Headlines
Loading...
Menghindari Depresi dengan Menata Arah Generasi

Menghindari Depresi dengan Menata Arah Generasi

Oleh: Ummu Fahhala
(Pegiat Literasi)

SSCQMedia.Com— Generasi Z kerap disebut sebagai generasi yang paling akrab dengan teknologi. Namun, di balik kemudahan akses informasi, mereka justru menghadapi beban psikologis yang semakin berat. Berbagai survei menunjukkan bahwa banyak anak muda Indonesia diliputi kecemasan terhadap masa depan. Kekhawatiran tersebut muncul karena beragam faktor, mulai dari tekanan media sosial, tuntutan lingkungan, hingga ketidakpastian pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan ekonomi.

Di tengah kondisi tersebut, muncul pula kecenderungan baru. Sebagian generasi muda di berbagai negara mulai mempertanyakan keadaan yang mereka hadapi dan menunjukkan sikap resistensi terhadap berbagai kondisi yang mereka anggap tidak lagi berpihak pada masa depan mereka. Inilah potensi yang diperkirakan dapat menjadi titik balik lahirnya generasi yang lebih sadar dan lebih berani mencari arah perubahan (Kompas.id, 18 Juni 2026).

Fenomena tersebut tidak boleh dipandang sekadar sebagai persoalan psikologis individual. Fenomena ini mencerminkan persoalan sosial yang lebih luas. Kesehatan mental remaja dipengaruhi oleh lingkungan yang terus memberi tekanan tanpa diimbangi ruang yang aman untuk bertumbuh. Komunikasi keluarga, dukungan sosial, dan kepastian masa depan menjadi faktor yang sangat menentukan.

Sementara itu, berbagai laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menunjukkan bahwa ketidakpastian ekonomi, tekanan sosial, serta perubahan lingkungan hidup menjadi penyebab meningkatnya gangguan mental pada kelompok usia muda. Gambaran tersebut memperlihatkan satu benang merah, yaitu bahwa kecemasan generasi muda bukan sekadar masalah individu, melainkan cerminan adanya paradigma pembangunan yang belum sepenuhnya menempatkan manusia sebagai pusat perhatian. Karena itu, penyelesaiannya memerlukan perubahan cara pandang yang lebih mendasar.

Krisis yang melanda dunia saat ini hadir dalam banyak wajah. Kondisi ekonomi yang tidak stabil mempersempit peluang kerja. Persaingan semakin keras. Biaya hidup terus meningkat. Teknologi berkembang sangat cepat sehingga banyak profesi berubah dalam waktu singkat. Pada saat yang sama, media sosial membangun standar hidup yang sering kali sulit dicapai.

Generasi muda akhirnya hidup dalam perlombaan yang tidak pernah selesai. Mereka dituntut tampil sempurna, produktif setiap saat, sekaligus mampu memenuhi ekspektasi yang terus bertambah. Beban seperti ini mudah melahirkan rasa cemas, rendah diri, bahkan putus asa. Ketika arah kehidupan hanya diukur berdasarkan capaian materi, pengakuan publik, dan pencitraan, banyak anak muda kehilangan makna yang lebih hakiki dalam menjalani kehidupan.

Lebih jauh, persoalan tersebut diperparah oleh lemahnya perhatian terhadap pembinaan generasi. Berbagai kebijakan memang telah diluncurkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Namun, pendekatan yang dominan masih banyak berorientasi pada peningkatan keterampilan ekonomi semata. Padahal, pembangunan karakter, ketahanan mental, serta pembentukan kepribadian yang kokoh memerlukan perhatian yang sama besarnya.

Di sisi lain, generasi muda juga sering menerima stigma negatif. Mereka dianggap lemah, mudah mengeluh, atau terlalu sensitif. Pandangan seperti ini justru memperlebar jarak antargenerasi. Padahal, sikap kritis yang muncul dari Generasi Z dapat menjadi energi positif apabila diarahkan dengan benar. Kecemasan mereka dapat berubah menjadi kesadaran. Kesadaran itu dapat berkembang menjadi daya juang. Dari sanalah lahir generasi yang tidak sekadar bertahan, tetapi juga mampu menghadirkan perubahan yang lebih baik.

Pandangan Islam

Islam memandang bahwa pembinaan mental tidak dapat dipisahkan dari pembinaan akidah, akhlak, pendidikan, keluarga, masyarakat, dan kepemimpinan. Karena itu, tanggung jawab melahirkan generasi yang tangguh bukan hanya berada di pundak keluarga, melainkan juga menjadi amanah negara.

Allah Swt. berfirman,

"Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah."
(QS. Ali Imran [3]: 110)

Ayat ini menunjukkan bahwa lahirnya generasi terbaik memerlukan sistem kehidupan yang mendorong tumbuhnya keimanan sekaligus kepedulian sosial.

Dalam perspektif pemikiran politik Islam, Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan dalam kitab Nizham al-Islam, khususnya pembahasan Masyru' ad-Dustur Pasal 7, bahwa negara berkewajiban menerapkan syariat Islam kepada seluruh warga negara muslim. Pada bidang pendidikan, Pasal 165 hingga Pasal 167 menjelaskan bahwa kurikulum harus berlandaskan akidah Islam, membentuk pola pikir dan pola jiwa Islam, serta mengarahkan seluruh proses pendidikan untuk membangun kepribadian Islam yang utuh.

Dengan orientasi tersebut, peserta didik tidak hanya mengejar keberhasilan akademik, tetapi juga memahami tujuan hidup sebagai hamba Allah Swt. Kesadaran inilah yang melahirkan optimisme, kesabaran, dan keteguhan saat menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Allah Swt. juga berfirman,

"Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu."
(QS. Al-Baqarah [2]: 45)

Ayat ini menunjukkan bahwa ketenangan jiwa dibangun melalui kedekatan kepada Allah Swt., bukan semata-mata melalui pemenuhan kebutuhan material.

Praktik tersebut tampak nyata pada masa Rasulullah saw. Beliau membina para sahabat sejak usia muda hingga lahir generasi yang memiliki keberanian, kecerdasan, dan ketahanan mental yang luar biasa. Tokoh-tokoh seperti Ali bin Abi Thalib, Usamah bin Zaid, Abdullah bin Abbas, dan Mus'ab bin Umair tumbuh menjadi pemimpin karena memperoleh pembinaan yang utuh.

Rasulullah saw. juga bersabda,

"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya."
(HR Bukhari, no. 893; Muslim, no. 1829)

Prinsip ini kemudian dijalankan oleh para Khulafaur Rasyidin yang menempatkan pendidikan, kesejahteraan, keamanan, dan pelayanan kesehatan sebagai bagian dari tanggung jawab negara.

Dalam sejarah peradaban Islam, negara juga membangun lembaga pendidikan, perpustakaan, rumah sakit, serta majelis ilmu yang terbuka bagi masyarakat. Negara menjaga ruang publik dari berbagai hal yang merusak moral sekaligus menjamin kebutuhan pokok rakyat sehingga tekanan hidup tidak berkembang menjadi beban psikologis yang berkepanjangan.

Khatimah

Dengan pendekatan yang menyeluruh seperti itu, kesehatan mental generasi tidak hanya ditangani ketika masalah muncul, tetapi juga dicegah sejak awal melalui pembentukan kepribadian yang kokoh, lingkungan yang sehat, pendidikan yang benar, serta kepemimpinan yang bertanggung jawab. Dari sinilah lahir generasi yang tidak tenggelam dalam depresi, tetapi bangkit menjadi generasi yang mampu menghadapi tantangan zaman dengan keyakinan, ilmu, dan keteguhan iman. [Hz/Wa]

Baca juga:

0 Comments: