Oleh: Resti Ummu Faeyza
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Banjir dan longsor yang melanda Aceh pada 25 November 2025 lalu masih menyisakan duka yang mendalam. Bagi masyarakat yang tidak mengalaminya secara langsung, bencana mungkin hanya menjadi angka dalam laporan berita. Namun, bagi para korban, bencana berarti rumah yang hilang, mata pencaharian yang terputus, anak-anak yang kehilangan rasa aman, serta keluarga yang harus memulai hidup dari awal.
Di tengah proses pemulihan yang masih berlangsung, pemerintah tetap menjalankan berbagai program nasional, termasuk pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai pendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pembentukan Koperasi Desa Merah Putih. Dari sudut pandang pembangunan nasional, langkah ini dapat dipahami sebagai upaya menjaga agar agenda strategis negara tetap berjalan.
Aceh Tamiang, sebagai salah satu wilayah yang terdampak banjir, hingga kini masih menyisakan kerusakan. Kehidupan masyarakatnya pun belum sepenuhnya pulih. Namun, di tengah kondisi tersebut, pembangunan SPPG dan Koperasi Desa Merah Putih justru tetap dilaksanakan. Beberapa video amatir memperlihatkan bangunan kedua program tersebut berdiri di tengah permukiman yang terdampak bencana dengan kondisi yang masih memprihatinkan. (Serambinews.com, 25 Juni 2026). Pembangunan kedua program tersebut tentu memerlukan anggaran yang tidak sedikit. Bahkan, anggaran tersebut dinilai dapat digunakan untuk mempercepat pemulihan kehidupan masyarakat yang terdampak bencana.
Sebenarnya, persoalan utamanya bukan terletak pada apakah SPPG atau Koperasi Desa Merah Putih merupakan program yang baik atau buruk. Keduanya tentu memiliki tujuan yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Namun, yang menjadi persoalan adalah skala prioritas, terutama bagi wilayah-wilayah yang masih terdampak bencana.
Dalam Islam, skala prioritas merupakan bagian penting dari kebijaksanaan. Syariat tidak hanya mengajarkan apa yang baik, tetapi juga mengajarkan mana yang harus didahulukan.
Rasulullah saw. bersabda,
"Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri." (HR Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa kepekaan terhadap penderitaan orang lain bukanlah pilihan, melainkan bagian dari keimanan.
Al-Qur'an juga mengingatkan,
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa." (QS. Al-Ma'idah [5]: 2)
Ayat ini menunjukkan bahwa ketika saudara kita tertimpa musibah, memberikan pertolongan harus menjadi prioritas.
Dalam pandangan Islam, menjaga jiwa merupakan salah satu tujuan utama syariat. Karena itu, ketika masyarakat kehilangan tempat tinggal, akses terhadap pangan, maupun rasa aman akibat bencana, pemenuhan kebutuhan dasar menjadi kepentingan yang paling mendesak.
Pembangunan ekonomi tetap penting. Program gizi juga penting. Akan tetapi, membangun masa depan tidak boleh membuat negara kehilangan kepekaan terhadap penderitaan yang sedang dialami rakyat.
Pemimpin dalam Islam bukan sekadar pembuat kebijakan, melainkan pelayan rakyat. Umar bin Khattab pernah berkata bahwa seandainya seekor keledai terperosok karena jalan yang rusak di Irak, ia khawatir akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt. Ungkapan ini menggambarkan besarnya rasa tanggung jawab seorang pemimpin terhadap kesejahteraan rakyatnya.
Karena itu, solusi yang ditawarkan Islam bukanlah menghentikan seluruh pembangunan, melainkan menyusun skala prioritas yang benar. Pertama, memastikan korban bencana memperoleh pemulihan yang layak, seperti tempat tinggal, kebutuhan pokok, layanan kesehatan, pendidikan, dan pemulihan ekonomi. Kedua, setelah kebutuhan mendesak tersebut terpenuhi, program pembangunan jangka panjang dapat terus dijalankan dengan dukungan masyarakat.
Ketiga, seluruh kebijakan hendaknya dilandasi prinsip keadilan, kasih sayang, dan amanah. Keberhasilan pemerintah tidak hanya diukur dari banyaknya proyek yang selesai, tetapi juga dari seberapa besar penderitaan rakyat yang berhasil dikurangi. Pada akhirnya, sebuah bangsa tidak hanya dinilai dari megahnya program pembangunan, tetapi juga dari kemampuannya hadir di sisi rakyat yang sedang terluka.
Islam mengajarkan bahwa kekuatan sebuah pemerintahan bukan hanya terlihat dari ambisinya membangun, melainkan juga dari kepeduliannya merawat mereka yang paling membutuhkan. Sebab, di hadapan Allah Swt., kepemimpinan adalah amanah, dan amanah selalu dimulai dengan mendahulukan kemaslahatan manusia.
Wallahu a'lam. [My/HEM]
Baca juga:
0 Comments: