Memadukan Wawasan Global dengan Kepribadian Islam
Oleh: Ummu Fahhala, S.Pd.
(Pegiat Literasi)
SSCQMedia.Com—Pemerintah Provinsi Jawa Barat kembali menghadirkan sebuah inisiatif di bidang pendidikan melalui program pemberangkatan guru dan siswa berprestasi dari Sekolah Manusia Unggul (Maung) untuk mengikuti pembelajaran di Inggris. Program ini diharapkan dapat memperluas cakrawala berpikir, memperkaya pengalaman akademik, sekaligus menjadi sumber inspirasi dalam meningkatkan mutu pendidikan di Jawa Barat. (Detik.com, 2 Juli 2026).
Ilmu pengetahuan bersifat universal dan dapat dipelajari dari mana pun. Akan tetapi, tujuan pendidikan setiap bangsa selalu dipengaruhi oleh nilai dan pandangan hidup yang dianutnya. Melalui sistem pendidikan itulah karakter generasi dibentuk sehingga arah pendidikan pada akhirnya akan menentukan corak peradaban yang dibangun pada masa depan.
Oleh karena itu, ukuran keberhasilan pendidikan tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan mengadopsi praktik terbaik dari negara lain, terlebih dari negara-negara Barat yang berlandaskan sekularisme. Yang lebih penting ialah keberhasilan melahirkan generasi yang bertakwa, berilmu, berkepribadian luhur, serta memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan kemaslahatan masyarakat.
Perspektif Islam
Islam menempatkan pendidikan sebagai sarana membangun manusia seutuhnya. Ilmu tidak hanya dipandang sebagai instrumen untuk memperoleh kedudukan atau manfaat material, tetapi juga sebagai jalan mengenal Allah Swt. sebagai Al-Khaliq dan Al-Mudabbir (Maha Pencipta dan Maha Mengatur), memahami tujuan penciptaan manusia, serta mengoptimalkan potensi diri demi kemaslahatan umat dan tegaknya peradaban yang mulia.
Allah Swt. berfirman, "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS Al-Mujadilah [58]: 11).
Rasulullah saw. juga bersabda, "Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR Muslim No. 2699).
Kedua dalil tersebut menunjukkan bahwa kemuliaan ilmu dalam Islam tidak diukur dari nilai ekonominya semata, melainkan dari kemampuannya membentuk manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, dan mampu memberikan manfaat bagi kehidupan.
Menurut Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, pendidikan memiliki peran yang sangat strategis dalam membangun peradaban Islam. Pendidikan bukan sekadar instrumen untuk menghasilkan tenaga kerja yang dibutuhkan pasar, melainkan proses membentuk kepribadian Islam sekaligus menyiapkan generasi yang sanggup mengemban risalah Islam kepada seluruh umat manusia. Karena itu, seluruh sistem pendidikan harus dibangun di atas fondasi akidah Islam.
Apabila akidah Islam dijadikan dasar penyelenggaraan pendidikan, rujukan utama yang digunakan adalah sistem pendidikan Islam sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw., bukan sistem pendidikan sekuler yang memisahkan ilmu dari agama.
Dalam sistem tersebut, akidah Islam bukan hanya diajarkan sebagai salah satu mata pelajaran, tetapi menjadi landasan berpikir dalam seluruh proses pendidikan. Seluruh disiplin ilmu diarahkan untuk membentuk akliah (pola pikir) dan nafsiah (pola sikap) Islam pada diri peserta didik. Ilmu-ilmu syariat, seperti tafsir, hadis, fikih, usul fikih, bahasa Arab, dan tsaqafah Islam, menjadi fondasi pembentukan kepribadian mereka.
Sementara itu, sains dan teknologi diposisikan sebagai sarana untuk memudahkan kehidupan manusia serta mendukung kemajuan peradaban. Pengembangannya senantiasa berada dalam koridor syariat sehingga pemanfaatannya tidak bertentangan dengan ketentuan halal dan haram serta tetap berorientasi pada kemaslahatan umat.
Dengan demikian, tujuan utama pendidikan bukan sekadar menyampaikan pengetahuan, melainkan membentuk kepribadian Islam melalui penguasaan ilmu secara mendalam. Peserta didik didorong untuk mempelajari setiap disiplin ilmu secara serius hingga mencapai tingkat kepakaran tanpa kehilangan orientasi keislamannya.
Tradisi talaqqi, dialog ilmiah, penulisan karya, dan pembinaan langsung oleh para ulama maupun ilmuwan menjadi bagian penting dalam proses pendidikan. Penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan pun diarahkan agar menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat dan negara.
Negara memikul tanggung jawab penuh dalam menyediakan layanan pendidikan terbaik, mulai dari penyediaan guru yang kompeten, perpustakaan, laboratorium, hingga dukungan pembiayaan yang memadai. Kurikulum disusun secara sistematis agar peserta didik menguasai bidang keilmuannya secara mendalam sekaligus tetap memiliki kepribadian Islam yang kokoh.
Sejarah peradaban Islam membuktikan bahwa sistem pendidikan yang berlandaskan akidah mampu melahirkan generasi yang unggul dalam ilmu pengetahuan tanpa tercerabut dari nilai-nilai keimanan. Rasulullah saw. membina para sahabat dengan menanamkan akidah, adab, dan kecintaan terhadap ilmu.
Tradisi tersebut kemudian berkembang pada masa para khalifah hingga melahirkan pusat-pusat keilmuan yang menghasilkan ilmuwan besar, seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Al-Biruni, dan Ibnu al-Haytham. Mereka menjadi teladan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dapat berjalan seiring dengan ketakwaan kepada Allah Swt. serta pengabdian untuk kemaslahatan umat manusia. [US/EKD]
Baca juga:
0 Comments: