedikit. Tetapi qadarullah, ya begitulah. Terpaksa diambil lagi untuk menutup kebutuhan membayar kontrakan, bahkan untuk hidup sehari-hari atau membeli obat ketika pekerjaan suami sedang sepi,” lanjutnya dengan air mata tertahan.
Tak kuat aku bertanya lebih mendalam. Terlebih, aku juga tahu suaminya seorang pekerja keras. Namun, dalam sistem kapitalis saat ini, kehidupan jarang berpihak kepada rakyat biasa.
Terlahir dari latar belakang keluarga dengan kondisi ekonomi biasa dan tanpa privilese, membuat Ummu Azka dan suaminya harus berjuang lebih kuat dalam derasnya arus kehidupan.
Di sela aktivitas dakwahnya, pasangan itu saling menguatkan karena mereka sadar bahwa keluarga adalah alasan untuk tetap bertahan. Putra kesayangannya membutuhkan pendampingan agar bisa menjadi calon ulama sebagaimana yang mereka cita-citakan.
Bu Guru, meski saat ini kesenangan dunia tidak berpihak kepadamu, hidupmu sungguh penuh berkah. Karena sejatinya, keberkahan tidak diukur dari harta yang berlimpah, tetapi dari seberapa banyak kau berjuang di medan dakwah. Seberapa banyak kau memberikan cahaya dalam kegelapan bagi para muslimah.
Pada momen menjelang Iduladha ini, aku ingin dan berdoa agar dirimu bisa berkurban seekor kambing sebagai pembuka kurban pertama sepanjang hidupmu.
Aku tahu dirimu ingin sekali berkurban. Namun, apa daya, sistem ini belum berpihak kepadamu. Masalah kesehatanmu yang sering berbenturan dengan rumitnya urusan BPJS membuatmu harus meningkatkan kesabaran.
Dirimu telah berkorban dalam banyak hal dan aku yakin Allah telah menyiapkan pahala yang besar untukmu.
Semoga harapan yang belum terkabul, yakni berkurban seekor kambing untuk dirimu sendiri, bisa segera terealisasi. Usaha telah kamu lakukan. Menabung setiap bulan untuk bisa membeli hewan kurban impian pun telah berjalan.
Mungkin Allah belum menakdirkannya sehingga setiap terkumpul sedikit uang tabungan untuk kurban, ujian itu datang. Uang tabungan yang pas-pasan terpaksa kau relakan untuk kebutuhan yang lebih mendesak.
Dari lubuk hati yang terdalam, aku menuliskan ini dengan doa dan kesungguhan untuk seorang guru yang tetap semangat berkhidmat untuk umat, meski hidupnya sendiri terasa berat.
Wallahualam bissawab. [Ni/EKD]
Special love for Ummu Azka, my best teacher in life.
Baca juga:
0 Comments: