Oleh: Rida Nurjannah
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com — Di zaman sekarang, mengajak anak muda untuk bersekolah atau kuliah mungkin tidak sulit. Namun, mengajak mereka menjadi manusia seutuhnya justru jauh lebih sulit. Pendidikan saat ini meluluskan banyak sarjana, tetapi berapa banyak yang jujur? Berapa banyak yang peduli terhadap umat? Berapa banyak yang memahami tujuan hidupnya? Realitas di lapangan menunjukkan adanya luka besar dalam dunia pendidikan di era kapitalisme.
Data BPS tahun 2024 mencatat biaya pendidikan naik 8,43 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Biaya sekolah favorit bahkan dapat mencapai Rp20 juta per tahun. Artinya, ilmu pengetahuan telah dibanderol dengan harga. Mereka yang memiliki kemampuan finansial memperoleh akses lebih besar, sedangkan mereka yang tidak mampu berisiko tersisih.
Survei Kemendikbud tahun 2023 menunjukkan bahwa 68 persen lulusan SMA/SMK merasa tidak siap memasuki dunia kerja. Empat tahun menempuh pendidikan di perguruan tinggi dengan IPK tinggi, tetapi masih bingung menentukan arah setelah lulus. Kampus dinilai hanya mencetak tenaga kerja, bukan pemikir dan pemimpin.
Kasus bunuh diri pelajar juga dilaporkan meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Perundungan, tekanan akademik, serta rasa tidak percaya diri akibat tuntutan untuk selalu tampil sempurna di media sosial membuat banyak anak tumbuh cerdas, tetapi rapuh secara mental.
Mengapa pendidikan bisa sampai pada titik ini? Sebab, sistem pendidikan saat ini berdiri di atas asas kapitalisme yang memandang pendidikan sebagai komoditas. Sekolah, bimbingan belajar, hingga kursus diukur berdasarkan keuntungan. Tujuannya bukan mencetak manusia yang berakhlak, melainkan menghasilkan produk yang laku dijual kepada perusahaan atau pasar. Guru diposisikan sebagai penjual, sedangkan murid menjadi pelanggan. Sejak sekolah dasar, anak-anak didorong untuk belajar agar menjadi dokter, memperoleh pekerjaan bergaji tinggi, dan hidup kaya. Sangat jarang mereka diarahkan untuk belajar agar menjadi pemimpin yang amanah dan mampu menyejahterakan rakyat. Akibatnya, lahirlah generasi yang hebat dalam mencari uang, tetapi miskin visi dan misi. Selama lebih dari satu abad, kapitalisme membentuk sistem pendidikan, termasuk bagi generasi muslim, dan hasilnya dapat disaksikan saat ini.
Mengganti kurikulum atau mengganti menteri tidak akan cukup selama asas yang digunakan tetap berorientasi pada materi. Solusi mendasarnya adalah mengganti asas pendidikan dari materi menjadi akidah, dari orientasi kerja menjadi orientasi ibadah. Sebab, umat ini tidak hanya membutuhkan lebih banyak sarjana, tetapi juga lebih banyak manusia yang berkepribadian mulia. Islam menawarkan sistem pendidikan yang mampu membentuk manusia seutuhnya.
Islam menjadikan akidah sebagai asas pendidikan, bukan keuntungan materi. Allah Swt. berfirman,
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Karena itu, kurikulum dalam Islam harus seimbang antara ilmu dunia dan ilmu akhirat. Anak dididik mempelajari sains, teknologi informasi, dan berbagai disiplin ilmu lainnya, sekaligus dibekali tauhid, fikih, sirah, serta kepemimpinan.
Islam tidak mengenal pendidikan yang individualistis dan sekuler. Rasulullah saw. memberikan teladan langsung dalam membangun generasi. Beliau mengumpulkan para sahabat di rumah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam selama masa dakwah secara sembunyi-sembunyi di Makkah. Di tempat itulah berlangsung proses tarbiyah jama'iyah, yaitu membina akidah, membentuk kepribadian Islam, dan mengader para sahabat hingga menjadi pilar dakwah dan negara.
Sebagaimana dijelaskan Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Nizhamul Islam,
"Sesungguhnya Rasulullah tatkala mengemban dakwah Islam, beliau memulai dengan membina sekelompok orang untuk dijadikan inti dakwah. Beliau mengumpulkan mereka di rumah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam. Di tempat itulah beliau mengajarkan Islam kepada mereka, membina mereka di atas asas akidah Islam, dan membentuk mereka menjadi kepribadian Islam."
Dalam kitab Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah Jilid 3, beliau juga menegaskan,
"Metode Rasulullah dalam membina para sahabat adalah dengan cara berjemaah. Beliau mengumpulkan mereka, mengajari mereka Al-Qur'an dan Islam, serta mengader mereka hingga terbentuk satu jemaah yang memiliki tsaqafah yang sama, mafahim yang sama, dan qiyadah yang sama."
Dari sinilah dapat dipahami bahwa sekolah dalam Islam bukan sekadar gedung dan kurikulum. Sekolah harus menjadi halaqah tarbiyah yang melahirkan manusia-manusia beriman, berilmu, dan siap memimpin peradaban.
Lebih dari itu, dalam Islam pendidikan merupakan tanggung jawab negara. Rasulullah saw. bersabda,
"Imam (khalifah) adalah raa'in (pengurus) dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Nizhamul Hukmi fil Islam menjelaskan,
"Negara wajib mengurusi urusan umat, termasuk pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Negara tidak boleh membebankan pendidikan kepada individu, karena itu adalah salah satu kebutuhan pokok yang harus dipenuhi oleh negara secara cuma-cuma."
Dengan demikian, pendidikan dari jenjang dasar hingga perguruan tinggi menjadi tanggung jawab negara dan dibiayai melalui Baitulmal. Tidak ada lagi generasi yang terpaksa berhenti sekolah karena faktor ekonomi. Tidak ada lagi orang tua yang harus menjual sawah demi membiayai kuliah anaknya.
Sejarah telah membuktikan lahirnya sosok-sosok besar dari sistem pendidikan Islam. Ada Ibnu Sina yang menjadi dokter sekaligus hafiz Al-Qur'an. Ada Al-Khawarizmi yang menjadi ahli matematika sekaligus ahli fikih. Ada pula Shalahuddin yang dikenal sebagai panglima perang sekaligus ahli ibadah. Mereka memiliki satu kompas yang sama, yakni menjadikan ilmu sebagai jalan untuk meninggikan kalimat Allah.
Wallahualam bissawab. [Ni/PR]
Baca juga:
0 Comments: