Headlines
Loading...
Awan Abu-Abu dan Iman yang Tak Pernah Padam

Awan Abu-Abu dan Iman yang Tak Pernah Padam

Oleh: Heni Puji Astuti
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com— Awan abu-abu sisa ledakan masih bertebaran di antara tanah, mengudara, dan mengotori langit Gaza. Realitas pilu ini bukan lagi sekadar deretan teks atau tontonan di layar gawai kita. Ini adalah jeritan nyata, sebuah panggilan yang membakar jiwa: apakah kita masih memiliki hati untuk peduli kepada saudara kita di Palestina?

Setiap detik, langit mereka melahirkan hujan bom yang mengerikan. Mereka berlarian di antara maut, mencari perlindungan yang semu. Banyak yang tak sempat melarikan diri, terkubur di bawah reruntuhan rumah dan gedung yang hancur porak-poranda. Dampak konflik berkepanjangan ini telah menghapus wajah kota mereka.

Pertama, mereka kehilangan tempat untuk pulang. Rumah yang penuh kenangan kini rata dengan tanah akibat kezaliman yang ingin menguasai bumi para nabi. Di atas puing-puing itu, mereka mendirikan tenda darurat, menantang dingin dan nestapa.

Kedua, demi bertahan hidup, mereka harus mengantre berjam-jam hanya untuk mendapatkan seteguk air bersih. Andai kejadian itu menimpa kita, mungkin kita sudah menyerah dan mengeluh. Namun, lihatlah, senyum anak-anak Gaza enggan padam.

Meski sekolah mereka hancur berkeping-keping, semangat menuntut ilmu tak pernah luntur. Di sela-sela tenda pengungsian, jemari kecil mereka membalik lembaran suci Al-Qur'an yang setengah terbakar. Mereka membaca firman Allah dengan suara bergetar, tetapi penuh keyakinan.

Keteguhan moral ini menjadi bukti nyata bahwa fisik mereka boleh saja dikungkung, tetapi jiwa kemerdekaan mereka tetap membubung tinggi menembus batas langit.

Mengapa derita mereka harus menjadi derita kita? Di mana ikatan kemanusiaan kita? Rasulullah saw. mengingatkan bahwa umat Islam adalah satu tubuh. Jika ada bagian yang terluka, seluruh tubuh akan merasakan sakit dan tidak dapat tidur.

Luka Gaza adalah luka kita. Jangan pernah egois dengan beranggapan, "Negaramu adalah urusanmu, negaraku adalah urusanku."

Sebagai sesama manusia, memalingkan wajah dari genosida ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap nurani kita sendiri.

Di balik air mata itu, Allah Swt. memberikan janji nyata dalam Al-Qur'an, Surah Ali 'Imran ayat 139:

"Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman."

Mari kita langitkan doa terbaik untuk keselamatan dan ketabahan masyarakat Palestina. Jangan hanya menyisihkan rezeki untuk membayar pajak dunia dan kesenangan pribadi. Salurkan donasi terbaik kita melalui lembaga sosial yang tepercaya.

Langkah nyata kita hari ini, sekecil apa pun bentuknya, akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa kita tidak tinggal saat kezaliman merajalela. Buktikan kepada dunia sekarang juga bahwa persaudaraan iman kita jauh lebih kuat daripada bom-bom yang menghancurkan tanah mereka.

Derita Palestina adalah ujian bagi kemanusiaan kita semua yang harus kita menangkan bersama.

Magetan, 28 Agustus 2026

[US/Ekd]

Baca juga:

0 Comments: