Headlines
Loading...
Generasi Rapuh Akibat Sistem Rusak

Generasi Rapuh Akibat Sistem Rusak

Oleh: Isnawati
(Muslimah Penulis Peradaban)

SSCQMedia.com—Pada 15 Maret 2026, hasil penelitian Princeton University dan SMRC menunjukkan bahwa Generasi Z menjadi kelompok usia dengan tingkat gangguan kesehatan mental tertinggi di Indonesia. Sebanyak 16 persen Generasi Z mengaku mengalami kondisi mental yang buruk, lebih tinggi dibandingkan generasi lainnya. Salah satu faktor yang banyak dikaitkan dengan kondisi tersebut ialah pengaruh media sosial dan tekanan kehidupan modern (SMRC TV, 15 Maret 2026).

Fakta ini menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental pada generasi muda semakin serius. Masalah tersebut tidak hanya terjadi pada sebagian kecil anak muda, tetapi telah menjadi fenomena yang meluas. Di berbagai negara, generasi muda juga menghadapi kecemasan yang serupa. Ketidakpastian masa depan, persaingan hidup yang semakin keras, serta tekanan sosial yang terus meningkat membuat banyak anak muda merasa tidak aman dalam menjalani kehidupan.

Krisis yang Kian Dalam

Banyak pihak menilai media sosial sebagai penyebab utama meningkatnya gangguan mental pada Generasi Z. Memang, media sosial sering menjadi sarana munculnya tekanan psikologis akibat budaya membandingkan diri, tuntutan pencitraan, dan keinginan untuk selalu terlihat sempurna. Namun, jika dicermati lebih dalam, media sosial hanyalah salah satu pemicu, bukan akar persoalan.

Persoalan sesungguhnya terletak pada sistem kehidupan yang membentuk cara berpikir generasi saat ini. Mereka hidup dalam peradaban kapitalisme sekuler yang menjadikan keuntungan material sebagai ukuran keberhasilan. Dalam sistem ini, agama hanya ditempatkan sebagai urusan pribadi, sementara kehidupan publik diatur berdasarkan kepentingan manusia dan keuntungan ekonomi.

Akibatnya, generasi muda tumbuh tanpa landasan keimanan yang kuat. Mereka didorong untuk mengejar kesenangan, prestasi, dan kekayaan, tetapi tidak dibekali pemahaman yang mendalam tentang tujuan hidup. Ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan, mereka mudah kecewa, cemas, bahkan kehilangan arah.

Tidak mengherankan jika banyak anak muda merasa tertekan menghadapi masa depan. Mereka dituntut sukses sejak usia muda, memiliki pekerjaan yang mapan, tampil menarik, dan mengikuti standar yang terus berubah. Ketika gagal memenuhi tuntutan tersebut, sebagian dari mereka merasa dirinya tidak berharga.

Krisis ini semakin diperparah oleh budaya sekuler yang mengikis fungsi keimanan dalam kehidupan. Padahal, keimanan merupakan benteng utama manusia dalam menghadapi berbagai ujian. Ketika benteng itu melemah, tekanan hidup yang sebenarnya dapat dihadapi justru berubah menjadi beban yang sangat berat.

Lebih memprihatinkan lagi, generasi muda saat ini terus dibombardir dengan berbagai gaya hidup yang menjauhkan mereka dari nilai-nilai Islam. Hedonisme, kebebasan tanpa batas, budaya instan, dan berbagai bentuk kemaksiatan dipromosikan sebagai simbol kebahagiaan. Akibatnya, banyak pemuda kehilangan jati diri dan sulit membedakan antara kebebasan dan kerusakan.

Teladan Generasi Peradaban Islam

Dampak dari kondisi tersebut sangat besar. Potensi luar biasa yang dimiliki generasi muda tidak berkembang secara optimal. Ada yang sibuk mencari pengakuan, ada yang terjebak dalam kecemasan berkepanjangan, dan ada pula yang kehilangan tujuan hidup. Padahal, merekalah calon pemimpin yang akan menentukan arah masyarakat pada masa depan.

Berbeda dengan kondisi saat ini, sejarah Islam pernah melahirkan generasi muda yang tangguh dan berkepribadian kuat. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, para pemuda menjadi bagian penting dalam pembangunan peradaban. Mereka dipercaya mengemban amanah besar karena memiliki akidah yang kokoh serta semangat menuntut ilmu yang tinggi.

Abdullah bin Abbas adalah salah satu contohnya. Meski masih muda, ia sering diminta memberikan pandangan dalam berbagai persoalan karena kecerdasan dan kedalaman ilmunya. Abdullah bin Umar dikenal sebagai teladan dalam ketakwaan dan kejujuran. Sementara itu, Zaid bin Tsabit diberi tanggung jawab besar dalam urusan Al-Qur'an karena kapasitas dan integritasnya.

Di bidang lain, banyak pemuda tampil sebagai pejuang yang membawa Islam ke berbagai wilayah dunia. Mereka bukan hanya memiliki keberanian, tetapi juga akhlak yang mulia. Kekuatan mereka tidak lahir dari kemewahan hidup atau fasilitas yang melimpah, melainkan dari keyakinan yang kuat kepada Allah.

Islam mengajarkan bahwa ketenangan sejati lahir dari kedekatan seorang hamba dengan Rabb-Nya. Karena itu, ketika menghadapi kesulitan, seorang Muslim tidak mudah berputus asa. Ia memahami bahwa kehidupan dunia hanyalah bagian dari perjalanan menuju kehidupan yang lebih abadi.

Islam juga mengajarkan pentingnya menjaga diri dan keluarga dari segala hal yang dapat menyeret kepada keburukan. Nilai inilah yang menjadi pengendali agar manusia tidak terjerumus ke dalam perilaku yang merusak diri sendiri maupun masyarakat.

Karena itu, solusi atas krisis generasi saat ini tidak cukup hanya dengan memperbaiki pola penggunaan media sosial atau menyediakan layanan konseling. Langkah tersebut mungkin membantu mengurangi gejala, tetapi tidak menyentuh akar persoalan.

Yang dibutuhkan adalah perubahan mendasar terhadap sistem yang membentuk pola pikir generasi muda. Selama kapitalisme sekuler tetap menjadi landasan kehidupan, berbagai persoalan yang menimpa generasi akan terus muncul dalam bentuk yang berbeda.

Islam menawarkan solusi yang menyeluruh. Syariat Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga mengatur pendidikan, pergaulan, ekonomi, media, dan kehidupan sosial. Ketika seluruh aturan itu diterapkan dalam naungan khilafah, akan lahir lingkungan yang mendukung terbentuknya generasi yang beriman, berilmu, dan bertanggung jawab.

Sejarah pada masa Umar bin Khattab menjadi bukti nyata bahwa generasi unggul bukan sekadar impian. Mereka pernah ada dan pernah memimpin dunia dengan ilmu, akhlak, serta ketakwaan.

Karena itu, jika ingin menyelamatkan Generasi Z dari krisis yang semakin dalam, jalan keluarnya bukan mempertahankan sistem yang telah gagal, melainkan kembali kepada Islam secara menyeluruh dalam naungan syariat Islam dan khilafah. Hanya dengan cara itulah generasi yang hari ini rapuh dapat berubah menjadi generasi yang kuat dan mampu membangun peradaban yang mulia.

Wallahualam bissawab. [Hz/AA]

Baca juga:

0 Comments: