Headlines
Loading...
Mengapa Gen Z Kian Rentan Depresi?

Mengapa Gen Z Kian Rentan Depresi?

Oleh: Ummu Kayfa Lestari
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com – Hari ini, narasi tentang Generasi Z (Gen Z) kerap dipenuhi paradoks. Di satu sisi, mereka merupakan generasi digital asli (digital native) yang paling melek teknologi dan memiliki akses informasi tanpa batas. Namun, di sisi lain, bayang-bayang rapuhnya kesehatan mental terus menghantui perjalanan mereka. Berbagai survei nasional maupun global mengonfirmasi bahwa Gen Z di Indonesia merupakan kelompok yang paling rentan mengalami kecemasan dan gangguan mental.

Data statistik menunjukkan bahwa sekitar 60 persen Gen Z di Indonesia merasa sangat cemas terhadap masa depan mereka (GoodStats, 8 April 2026). Fenomena ini bukan sekadar histeria sesaat, melainkan alarm keras bahwa Indonesia tengah berada dalam bayang-bayang "generasi cemas" karena anak muda kian rentan mengalami depresi dari waktu ke waktu (Tirto.id, 8 Oktober 2024).

Realitas tersebut mengonfirmasi bahwa Indonesia sedang menghadapi krisis kesehatan mental pada remaja. Hasil Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja Indonesia berusia 10–17 tahun mengalami masalah kesehatan mental, sementara sekitar 2,45 juta remaja mengalami gangguan mental dalam 12 bulan terakhir. Kondisi ini menjadi alarm serius bagi masa depan kualitas sumber daya manusia (Kompas, 11 Juli 2023).

Krisis Multidimensi dan Abainya Negara

Melihat fenomena ini hanya dari sudut pandang personal atau mengambinghitamkan mentalitas individu merupakan sebuah kekeliruan. Gen Z tidak lahir di ruang hampa. Kecemasan massal ini merupakan respons yang logis terhadap krisis multidimensi yang sedang melanda dunia saat ini. Ketidakpastian karier, krisis iklim, hingga tingginya angka pengangguran global menjadi kenyataan yang terus mereka hadapi.

Berdasarkan data ekonomi global, tercatat bahwa ratusan juta Gen Z di dunia saat ini menganggur dan terjebak dalam ketidakpastian masa depan (Kompas, 27 Februari 2026). Kondisi global yang eksploitatif dan tidak menentu tersebut secara alami melahirkan sikap skeptis di kalangan anak muda terhadap janji-janji kesejahteraan universal.

Ironisnya, potensi besar mereka sebagai motor penggerak peradaban justru dilemahkan secara sistemik oleh tatanan peradaban sekuler kapitalistik. Dalam sistem ini, kebahagiaan diukur semata-mata berdasarkan materi dan validasi semu di media sosial yang pada akhirnya merusak jati diri serta fondasi spiritual mereka. Anak muda diarahkan menjadi konsumen yang konsumtif sekaligus buruh yang cemas, bukan menjadi pemimpin masa depan yang berdaulat.

Lahirnya Gelombang Resistansi

Namun, sejarah selalu mencatat bahwa tekanan yang besar akan melahirkan daya dorong yang kuat. Di tengah kepungan depresi dan kecemasan, muncul fenomena menarik berupa lahirnya gelombang resistansi di kalangan Gen Z. Sikap kritis dan ketidakpuasan mereka terhadap status quo belakangan ini mulai berkembang menjadi aksi nyata dan gerakan kolektif.

Kecemasan yang semula bersifat pasif dan destruktif kini bertransformasi menjadi energi perlawanan yang diarahkan ke luar. Gen Z mulai mempertanyakan berbagai kebijakan politik dan ekonomi yang dinilai merugikan masa depan mereka, mengorganisasi gerakan sosial melalui media digital, hingga turun ke jalan menuntut keadilan.

Sikap kritis ini merupakan peluang besar. Hal tersebut menjadi sinyal bahwa Gen Z memiliki potensi untuk bangkit dan mendorong perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.

Mengembalikan Jati Diri Pemuda Emas

Agar gelombang resistansi tersebut tidak berakhir menjadi anarkisme tanpa arah ataupun skeptisisme yang buntu, dibutuhkan alternatif ideologis yang sahih. Dalam pandangan Islam, solusi tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga sistemik. Penerapan Islam secara kaffah (menyeluruh) dipandang mampu menghadirkan rahmatan lil 'alamin, meruntuhkan tatanan kapitalistik yang eksploitatif, serta menggantikannya dengan sistem yang menghadirkan keadilan, ketenangan, dan keselamatan bagi umat manusia.

Sejarah mencatat kuatnya karakter generasi muda pada masa kejayaan Islam. Mereka memiliki kepribadian Islam yang kokoh, yakni pola pikir dan pola sikap yang berlandaskan akidah Islam, sekaligus menguasai berbagai disiplin ilmu, baik sains maupun tata negara. Sosok seperti Muhammad Al-Fatih yang menaklukkan Konstantinopel pada usia 21 tahun serta ilmuwan besar seperti Ibnu Sina merupakan contoh generasi yang lahir dari sistem pendidikan dan politik Islam yang menempatkan pemuda sebagai aset peradaban.

Keberhasilan membentuk generasi emas tidak dapat dilepaskan dari peran negara yang berfungsi sebagai junnah (pelindung) sekaligus pelayan umat. Dalam sistem yang menerapkan Islam secara kaffah, negara berkewajiban menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar setiap warga secara adil, mulai dari pendidikan yang berkualitas dan mudah diakses, layanan kesehatan yang memadai, hingga tersedianya lapangan pekerjaan yang luas.

Ketika kebutuhan hidup dan masa depan generasi muda benar-benar dijamin oleh negara, kecemasan eksistensial yang selama ini menghantui mereka akan berkurang secara signifikan. Dengan demikian, energi, potensi, dan kreativitas mereka dapat diarahkan untuk berkarya, berinovasi, serta memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan peradaban.

Di tengah kondisi saat ini, Gen Z sesungguhnya berada di persimpangan jalan. Mereka dapat terus terjebak dalam lingkaran kecemasan, depresi, dan ketidakpastian yang lahir dari sistem kehidupan yang ada, atau menjadikan berbagai persoalan tersebut sebagai momentum kebangkitan ideologis untuk memperjuangkan perubahan yang mendasar. Oleh karena itu, langkah strategis yang harus ditempuh adalah menyadarkan generasi muda agar mengemban mabda (ideologi) Islam serta menumbuhkan kepedulian yang mendalam terhadap persoalan umat.

Sudah saatnya Gen Z tidak lagi menghabiskan energi untuk meratapi kecemasan yang terus diproduksi oleh sistem kehidupan saat ini, melainkan mengalihkannya menjadi kekuatan untuk memperjuangkan perubahan yang hakiki. Dengan mengembalikan peran pemuda sebagai pengemban peradaban yang sahih, cita-cita menghadirkan masa depan yang cerah dan generasi emas tidak lagi sekadar menjadi angan-angan, tetapi dapat terwujud dalam realitas kehidupan.

Wallahualam bissawab. [My/En]

Baca juga:

0 Comments: