Headlines
Loading...

Oleh: Yanti Fariidah
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com—Matahari baru saja tergelincir sedikit dari puncaknya, melemparkan saujana cahaya keemasan yang membakar hamparan pasir putih kekuningan. Di sana, di bawah langit luas yang bersih tanpa sekat, jutaan manusia berkumpul, menanggalkan segala keangkuhan dunia. Semuanya mengenakan helai pakaian yang sama: putih, tak berjahit, lambang kesetaraan mutlak di hadapan Sang Pencipta.

Di salah satu sudut bentangan Padang Arafah yang legendaris itu, seorang perempuan duduk bersimpuh di atas hamparan sajadah tipis. Namanya Najma. Air matanya sejak tadi mengalir tanpa mampu dibendung, membasahi mukena putih yang membungkus tubuhnya. Dadanya bergemuruh hebat. Ada getaran yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Getaran yang bukan lahir dari rasa takut yang mencekam, melainkan dari kerinduan dan kepasrahan yang teramat dalam kepada Sang Pemilik Semesta.

Bagi Najma, melangkahkan kaki hingga dapat bersujud di Padang Arafah adalah sebuah keajaiban yang nyata. Bertahun-tahun lamanya ia hanya mampu menatap gambar Ka'bah dan bukit-bukit batu yang gersang melalui layar kaca atau poster di dinding kamarnya. Setiap kali melihatnya, hatinya selalu berbisik lirih, "Ya Allah, sampaikan juga langkah kakiku ke sana."

Hari ini, pada hari wukuf yang mulia, doa-doa yang dahulu terasa melambung jauh di langit-langit mimpinya benar-benar menjadi kenyataan yang memeluk erat raganya.

"Labbaikallahumma labbaik. Labbaika laa syariika laka labbaik..."

Kalimat talbiyah itu terus menggema, bersahut-sahutan dari jutaan lisan manusia yang datang dari berbagai belahan dunia. Suara mereka bergemuruh bagai ombak lautan, menggetarkan bebatuan gersang di sekeliling Jabal Rahmah. Di tempat mulia ini, tidak ada lagi sekat suku, bangsa, bahasa, maupun status sosial. Kaya ataupun miskin, raja maupun rakyat jelata, semuanya melebur menjadi satu entitas yang rapuh, sama-sama datang mengetuk pintu rahmat dan ampunan-Nya.

Najma mengangkat kedua telapak tangannya tinggi-tinggi. Jemarinya bergetar seiring degup jantungnya yang semakin kencang. Ia merasa dirinya begitu kecil, sekecil butiran pasir di Padang Arafah. Di hadapan keagungan Allah Swt., segala pencapaian duniawi yang selama ini ia banggakan mendadak luruh dan tak lagi memiliki arti.

Satu per satu memori hidupnya berputar kembali dalam ingatan. Najma mengingat masa-masa sulit, kekhilafan di masa lalu, serta tumpukan dosa yang pernah ia lakukan. Di bawah terik matahari Arafah yang membakar, ia menumpahkan seluruh isi hatinya. Ia mengadu, menangis, dan memohon ampunan dengan segenap jiwa yang tersisa.

"Ya Allah, Engkau Yang Maha Mendengar desah napas hamba yang penuh noda ini," bisik Najma di tengah isak tangisnya yang tertahan. "Hari ini, di Padang Arafah-Mu yang suci, hamba serahkan seluruh jiwa, raga, dan sisa umur hamba hanya untuk-Mu. Ampunilah hamba, ya Rahman. Jagalah hati ini agar selalu terpikat pada cinta-Mu dan cinta kepada Al-Qur'an-Mu."

Najma menarik napas dalam-dalam, mencoba meresapi keheningan di tengah riuhnya jutaan doa. Ada kedamaian yang perlahan merayap masuk ke dalam dadanya. Kehangatan yang menepis segala kegelisahan hidup yang selama ini menghantui pikirannya. Itulah getaran indah Arafah—getaran iman yang membersihkan jiwa, memurnikan niat, dan memperbarui janji setia seorang hamba kepada Sang Khalik.

Di sela-sela kekhusyukan ibadahnya, Najma melirik sebuah buku catatan kecil dan pena yang sengaja ia selipkan di dalam tas mungilnya. Ia sadar, pengalaman batin sedahsyat ini tidak boleh menguap begitu saja ditelan waktu. Menulis adalah cara terbaik untuk mengabadikan getaran iman agar tetap hidup, bahkan ketika ia telah kembali ke tanah air.

Bagi Najma, menulis bukan sekadar merangkai kata demi kata di atas kertas kosong. Menulis adalah salah satu jalan dakwah yang sunyi, tetapi menghunjam. Menulis dengan hati, menuangkan setiap jengkal hidayah dan hikmah yang ia rasakan selama perjalanan spiritual ini, merupakan caranya menularkan kebaikan kepada dunia. Ia ingin membagikan getaran indah Padang Arafah kepada mereka yang belum berkesempatan datang agar hati mereka pun ikut bergetar dan merindukan Baitullah.

Dengan jemari yang masih sedikit gemetar karena sisa tangis, Najma mulai menggoreskan pena pada lembar demi lembar buku catatannya. Ia menulis tentang angin Arafah yang bertiup lembut pada sore hari, tentang hamparan manusia berpakaian ihram yang tampak laksana kain kafan pengingat kematian, dan tentang betapa dekatnya jarak antara hamba dan Penciptanya ketika doa-doa dipanjatkan pada waktu mustajab. Setiap kata mengalir begitu saja, jujur dari lubuk hati yang paling dalam.

"Menulis adalah cara kita berdakwah dengan hati," gumam Najma, mengulangi prinsip hidup yang selalu ia pegang teguh bersama komunitas Sahabat Surga Cinta Qur'an. Melalui tulisan-tulisan inspiratif itulah, ia berharap dapat meninggalkan jejak kebaikan yang abadi, sebuah amal jariyah yang terus mengalir meskipun kelak raganya telah menyatu dengan tanah.

Matahari kian bergeser ke ufuk barat, menandakan waktu wukuf di Padang Arafah akan segera berakhir. Langit berubah menjadi jingga kemerahan yang begitu indah, seolah mengantarkan jutaan doa menembus langit. Suasana menjadi semakin syahdu. Jutaan manusia larut dalam zikir dan istigfar, memanfaatkan detik-detik terakhir di tanah penuh kemuliaan itu sebelum bergerak menuju Muzdalifah.

Najma menutup buku catatan kecilnya, lalu mendekapnya erat di dada. Ia mengusap sisa air mata di pipinya. Kali ini, seulas senyum tulus mengembang di bibirnya. Kesedihan dan rasa bersalah atas dosa-dosa masa lalu telah berganti menjadi secercah harapan baru serta kedamaian yang meluap di dalam hati. Getaran indah di Padang Arafah hari itu telah mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.

Ia pulang bukan lagi sebagai Najma yang dahulu. Ia kembali dengan jiwa yang baru, jiwa yang telah dibasuh oleh ampunan-Nya di Arafah, serta jiwa yang bertekad untuk terus mendedikasikan hidupnya demi mensyiarkan keindahan Islam melalui untaian kata dan kecintaan kepada Al-Qur'an. Arafah mungkin akan segera ia tinggalkan secara fisik, tetapi getaran indahnya akan tetap bersemayam di dalam dadanya, abadi selamanya. [My/Ekd]

Baca juga:

0 Comments: